"Mengabarkan Enrekang, Menginspirasi Negeri"
Opini  

Loker Menakutkan Menghantui Gen Z: Jebakan dan Tanda Merah Keluarga



JAKARTA,

Mencari pekerjaan di era sekarang bisa terasa seperti menjalani petualangan yang penuh tantangan. Tidak jarang, seseorang merasa frustrasi setiap kali membuka situs pencarian kerja. Bukan hanya karena sulitnya mendapatkan peluang, tetapi juga karena kualifikasi yang sering kali tidak masuk akal dan membingungkan.

Loker Seram: Kehidupan yang Penuh Kejutan dan Jebakan

Istilah “Loker Seram” sempat viral di media sosial. Istilah ini bukan berarti menakutkan secara mistis, melainkan menggambarkan realita kerja yang seringkali tidak rasional dan membuat para generasi muda merasa tertekan. Mulai dari syarat fresh graduate yang membutuhkan pengalaman 2 tahun hingga posisi yang menuntut seseorang untuk melakukan tugas-tugas beberapa departemen sekaligus, semua hal ini sering ditemui dalam dunia kerja saat ini.

Belum lagi, ketika seseorang berhasil diterima, ternyata statusnya hanya sebagai “mitra kontrak profesional”. Meskipun beban kerjanya sama dengan karyawan tetap, hak-haknya justru lebih sedikit. Tidak ada asuransi, BPJS, atau tunjangan apapun. Ini adalah bentuk perbudakan modern yang semakin marak di tengah kehidupan kerja masa kini.

Gen Z: Generasi yang Bertahan dalam Survival Mode

Nabila (23) dan Arif (24), dua orang dari kalangan Gen Z, menjadi contoh nyata bagaimana mereka harus bertahan hidup di tengah lika-liku dunia kerja yang tidak menjanjikan. Nabila, lulusan baru, mengaku sering ditolak oleh banyak perusahaan. Padahal, ia memiliki kemampuan yang cukup baik, tetapi syarat-syarat yang diberikan sering kali tidak masuk akal. Misalnya, lowongan yang disebut “Entry Level” justru menuntut pengalaman minimal 2 tahun. Hal ini membuatnya merasa bingung dan frustrasi.

Puncak kekesalan Nabila terjadi ketika ia diterima dalam wawancara untuk posisi “Staff Multimedia”, tetapi ternyata tugasnya mencakup banyak bidang, seperti desain grafis, video editing, copywriting, hingga manajemen media sosial. Ia merasa bahwa tugas tersebut seharusnya dilakukan oleh beberapa orang, bukan hanya satu individu.

Red Flag Kekeluargaan: Tanda Bahaya di Dunia Kerja

Meski pekerjaannya banyak, gaji yang ditawarkan dinilai tidak sebanding dengan beban kerjanya. Dalam kasus Nabila, gaji yang diberikan hanya sebesar UMR Jakarta, yaitu sekitar Rp 5.400.000. Alasannya biasanya berkaitan dengan budaya kerja yang “fleksibel dan kekeluargaan”, sebuah istilah yang bagi Gen Z justru menjadi tanda bahaya. Mereka menganggap bahwa istilah ini sering digunakan untuk membenarkan perlakuan yang tidak adil terhadap pekerja.

Nabila akhirnya memilih untuk mundur dari tawaran tersebut dan lebih memilih menganggur sambil mencoba membangun usaha freelance. Baginya, mental tidak boleh hancur di bulan pertama kerja.

Status Mitra: Karyawan Rasa Freelance

Sementara Nabila masih mencari peluang, Arif (24) sudah berhasil mendapatkan pekerjaan, tetapi dengan status yang tidak menjamin kesejahteraan. Arif bekerja sebagai pekerja lapangan di industri konten dan riset. Di atas kertas, statusnya hanya “Mitra Kontrak Profesional”, yang mirip dengan freelancer. Padahal, jam kerjanya dan beban tugasnya hampir sama dengan karyawan tetap.

Akibatnya, Arif kehilangan hak-hak dasar yang seharusnya ia dapatkan. Tidak ada cuti berbayar, tunjangan, atau jaminan kepastian kerja. Ia juga tidak memiliki akses ke BPJS Kesehatan maupun Ketenagakerjaan, meskipun risiko kecelakaan lalu lintas sangat tinggi.

Gaji Boncos Dimakan Bensin

Gaji Arif di atas kertas terlihat cukup, yaitu sebesar UMR Jakarta. Namun, biaya operasional seperti bensin, parkir, makan di jalan, dan servis motor sering kali menghabiskan sebagian besar gaji tersebut. Akibatnya, penghasilan bersihnya jauh di bawah UMR.

Arif juga mengungkapkan bahwa tidak ada sistem reimburse dari perusahaan untuk biaya transportasi. Semua biaya harus ditanggung sendiri, padahal mobilitas kerjanya sangat tinggi.

Terjepit Beban “Sandwich Generation”

Arif tidak bisa langsung resign karena tanggung jawab ekonomi keluarganya. Sebagai anggota “sandwich generation”, ia harus membiayai hidupnya sendiri sekaligus menanggung orang tua yang sudah tidak bekerja dan adik yang masih kuliah. Tagihan bulanan dan UKT kuliah adiknya menjadi beban yang terus-menerus menghantui.

Bagi Arif, resign adalah kemewahan yang tidak bisa ia beli. Ia hanya bisa berdoa agar bisa bertahan tanpa sakit atau kehilangan pekerjaan.

Gen Z: Bukan Generasi Manja, Tapi Generasi yang Berjuang

Nabila dan Arif sepakat bahwa stigma bahwa Gen Z “lembek” atau “kutu loncat” tidak sepenuhnya benar. Mereka ingin bekerja keras dan belajar, tetapi juga butuh dihargai dengan layak, kepastian, dan jaminan agar bisa membangun kehidupan yang sejahtera.

Adriatno Majid

Seorang penulis berita online yang mengutamakan kecepatan dan ketelitian dalam menyampaikan informasi terkini kepada pembaca. Aktif mengikuti perkembangan isu sosial dan digital. Memiliki hobi membaca artikel sejarah, bersepeda pagi, serta memotret momen sederhana yang menarik. Baginya, proses menulis adalah ruang untuk melihat dunia lebih dekat. Motto hidupnya: "Informasi yang jujur adalah fondasi kepercayaan."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *