Pola Makan Anak yang Tidak Seimbang Berdampak pada Perkembangan dan Prestasi
Pola makan anak sering kali dianggap sepele selama si Kecil terlihat kenyang dan aktif. Padahal, apa yang dikonsumsi setiap hari memiliki pengaruh besar terhadap mood, perilaku, hingga prestasi belajarnya di sekolah. Asupan gizi yang tidak seimbang bisa membuat anak lebih mudah lelah, sulit fokus, bahkan emosinya kurang stabil.
Melalui Popmama Talk Januari 2026, dr. Nany Leksokumoro, Sp. GK., Spesialis Gizi Klinik dari Eka Hospital Pluit, menjelaskan bahwa keseimbangan makronutrien dan mikronutrien sangat penting untuk mendukung perkembangan otak dan tumbuh kembang anak secara optimal. Berikut penjelasannya:
Mood dan Prestasi Anak Dipengaruhi oleh Pola Makan
Pola makan anak bukan hanya soal kenyang atau tidak, tetapi juga berdampak besar pada motivasinya belajar, suasana hati (mood), perilaku, dan kemampuan fokus setiap hari. Dokter Nany menyebutkan bahwa makronutrien seperti karbohidrat, protein, dan lemak memainkan peran penting untuk energi dan mood. Karbohidrat, misalnya, membantu menjaga kadar gula darah sehingga mood dan fokus bisa lebih stabil.
“Kalau dari makro, kita sudah kenal protein, karbo, dan lemak. Namun, untuk jangka panjang perlu ketiganya,” jelas dokter Nany saat Popmama Talk Januari 2026. Orangtua perlu tahu bahwa pola makan yang tinggi gula dan makanan olahan dapat memicu sugar crash yang membuat anak mudah marah dan kehilangan konsentrasi. Hal ini sejalan dengan sebuah penelitian yang menunjukkan bahwa diet tinggi gula dan makanan ultra-processed berkaitan dengan perubahan perilaku, kurang fokus, dan mood swing pada anak.
Pemilihan makanan seimbang membantu stabilkan energi dan emosi anak, sehingga lebih siap menghadapi aktivitas sekolah sekaligus mendukung kemampuan akademiknya.
Kekurangan Mikronutrien Bisa Menurunkan Konsentrasi

Bicara tentang pola makan tak seimbang, kita sering fokus pada porsi makanan tapi lupa soal mikronutrien yakni zat gizi seperti zat besi, vitamin, dan mineral yang dibutuhkan dalam jumlah kecil namun sangat penting. Banyak anak yang tampaknya kenyang karena makan banyak nasi atau camilan, tetapi sebenarnya tubuhnya kekurangan mikronutrien penting.
Dokter Nany menyebut contoh kekurangan zat besi, dikenal sebagai salah satu penyebab anemia yang membuat anak mudah lelah, pucat, dan sulit berkonsentrasi di kelas. Dampaknya tidak hanya ke fisik, tetapi juga ke fungsi otak dan kemampuan belajar. “Misalnya anak yang kekurangan zat besi, bagaimana pengaruhnya ke mood? Anaknya jadi lesu, pucat dan kurang mau bersosialisasi. Paling penting di sekolah, konsentrasi anak tersebut menurun. Lalu ketika gurunya menegur dia gampang marah atau temperamen,” jelasnya.
Mengapa Konsumsi Makanan Seimbang Penting untuk Perkembangan Otak?

Dokter Nany menyinggung hubungan antara pola makan seimbang anak dengan kemampuannya menyerap informasi, apalagi jika si Kecil masih dalam proses pertumbuhan. Awalnya mungkin orangtua sulit mengidentifikasi gangguan fokus hingga menurunnya prestasi di sekolah. Jika dilihat lebih dalam, bisa jadi karena tidak seimbangnya asupan gizi yang dibutuhkan si Kecil.
“Memang sesaat tidak mengidentifikasi hal ini, tapi dari hari ke hari akan tampak anak itu, prestasinya kok menurun misalnya dan cenderung diam serta tidak mau bergaul. Dampaknya sangat besar untuk jangka panjang karena anak ini akan gagal dalam tumbuh kembang. Istilahnya sampai masa remajanya selesai,” jelas dokter Nany.
Peran Orangtua: Jadikan Makan Seimbang sebagai Kebiasaan Keluarga

Dalam kehidupan modern saat ini, banyak orangtua bekerja sehingga waktu makan bersama keluarga jadi kurang. Padahal, makan bersama bukan hanya soal nutrisi yang masuk ke piring, tetapi juga tentang kebiasaan pola makan sehat yang ditiru anak. Dokter Nany menekankan pentingnya orangtua, baik papa maupun mama, makan bersama beberapa kali seminggu agar suasana makan jadi nyaman, penuh kasih, dan positif. Ini membantu anak merasa aman dan lebih terbuka menerima makanan baru sekaligus membentuk hubungan emosional yang kuat.
“Jadi usahakan beberapa kali dalam seminggu makan bersama di rumah. Nah, kenyamanan ini yang akan mengkondisikan si Anak untuk menumbuhkan rasa euforia yang senang, secure. Alias punya suasananya menyenangkan untuk makan,” tuturnya. Belum lagi jika makan bersama keluarga juga memberi contoh langsung tentang pilihan makanan sehat, lengkap dengan porsi seimbang nasi, sayur, buah, protein, lemak yang penting untuk kebutuhan gizi si Kecil. Ini tidak hanya mendukung tumbuh kembang fisik, tapi juga stabilkan mood, tingkatkan fokus, dan dorong prestasi anak.
Pendekatan ini sejalan dengan pandangan ahli yang menyebut bahwa nutrisi yang tepat sejak dini membantu emosi, perilaku, dan perkembangan kognitif anak secara menyeluruh. “Jadi papa dan mama juga harus menyantap makanan yang seimbang, ada nasi, sayur, lemak dan buah (agar anak mencontoh),” imbuh dokter Nany.
Penulis yang memulai karier dari blog pribadi sebelum akhirnya bergabung dengan media online. Ia menyukai dunia tulis-menulis sejak sekolah. Hobinya adalah traveling, membaca novel klasik, dan membuat jurnal harian. Setiap perjalanan dan interaksi manusia selalu menjadi bahan inspirasinya. Motto: "Setiap sudut kota punya cerita yang patut dibagikan."











