Permintaan Petani Desa Rias untuk Tambahan Kuota Pupuk Subsidi
Petani di Desa Rias, Kecamatan Toboali, Kabupaten Bangka Selatan, Kepulauan Bangka Belitung mengeluhkan penurunan tingkat keasaman tanah akibat penggunaan pupuk kimia dalam jangka panjang. Hal ini menjadi salah satu masalah utama yang memengaruhi produktivitas pertanian di wilayah tersebut.
Tahang HS, Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Bangka Selatan, menjelaskan bahwa penurunan pH tanah telah menjadi keluhan petani dalam beberapa waktu terakhir. Ia menilai, intensitas penanaman yang meningkat hingga mencapai indeks pertanaman (IP) 300 menyebabkan penggunaan pupuk kimia semakin tinggi. Tanpa dukungan pupuk penyeimbang, kualitas lahan pertanian dikhawatirkan menurun.
Penambahan Kuota Pupuk Subsidi Diperlukan
Pada tahun 2025, alokasi pupuk subsidi untuk Desa Rias mengalami peningkatan signifikan seiring naiknya indeks penanaman dari IP 200 menjadi IP 300. Total penyerapan pupuk tahun ini mencapai 988 ton, terdiri dari 280 ton pupuk urea dan 708 ton pupuk NPK Phonska. Jumlah tersebut meningkat tajam dibandingkan tahun 2024 yang hanya menyerap 558 ton pupuk.
Meski penyerapan pupuk meningkat, Tahang menilai alokasi yang ada masih perlu disesuaikan dengan kondisi lahan saat ini. Ia menyebutkan, idealnya penggunaan pupuk urea yang sebelumnya sekitar 125 kilogram per hektare perlu ditingkatkan menjadi 200 kilogram per hektare. Sementara untuk pupuk NPK Phonska, kebutuhan mencapai sekitar 300 kilogram per hektare agar tanaman tetap memperoleh unsur hara yang seimbang.
Selain penambahan urea dan Phonska, petani juga berharap pemerintah dapat memasukkan pupuk lain ke dalam kuota subsidi tahun 2026. Pupuk seperti kapur pertanian, dolomit, pupuk organik, serta SP36 dinilai sangat dibutuhkan untuk menaikkan pH tanah dan memperbaiki kesuburan lahan sawah.
Harga Pupuk Subsidi Turun, Membantu Petani
Harga pupuk subsidi turun, dengan cekatan seorang distributor pupuk subsidi di Desa Rias, Tahang HS memeriksa kondisi dan jumlah karung pupuk yang tersimpan di gudang penyimpanan. Pengecekan dilakukan untuk memastikan ketersediaan serta kelancaran penyaluran pupuk subsidi kepada petani sesuai kuota yang telah ditetapkan.
Diketahui, penyerapan pupuk subsidi di Desa Rias mengalami lonjakan signifikan sepanjang tahun 2025. Tercatat total kebutuhan pupuk untuk tahun 2025 mencapai 988 ton, meningkat tajam dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya 558 ton. Kenaikan ini dipicu oleh peningkatan indeks penanaman (IP) petani serta kebijakan pemerintah pusat yang menurunkan harga pupuk subsidi hingga 20 persen.
Penurunan harga tersebut dinilai sangat membantu petani dalam menekan biaya produksi pertanian, terutama di tengah fluktuasi harga hasil panen. Untuk pupuk urea, harga yang sebelumnya Rp2.250 per kilogram kini turun menjadi Rp1.800 per kilogram. Sementara itu, pupuk NPK Phonska yang sebelumnya dijual Rp2.300 per kilogram kini menjadi Rp1.840 per kilogram.
Distribusi Pupuk Subsidi Berjalan Lancar
Seluruh penyaluran dilakukan sesuai mekanisme yang berlaku. Mulai dari alokasi hingga penebusan pupuk oleh petani yang terdaftar dalam Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK). Adapun khusus IP 300 pihaknya menyalurkan pupuk subsidi untuk petani. Pupuk tersebut dialokasikan bagi 25 dari total 35 kelompok tani yang melakukan penanaman IP 300.
Tujuannya guna meningkatkan hasil produksi padi dan mendukung program ketahanan dan swasembada pangan. Kebutuhan pupuk subsidi bagi petani padi pada masa tanam IP 300 untuk 25 kelompok sebanyak 250 ton. Per satu hektare lahan akan mendapatkan alokasi sebanyak 400 kilogram pupuk dengan dua jenis berbeda-beda.
Harapan Petani untuk Peningkatan Produksi
Meski demikian, Tahang menyampaikan sejumlah harapan dari para petani ke depan. Salah satunya adalah penambahan kuota pupuk subsidi, terutama pupuk yang dapat memperbaiki kondisi tanah sawah. Ia menyebutkan, kualitas tanah pertanian di Desa Rias mengalami penurunan pH akibat penggunaan pupuk kimia dalam jangka panjang.
Tak hanya pupuk, petani Desa Rias juga mengharapkan dukungan sarana produksi pertanian (saprodi) lainnya, seperti bantuan benih unggul dan pestisida. Dengan dukungan tersebut, diharapkan produktivitas pertanian dapat terus meningkat seiring dengan bertambahnya indeks penanaman.

Reporter berita yang mengutamakan akurasi dan objektivitas. Ia memiliki ketertarikan pada isu sosial dan ekonomi, serta mengikuti perkembangan dunia digital. Waktu luangnya dihabiskan untuk membaca laporan penelitian, mendengarkan podcast edukasi, dan berjalan santai di taman kota. Motto: "Fakta adalah kompas bagi setiap penulis."











