"Mengabarkan Enrekang, Menginspirasi Negeri"

PAPDI Cirebon Dilantik, 84 Dokter Spesialis Berkomitmen Lebih Terbuka kepada Publik

Pelantikan Pengurus PAPDI Cirebon: Tantangan dan Harapan di Era Digital

Pelantikan pengurus Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam (PAPDI) Cabang Cirebon tidak hanya menjadi acara resmi organisasi, tetapi juga menjadi momen penting untuk menyampaikan pesan-pesan strategis bagi para dokter spesialis penyakit dalam. Acara yang berlangsung di salah satu hotel di Jalan Brigjend Dharsono, Kabupaten Cirebon, pada Sabtu (20/12/2025), turut dihadiri oleh Ketua Umum Pengurus Pusat PAPDI, dr Eka Ginanjar.

Pesan Penting dari Ketua Umum PAPDI

dr Eka Ginanjar menekankan bahwa PAPDI adalah wadah yang harus mampu mengayomi seluruh anggota, khususnya di wilayah Cirebon. Saat ini, PAPDI Cirebon memiliki 84 dokter spesialis penyakit dalam yang menjadi kekuatan kolektif. Ia menilai bahwa jumlah tersebut bukan sekadar angka, melainkan semangat untuk saling menjaga kompetensi, kesejawatan, dan kolegialitas.

Selain itu, ia menyoroti pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam upaya peningkatan kesehatan masyarakat. Menurutnya, kerja sama dengan organisasi profesi lain, pemerintah, dan pihak swasta sangat diperlukan agar program-program kesehatan bisa berjalan optimal.

Perubahan Regulasi Kesehatan Pasca UU 17/2023

dr Eka juga menyampaikan perubahan regulasi kesehatan yang terjadi pasca terbitnya Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023. Salah satu perubahan utama adalah bagaimana seorang dokter bisa praktik secara langsung tanpa melalui organisasi profesi. Meski begitu, ia berharap PAPDI Cirebon tetap menjadi rumah bersama bagi para internis di daerah.

Tantangan Kepercayaan Publik di Era Media Sosial

Di sisi lain, dr Eka mengungkapkan tantangan kepercayaan publik terhadap profesi dokter di era media sosial. Ia mengakui bahwa arus informasi kesehatan di media sosial sering kali membuat masyarakat sulit membedakan mana informasi benar dan mana yang salah. Selain itu, ia jujur mengatakan bahwa profesi dokter masih kurang dekat dengan media sebagai sarana edukasi.

Menurutnya, dokter penyakit dalam memiliki tanggung jawab besar untuk memberikan edukasi yang benar tentang penyakit kronis seperti diabetes, hipertensi, penyakit jantung, dan penyakit paru-paru. Ia berharap keilmuan tersebut dapat disampaikan ke masyarakat melalui media.

Program Kerja yang Terfokus

Ketua PAPDI Cabang Cirebon terpilih periode 2025–2028, dr Mohamad Luthfi, menyatakan siap menerjemahkan pesan tersebut ke dalam program kerja nyata. Ia menyebutkan beberapa masalah kesehatan yang menjadi fokus PAPDI Cirebon ke depan, antara lain:

  • Angka kematian ibu dan bayi
  • Tuberkulosis paru
  • Stunting
  • Pelayanan penyakit tidak menular seperti kanker, penyakit jantung, dan penyakit ginjal

Ia menegaskan bahwa seluruh program tersebut tidak bisa berjalan sendiri tanpa kolaborasi dengan stakeholder, baik organisasi profesi lain maupun pemerintah daerah.

Tiga Hal Utama yang Akan Diperkuat

Menjawab soal krisis kepercayaan publik terhadap layanan kesehatan, dr Luthfi menegaskan bahwa PAPDI Cirebon akan memperkuat tiga hal utama, yaitu:

  1. Kompetensi anggota

    Peningkatan kemampuan profesional dokter spesialis penyakit dalam menjadi prioritas utama.

  2. Etika kedokteran dan etika pelayanan

    PAPDI Cirebon akan memastikan bahwa setiap anggota menjunjung tinggi nilai etika dalam praktek medis.

  3. Komunikasi yang efektif

    dr Luthfi menilai bahwa banyak persoalan kesehatan muncul karena miskomunikasi antara dokter dan pasien. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya komunikasi yang baik antara dokter dan masyarakat.


Kaila Azzahra

Penulis berita yang menggemari liputan ringan seputar tren, hiburan, dan dunia kreatif. Ia hobi mendengarkan musik pop, membuat catatan ide, dan memotret suasana kota. Menurutnya, kreativitas lahir dari rasa bahagia. Motto: "Tulislah apa yang bisa memberi senyum."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *