Peran Teknologi dalam Meningkatkan Kualitas Kopi di Lampung Barat
Indonesia dikenal sebagai salah satu negara produsen kopi terbesar di dunia. Namun, meskipun memiliki potensi besar, sektor hulu produksi kopi masih mengandalkan metode tradisional yang sangat bergantung pada faktor alam. Hal ini terutama terlihat di wilayah Lampung Barat, yang merupakan salah satu kawasan penghasil kopi robusta terbesar kedua di Indonesia.
Kondisi ini membawa tantangan tersendiri bagi para petani kopi. Salah satu proses yang paling krusial adalah pengeringan biji kopi. Dalam cara tradisional, pengeringan dilakukan dengan memanfaatkan sinar matahari, yang bisa memakan waktu berminggu-minggu bahkan hingga sebulan jika cuaca tidak menentu. Proses ini tidak hanya memperlambat produksi, tetapi juga meningkatkan risiko penurunan kualitas biji kopi akibat kelembaban berlebih dan kontaminasi mikroorganisme.
Risiko ini berdampak langsung pada harga kopi di tingkat petani, yang cenderung fluktuatif. Selain itu, ancaman cuaca ekstrem bisa mengganggu pasokan kopi untuk ekspor. Oleh karena itu, diperlukan inovasi teknologi untuk memastikan produktivitas dan kualitas kopi tetap optimal.
Pengembangan Mesin Pengering Berbasis Teknologi
Untuk menjawab tantangan tersebut, tim dari Institut Teknologi Sumatra (Itera) bekerja sama dengan Institut Teknologi Bandung (ITB) mengembangkan mesin pengering kopi berbasis polymer super absorbent (PSA). Alat ini didukung oleh pendanaan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia melalui Program Skema Kosabangsa tahun anggaran 2025.
Uji teknis alat ini dilakukan di Pagar Dewa, Lampung Barat, dengan partisipasi Gabungan Kelompok Tani Kopi Mukti Tani yang diketuai Kendro Haryanto. Alat ini mampu menjamin suhu ideal (60°C) selama proses pengeringan, sehingga proses yang biasanya memakan waktu berhari-hari bisa diselesaikan dalam waktu 16-18 jam saja.
Selain itu, mesin ini berhasil mempertahankan kadar air di bawah 12%, sesuai standar ekspor kopi seperti yang ditetapkan oleh Cina. Di samping itu, mesin ini dapat dimodifikasi untuk menggunakan gas hasil pembakaran sekam padi, yang tidak hanya menghemat bahan bakar tetapi juga membantu mengurangi limbah sekam padi.
Sistem Monitoring Berbasis IoT
Untuk memudahkan petani dalam memantau proses pengeringan, tim juga mengembangkan sistem monitoring berbasis internet of things (IoT). Sistem ini dinamai SIMOKO (Sistem Monitoring Pengering Biji Kopi), yang mampu mengukur dan memantau suhu serta kelembaban secara real-time dari jarak jauh.
Dengan data yang terekam, petani dapat membuat keputusan berbasis data yang akurat, memastikan bahwa biji kopi dikeringkan dalam kondisi ideal. Hal ini secara langsung meningkatkan kualitas dan konsistensi produk.
Pengembangan Selanjutnya
Meskipun pengembangan mesin pengering dan sistem monitoring sudah menunjukkan hasil positif, masih ada beberapa hal yang perlu ditingkatkan. Misalnya, sistem monitoring masih menghadapi kendala kestabilan jaringan internet di kawasan Lampung Barat. Selain itu, permohonan paten atas teknologi ini masih dalam proses.
Kapasitas pengeringan juga perlu diuji coba dalam skala yang lebih besar, yaitu tonase (ton). Saat ini, kapasitas pengeringan yang digunakan hanya sebanyak 80 kilogram. Untuk meningkatkan efisiensi, rancangan sistem akan ditingkatkan kompleksitasnya, termasuk meletakkan mesin pengering di dalam green house atau rumah kaca.
Penggunaan green house akan meningkatkan utilitas mesin karena manajemen pembuangan hawa panas yang dihasilkan bisa disirkulasikan kembali ke mesin menggunakan metode sirkulasi internal.
Kesimpulan
Program pengembangan mesin pengering dan sistem monitoring ini memiliki dampak strategis dalam meningkatkan kualitas produksi kopi. Para petani setempat juga mulai menerima adanya inovasi teknologi seperti ini. Selain itu, edukasi akan terus ditingkatkan untuk meningkatkan literasi penerapan teknologi produksi para petani kopi di Pagar Dewa.











