Dalam kehidupan yang penuh tantangan ini, kita semua sering kali dihadapkan pada pilihan-pilihan yang tidak menyenangkan. Seperti dalam situasi ekonomi saat ini, apakah kita akan berganti pekerjaan atau tetap bertahan? Apakah kita akan mengikuti arus atau mencari jalan sendiri? Tampaknya, semuanya terasa sulit dan membingungkan.
Saya sendiri telah mengajar di sebuah bimbel selama hampir setahun. Beberapa tahun lalu, saya pernah bekerja di tempat yang sama, namun hanya bertahan tiga bulan sebelum dipecat tanpa penjelasan jelas. Pada masa itu, saya sangat membutuhkan pekerjaan untuk menopang kebutuhan hidup. Namun, sepertinya Tuhan memiliki rencana lain, dan saya harus berpisah dengan bimbel tersebut.
Kini, saya kembali ke bimbel yang sama karena tidak punya pilihan lain. Meskipun situasinya mirip dengan dulu, saya bersyukur bisa mendapatkan pekerjaan, meski pendapatan tidak pasti. Ada beberapa teman yang tidak sepakat dengan saya, mengatakan bahwa mengajar di bimbel adalah pekerjaan yang stabil. Bagaimana mungkin, kalau honor saya belum juga cair bahkan untuk bulan Oktober dan November 2025?
Setiap awal bulan, bos saya selalu mengucapkan “Semangat” kepada para guru. “Sabar ya, Sir,” katanya. Saya membatin, “Lalu bagaimana dengan kebutuhan saya?” Memang, saya terpaksa menerima nasib, tapi rasa frustrasi tak bisa dipungkiri.
Meski begitu, saya masih bisa bertahan dengan les privat dari mantan murid. Saya berharap bisa terus melanjutkan sampai beberapa bulan ke depan sambil mencari peluang baru. Selain itu, saya juga sedang belajar keterampilan baru seperti digital marketing agar bisa memiliki penghasilan tambahan.
Bicara tentang “semangat”, tentu saja ada dua sisi. Dari sudut pandang positif, Yulia (bos saya) memahami kesulitan para guru. Ia juga turun tangan ketika ada guru yang tidak bisa mengajar. Selain itu, ia memberikan apresiasi yang layak kepada guru-guru, yang jarang diberikan oleh orang tua murid.
Namun, dari sudut negatif, ucapan “semangat” terlalu sering diucapkan dan tidak membawa makna apa pun. Ini justru mengalihkan perhatian dari masalah nyata, seperti pembayaran honor yang tertunda. Selain itu, ucapan ini juga bisa menjadi cara untuk menutupi rasa bersalah atas ketidakmampuan membayar honor tepat waktu.
Bagaimana Yulia dan pimpinan bimbel seharusnya bertindak? Menurut saya, mereka sebaiknya:
1. Jangan terlalu sering mengobral kata “semangat”
Mengucapkan satu kata berulang kali terkesan seperti ritual kosong. Lebih baik gunakan kata-kata penyemangat yang lebih bervariasi dan disertai doa.
-
Berikan apa yang menjadi hak guru
Semangat tidak akan muncul jika hak-hak guru terus diabaikan. Para guru juga manusia yang membutuhkan sandang, pangan, dan papan. -
Jangan sering membuat janji yang tidak direalisasikan
Janji-janji yang tidak terpenuhi hanya menciptakan harapan palsu. Lebih baik langsung melakukan tindakan nyata.
Bagaimana saya dan guru-guru bimbel berkata dan bertindak? Saya memiliki tiga saran:
1. Tetap bekerja dengan baik dan benar
Bekerja dengan sungguh-sungguh adalah kunci kesuksesan. Jangan mengajar tanpa ikhlas, karena ilmu tidak akan tersampaikan maksimal.
-
Jangan hanya bergantung pada satu tempat kerja
Jangan menjadikan satu sumber penghasilan sebagai satu-satunya harapan. Buka mata dan telinga untuk peluang baru. -
Belajar keterampilan baru
Hanya mengandalkan profesi guru mungkin tidak cukup. Belajar keterampilan yang bisa memberikan penghasilan tambahan, seperti menulis atau digital marketing.
Bijaklah dalam berkata. Ucapan “semangat” yang terlalu sering diucapkan bisa menjadi hal yang tidak bijak. Kita perlu komunikasi yang baik dan evaluasi yang jelas. Akhir kata, mari bijak dalam berkata karena masalah tidak bisa diselesaikan hanya dengan perkataan.
Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."











