Sosok dan Kekayaan Bupati Aceh Timur yang Menangis Saat Banjir
Iskandar Usman Al-Farlaky, Bupati Aceh Timur, menjadi sorotan setelah menunjukkan kekhawatiran dan permohonan bantuan kepada Presiden Prabowo Subianto akibat banjir yang melanda wilayahnya. Dalam situasi kritis ini, ia terlihat menangis dan memohon bantuan dari pemerintah pusat, sementara warga masyarakat menghadapi kesulitan ekstrem tanpa logistik dan komunikasi.
Dari berbagai laporan, Iskandar Usman Al-Farlaky memiliki latar belakang pendidikan yang cukup kuat. Ia lahir di Rantau Panjang, Aceh Timur, pada 3 November 1981. Pendidikannya dimulai dari Madrasah Ibtidaiyah Seuneubok Timur, kemudian melanjutkan ke Madrasah Tsanawiyah Darul Falah Seuneubok Johan, dan akhirnya melanjutkan studi di Madrasah Ulumul Qur’an Langsa. Setelah itu, ia masuk ke UIN Ar-Raniry Banda Aceh, tempat ia meraih gelar S.H.I pada tahun 2006. Selain itu, ia juga menempuh pendidikan magister di Universitas Iskandar Muda (UNIDA) Banda Aceh.
Kiprah politik Iskandar Usman dimulai sejak masa kuliah, ketika ia menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) di UIN Ar-Raniry pada tahun 2005. Setelah lulus, ia lebih dulu bekerja sebagai wartawan di Harian Serambi Indonesia, media ternama di Aceh. Pengalaman ini membuka jalan baginya untuk terjun ke dunia politik.
Pada Pemilu 2014, Iskandar maju sebagai calon anggota DPRA dari Partai Aceh dan berhasil meraih 11.306 suara. Lima tahun kemudian, ia kembali terpilih dengan jumlah suara meningkat menjadi 17.416 suara. Di Pemilu 2024, ia kembali memenangkan kursi DPRA dari Dapil 6 Aceh Timur. Namun, ia memutuskan mundur dari jabatannya di DPRA untuk mencalonkan diri sebagai Bupati Aceh Timur. Keputusan ini terbukti tepat, karena ia terpilih sebagai Bupati Aceh Timur dan dilantik pada tahun 2025.
Melalui Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN), kekayaan Iskandar Usman Al-Farlaky tercatat dalam laporan periode 2023. Berikut rincian harta kekayaannya:
- Tanah dan Bangunan: Rp. 3.300.000.000
- Tanah dan Bangunan Seluas 500 m² di Aceh Timur: Rp. 1.000.000.000
- Tanah Seluas 106 m² di Aceh Timur: Rp. 800.000.000
- Tanah Seluas 378 m² di Banda Aceh: Rp. 500.000.000
- Tanah Seluas 2.000 m² di Banda Aceh: Rp. 1.000.000.000
- Alat Transportasi dan Mesin: Rp. 120.000.000
- Mobil Nissan Teana Sedan Tahun 2013: Rp. 120.000.000
- Harta Bergerak Lainnya: Rp. 63.000.000
- Surat Berharga: Rp. —-
- Kas dan Setara Kas: Rp. 250.000.000
- Harta Lainnya: Rp. —-
Sub Total: Rp. 3.733.000.000
Total Hutang: Rp. —-
Total Harta Kekayaan: Rp. 3.733.000.000
Saat ini, Aceh Timur sedang menghadapi situasi darurat akibat banjir. Wilayah ini nyaris kolaps, dengan 24 kecamatan lumpuh dan tiga desa di Serbajadi diduga hilang. Bupati Iskandar Usman Al-Farlaky beberapa kali mengusap air mata saat memohon bantuan langsung kepada Presiden RI, Prabowo Subianto. Ia menyatakan bahwa kerusakan yang terjadi mirip dengan tragedi tsunami 2004. Ia bahkan menggunakan uang pribadi untuk membantu masyarakat sambil bekerja sama dengan TNI–Polri lokal.
Akses Banda Aceh–Medan masih tertutup dari dua arah, sehingga bantuan belum bisa masuk. “Tolong bantu kami, jangan anggap bencana ini sepele,” katanya dengan suara bergetar. Aceh Timur kini berada di ambang kolaps, dengan layanan publik berhenti total, listrik padam, dan distribusi logistik gagal karena akses darat tidak dapat ditembus.
Selain Bupati Aceh Timur, ada dua bupati lain yang menyatakan tidak mampu menangani banjir, yaitu Bupati Aceh Selatan Mirwan MS dan Bupati Aceh Tengah Haili Yoga. Situasi ini menunjukkan bahwa banjir yang melanda Aceh Timur adalah bencana besar yang membutuhkan perhatian serius dari pemerintah pusat dan masyarakat luas.
Jurnalis online yang gemar mengeksplorasi pendekatan storytelling dalam berita. Ia suka menonton film, membaca novel, dan membuat catatan ide setiap hari. Menurutnya, teknik bercerita yang baik dapat membuat informasi lebih mudah dipahami. Motto: “Sampaikan fakta dengan cara yang menyentuh.”











