Dua Panggung, Dua Zaman, dan Hikmah di Balik Lagu
Ada momen-momen dalam hidup yang terasa seperti putaran takdir, datang dua kali, pada jarak waktu yang jauh, namun menyentuh ruang batin yang sama. Bagi saya, pertemuan dengan lagu Laskar Pelangi yang dinyanyikan oleh Giring Ganesha, terjadi dua kali dalam cara yang sangat berbeda: pertama pada 11 Desember 2011, ketika saya masih menjadi bagian dari keluarga besar Bank Syariah; kedua pada 28 November 2025, dalam suasana penutupan Rakernas (Rapat Kerja Nasional) Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI) yang dipenuhi para tokoh penting bangsa.
Dua panggung itu, meski berjarak 14 tahun, memberikan makna yang saling melengkapi. Satu hadir sebagai hiburan penuh energi, satu hadir sebagai refleksi penuh hikmah. Dan di antara keduanya, ada perjalanan hidup penyanyinya, dan perjalanan batin saya sendiri, yang ikut berubah seiring waktu.
2011 – Suara Muda di Panggung Terbuka
Desember 2011, Dunia Fantasi Ancol. Family Gathering Bank Syariah Mandiri siang itu penuh kegembiraan. Ratusan karyawan dan keluarga berkumpul dengan suasana kekeluargaan yang riang. Di tengah keriuhan itu, tampil grup musik yang sedang berada di puncak popularitasnya, sosok sang vokalis tampil enerjik, muda, dan penuh semangat. Ketika Laskar Pelangi dinyanyikan, suasana berubah menjadi hangat. Banyak orang ikut bernyanyi, termasuk saya. Namun yang menarik, pada momen itu ia tidak menceritakan apa pun tentang alasan mengapa ia menjadi penyanyi soundtrack film Laskar Pelangi yang tayang perdana pada 2008. Tidak ada kisah tentang proses kreatif, tidak ada latar belakang emosional. Lagu itu hadir sebagai bagian dari daftar lagu yang ia bawakan bersama band-nya, menghibur, menggugah, tetapi tanpa cerita. Saat itu saya hanya menikmati pertunjukan. Tidak lebih.
2025 – Ruang Penuh Pemimpin, Lagu yang Sama, Makna yang Berbeda
Lalu waktu berjalan. Hingga tiba Rakernas IAEI pada 27-28 November 2025 di Ballroom Ritz-Carlton Mega Kuningan, kegiatan dua hari yang saya ikuti dari awal hingga akhir sebagai anggota pengurus harian. Rakernas ini unik. Para menteri hadir bergantian sebagai Badan Pengurus. Para tokoh nasional, termasuk para mantan wakil presiden, duduk sebagai Dewan Penasehat dan Dewan Pertimbangan. Suasananya formal, tertata, dan penuh wibawa. Lalu malam penutupan tiba. Ketika penyanyi yang sama naik ke panggung, suasananya langsung berubah. Bukan lagi sorotan lampu panggung festival, melainkan sorotan mata para akademisi, pejabat negara, dan penggiat ekonomi syariah yang duduk rapi mendengarkan.
Dan di sinilah keajaiban terjadi. Kisah yang Tidak Pernah Ia Ceritakan pada Tahun 2011. Sebelum menyanyikan Laskar Pelangi, ia mulai bercerita. Kali ini dengan suara yang lebih dewasa, lebih matang, dan lebih sarat makna. Ia bercerita bahwa suatu waktu, ketika ia bersama grup musiknya sedang berada di puncak karier, ibunya memberikan sebuah buku, Novel Laskar Pelangi. “Bacalah dan renungkan,” begitu pesan ibunya. Di tengah padatnya jadwal manggung keliling Nusantara, ia awalnya tidak sempat membaca. Buku itu terbawa ke banyak kota tanpa sempat disentuh. Hingga suatu jeda waktu muncul di tengah padatnya jadwal. Ia membuka buku itu kembali, dan baru kali itu ia membaca dengan sungguh-sungguh. Ia terhanyut. Ia tersentuh oleh kisah anak-anak Belitung, tentang mimpi, harapan, dan perjuangan. Buku itu menamparnya secara halus tapi kuat, memberi perspektif baru tentang hidup, kesempatan, dan rasa syukur. Tidak lama setelah itu, telepon dari Mira Lesmana datang. Sutradara dan produser film Laskar Pelangi itu mengajaknya untuk terlibat mengisi soundtrack film yang tengah diproduksinya. Baginya, itu bukan kebetulan. Itu seperti jawaban dari semesta. Ia menerimanya dengan penuh kesadaran: ini bukan sekadar proyek musik, ini adalah panggilan jiwa.
Cerita tersebut baru ia ungkapkan pada malam penutupan Rakernas IAEI, dengan nada penuh ketulusan. Dan setelah itu, dengan iringan minus one, ia menyanyikan Laskar Pelangi dengan rasa yang berbeda. Dan saya, yang mendengarkan dari deretan depan bersama para kolega, merasakan getaran yang tidak pernah saya rasakan sebelumnya, bahkan di tahun 2011.
Dua Panggung, Dua Hikmah
Dari dua momen itu saya belajar satu hal: Sebuah lagu bisa berubah makna seiring perjalanan hidup kita berubah. Pada 2011, Laskar Pelangi saya dengar sebagai hiburan. Pada 2025, ia berubah menjadi pesan tentang bagaimana takdir bekerja secara halus, melalui buku yang sempat terabaikan, melalui telepon yang datang pada waktu yang tepat, melalui perjalanan seorang musisi yang menemukan makna baru di tengah kesibukannya. Dan, seperti musisi itu, saya pun merefleksikan perjalanan sendiri: bagaimana kita kadang berjalan terlalu cepat, lalu tiba-tiba satu momen kecil, sebuah lagu, sebuah cerita, sebuah pengalaman yang mengajak kita berhenti sejenak untuk mengingat kembali mengapa kita berjuang.
Penutup: Lagu yang Menyapa Dua Kali
Hari itu, di akhir Rakernas, ketika lagu Laskar Pelangi menggema, saya merasa seperti sedang dipertemukan kembali dengan versi lama diri saya, versi yang pernah berdiri di tengah kerumunan Family Gathering tahun 2011, penuh semangat muda dan mimpi-mimpi besar. Kini, 14 tahun kemudian, saya mendengarnya dengan kesadaran yang berbeda. Lebih matang, lebih tenang, dan lebih memahami bahwa perjalanan hidup bukan sekadar tentang mencapai tujuan, tetapi tentang menemukan makna di sepanjang jalannya. Lagu itu menyapa saya dua kali, pada dua zaman yang berbeda. Dan setiap sapaan membawa cahaya baru.











