"Mengabarkan Enrekang, Menginspirasi Negeri"

Dinas PMD NTT Gelar Rakor dan Evaluasi OVOP

Pelaksanaan Program OVOP di NTT

Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menggelar rapat koordinasi (Rakor) dan evaluasi pelaksanaan program One Village One Product (OVOP) atau Program Satu Desa Satu Produk. Kegiatan ini berlangsung di Aula Hotel Sasando Kupang, Kamis (27/11/2025), dengan hadirnya sejumlah pengusaha, mahasiswa hingga instansi terkait.

Program OVOP dinilai penting untuk mendorong hilirisasi produk desa, memperkuat sumber daya manusia (SDM), dan memastikan produk lokal masuk pasar melalui NTT Mart. Pemerintah menekankan pentingnya pengolahan potensi lokal serta pemenuhan standar pasar. Selain itu, HIPMI NTT mendorong kreativitas masyarakat, promosi produk lokal, dan digitalisasi pemasaran, termasuk kerja sama lintas sektor.

Peran OPD dalam Program OVOP

Prof. Tony Basuki, peneliti yang hadir dalam kegiatan ini menyebut OVOP sebagai salah satu program unggulan Gubernur dan Wakil Gubernur NTT. Ia menekankan bahwa produk yang ada perlu menjangkau pasar. Menurutnya, peran setiap Organisasi Perangkat Daerah (OPD) harus dieksplorasi lebih jauh, terutama dalam hal eksekusi dan dukungan terhadap program OVOP.

Hilirisasi menjadi bagian penting agar wilayah seperti desa bisa mengambil porsi lebih besar. Namun, perlu adanya perhatian pada titik hulu. Sisi lain, evaluasi teknologi juga diperlukan untuk menunjang produk yang ada, termasuk ketersediaan SDM yang ikut membantu menggerakkan berbagai produk yang dihasilkan.

Pentingnya NTT Mart

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan NTT, Dr. Drs. Sony Zet Libing, menyatakan bahwa OVOP dan NTT Mart sangat penting. Menurutnya, dengan NTT Mart, produk yang dihasilkan dapat dibawa ke ruang pemasaran. Ia menyoroti bahwa NTT memiliki potensi yang besar, tetapi belum sepenuhnya dimanfaatkan.

Ia berpandangan bahwa kehadiran Pemerintah akan menjaga iklim pasar. Produk yang dihasilkan akan disuplai menuju ke gerai-gerai milik Pemerintah. Ia meminta warga untuk menghasilkan produk. Jika tempat atau pasar disiapkan, maka warga tidak lagi ragu menghasilkan produk. Untuk itu, tidak ada alasan lagi warga untuk malas-malasan memproduksi produk.

Produk yang dihasilkan kemudian didorong agar ada hilirisasi sebelum dipasarkan. Artinya, produk atau potensi yang ada harus diolah lebih lanjut sebelum dijual. Contohnya, ternak sapi hingga ikan dari NTT yang dikirim mentah ke luar Provinsi. Padahal, potensi itu hendaknya bisa dikelola lebih lanjut agar menambah nilai jual, bahkan membuka lapangan kerja baru bagi warga lokal.

Gerakan “Ayo Beli NTT”

Berkaca dari itu, potensi lokal hendaknya bisa diberdayakan. Gerakan “Ayo Beli NTT” menjadi pemicu agar semua warga di NTT memanfaatkan semua produk lokal. Namun, produk yang dihasilkan harus melalui proses dan tahapan agar memenuhi syarat pasar yang telah ditetapkan. Termasuk halal, higienitas, hingga uji BPOM. Pemerintah akan ikut membantu dalam hal ini.

Pendampingan oleh Dinas PMD

Kepala Dinas PMD, Viktor Mmanek, menyatakan pihaknya akan meluncurkan OVOP di setiap desa. Namun, perlu ada kesiapan dari berbagai sisi, termasuk aspek produk hingga adanya intervensi program lainnya. Dinas PMD akan masuk pada desa-desa yang belum tersentuh program lain yang sama. Tahun ini, ada 44 desa yang masuk dalam agenda OVOP. Pada tahun-tahun berikut akan terus bertambah.

Dia mengatakan, Dinas PMD saat ini tengah melakukan pendampingan hingga pelatihan bagi desa-desa yang menjadi intervensi khusus dalam pelaksanaan OVOP. Ia menekankan bahwa OVOP bukan hanya satu desa, kalau produknya sama bisa didorong bareng-bareng.

Masalah yang Terjadi di Lapangan

Viktor mencontohkan ketika sebuah produk yang dihasilkan dengan menggunakan satu peralatan yang sama. Sisi lain, persoalan yang terlihat di lapangan adalah bahan baku dari NTT yang hanya dijual mentah. Bila diolah lebih lanjut, justru akan menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang lebih besar. Misalnya, pisang mentah yang dijual ke luar NTT, akan masuk lagi ke NTT dengan kemasan dan harga yang berbeda bahkan mahal.

Dukungan dari HIPMI NTT

Pengurus HIPMI NTT Wilson Liyanto mendorong agar masyarakat bisa berpikir kreatif dan bersaing secara sehat lewat berbagai kompetisi yang diselenggarakan Pemerintah dari tingkat desa hingga Provinsi. Baginya itu mendorong percepatan, tapi harus ada keterlibatan oleh pihak lain agar produk yang ada bisa berkompetisi.

Sisi lain, dia juga menyebut HIPMI NTT sendiri akan ikut membantu dalam kaitannya dengan promosi produk lokal. Apalagi, HIPMI seringkali melaksanakan berbagai kegiatan dengan pengusaha lain yang ada di luar daerah.

Selain itu, Wilson mendorong Pemerintah agar mendaftarkan NTT Mart ke sistem pemesanan daring. Sebab, pengunjung dari luar daerah pasti akan memanfaatkan pesanan produk secara daring. Demikian juga kolaborasi dengan pemilik rental kendaraan agar tamu atau wisatawan dari luar daerah diajak ke NTT Mart. Skema kerja sama bisa dibicarakan bersama antara Pemerintah dan pemilik rental.

Sehingga kita harus sesuaikan dengan digitalisasi. Pola kerja sama dengan pemilik rental kendaraan juga bisa dilakukan.

Ratna Purnama

Seorang reporter yang gemar meliput isu publik, transportasi, dan dinamika perkotaan. Ia memiliki kebiasaan membaca opini koran setiap pagi untuk memperluas perspektif. Hobi utamanya adalah jogging, fotografi, dan menikmati senja. Motto: "Kepekaan adalah modal utama seorang penulis."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *