"Mengabarkan Enrekang, Menginspirasi Negeri"
Opini  

Ide Bisnis Hijau? Kritik Terhadap Kapitalisme dan Sampah Moral di Era Digital

Dari Skeptis Menjadi Penganut Go Green

Dulu, setiap kali mendengar atau membaca istilah “go green”, saya refleks mendesah kecil. Bukan karena saya membenci alam, tetapi karena frasa tersebut terasa seperti pencitraan paling klise abad ini. Setiap kampanye, setiap produk, bahkan setiap seminar motivasi punya embel-embel go green. Dari botol minum bertuliskan “eco-friendly” sampai kafe yang menanam satu pot kaktus di sudut ruang lalu menyebut dirinya “green space”. Saya dulu menganggapnya lucu, bahkan kadang memakainya sebagai bahan satire atau olok-olokan di tongkrongan. Tapi belakangan, saya mulai berpikir ulang. Barangkali sinisme saya bukan bentuk kecerdasan, tapi pembenaran agar tak repot peduli.

Kita semua tahu, bumi ini sedang tidak baik-baik saja. Suhu global meningkat, es di kutub mencair, udara makin pengap, dan plastik seperti punya nyawa sendiri, selalu kembali, entah di laut atau di lambung ikan. “Go green” ternyata bukan sekadar gaya hidup kekinian, tapi upaya bertahan hidup. Ini bukan tentang tren warna hijau pastel di Instagram, tapi soal bagaimana manusia di masa depan masih bisa bernapas tanpa bantuan oksigen kalengan.

Solusi yang Tidak Harus Muluk-Muluk

Solusinya? Tidak harus muluk-muluk seperti menanam seribu pohon atau membangun PLTA di belakang rumah. Kadang cukup dengan mengurangi yang mubazir. Konsumsi secukupnya, pakai ulang, dan mulai sadar bahwa setiap barang punya jejak. Ingatlah, bahkan setiap kertas yang kamu remas lalu buang, ada pohon yang ditebang untuk memproduksinya.

Kapitalisme yang Ikut Menanam Pohon

Tentu, begitu kesadaran masyarakat meningkat, kapitalisme tak mau ketinggalan. Kapitalisme pun ikut menanam pohon, bukan karena peduli lingkungan, tapi karena tahu gagasan tentang pohon itu bisa dijual. Maka lahirlah apa yang saya sebut green capitalism, yakni gaya hidup hijau versi premium. Air minum isi ulang dikemas ulang, dijual mahal, dan diberi label “eco”. Kaos berbahan daur ulang tapi dikirim pakai plastik tebal dan kardus berlapis. Lucunya, semua itu berhasil membuat orang merasa “berkontribusi”, padahal jejak karbonnya sering kali sama saja.

Tapi ya begitulah. Kapitalisme bisa menjual apa saja, bahkan rasa bersalah. Lalu, masyarakat pun membeli, karena ingin merasa suci, walau hanya lewat sedotan stainless steel.

Go Green Tanpa Sok Hidup

Jadi, ketika kita bicara go green, saya pikir penting untuk tetap waras dan realistis. Tidak semua yang tampak hijau benar-benar tumbuh dari tanah yang bersih. Ada yang tumbuh dari strategi marketing.

Kalau Mau Go Green, Ya Mulailah dari Diri Sendiri!

Saya berpikir, kalau benar ingin ikut go green, bentuknya seperti apa yang paling masuk akal bagi saya? Saya tidak punya lahan luas untuk menanam pohon, tidak punya modal untuk bikin bisnis kompos, dan jujur, kemampuan menanam saya setara anak TK yang sering membunuh tumbuhan karena lupa disiram. Tapi saya punya satu hal, atau setidaknya percaya dengan hal tersebut, yakni kemampuan menulis. Di situlah saya menemukan arah paling masuk akal, yaitu ide bisnis go green berbasis literasi digital. Wow sekali, ‘kan?

Sebagai penulis, saya hidup dari kata-kata. Dan kalau bisa menyelamatkan pohon dengan cara menulis tanpa kertas, kenapa tidak? Maka ide paling masuk akal adalah membuat karya yang bisa dijual tanpa harus dicetak. E-book, artikel eksklusif digital, atau karya tulis lain yang sepenuhnya hidup di dunia maya. Dengan begitu, saya bisa mengurangi konsumsi kertas, sambil tetap menghasilkan nilai ekonomi. Yang lebih penting lagi, saya tetap menjadi diri saya sendiri, tidak berubah jadi aktivis dadakan yang menanam mangrove hanya untuk konten.

Sampah Moral di Era Digital

Kemudian, di sinilah ironi baru muncul ternyata dunia digital juga punya sampahnya sendiri. Bukan sampah plastik, tapi sampah moral. Saya bicara tentang para penjaja e-book bajakan. Mereka dengan entengnya mengedarkan karya digital tanpa izin, seolah karena bentuknya tak berwujud, maka dosanya juga ringan. Padahal, mencuri karya digital sama saja seperti menebang pohon ide seseorang. Kalau bicara go green, seharusnya kita juga bicara soal etika dalam ekosistem digital. Pasalnya, sustainability bukan cuma soal lingkungan, tapi juga soal menghormati kerja dan hak orang lain.

Menjadi Hijau Tanpa Terlihat Sok Hijau

Barangkali sekarang ini kita hidup di zaman aneh. Menjadi peduli lingkungan kini bisa terlihat seperti gaya hidup sombong. Terlalu hijau, dibilang sok suci. Tidak hijau, dibilang biang kerusakan bumi. Maka saya mungkin akan memilih jalan tengah, yaitu melakukan hal kecil dengan konsisten, tanpa perlu memamerkannya tiap saat. Kalau bisa menghemat kertas, saya akan berhemat. Dan kalau bisa membuat karya digital yang bermanfaat, saya pun akan berupaya serius memproduksinya. Bukan karena sedang ikut tren, tapi karena saya ingin hidup lebih ringan, tanpa banyak beban ekologis maupun moral.

Kadang saya berpikir, manusia modern ini sebenarnya mirip anak kecil yang baru sadar rumahnya kotor setelah main seharian. Kita sibuk mencari sapu besar, padahal bisa mulai dengan mengambil satu bungkus sampah sendiri. Begitu juga dengan go green, bukan tentang seberapa besar aksi kita, tapi seberapa jujur niatnya. Ya, siapa tahu dengan menulis produk literasi berbentuk digital, saya tidak hanya menyelamatkan hutan, tetapi juga menyelamatkan diri dari stres tagihan listrik.

Halwa Futuhan

Penulis yang rajin memberitakan kegiatan masyarakat lokal dan peristiwa lapangan. Ia gemar berkunjung ke pasar tradisional, memotret aktivitas warga, dan mencatat percakapan menarik. Hobinya termasuk mendengar musik tempo dulu. Motto: “Cerita kecil sering kali memiliki dampak besar.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *