"Mengabarkan Enrekang, Menginspirasi Negeri"

Ingatkan Bandung Kota Bersejarah dalam Perayaan 71 Tahun KAA, Fadli Zon Tunjukkan Arsip Langka

Peringatan 71 Tahun Konferensi Asia Afrika di Bandung

Peringatan 71 tahun Konferensi Asia Afrika (KAA) digelar di Hotel Savoy Homann Bandung, sebuah tempat bersejarah yang pernah menjadi tempat menginap para delegasi dan pemimpin dunia saat konferensi berlangsung. Acara ini diselenggarakan oleh Kementerian Kebudayaan RI dan dihadiri oleh sejumlah tokoh penting, termasuk Menteri Kebudayaan Fadli Zon.

Fadli Zon menekankan bahwa KAA 1955 melahirkan Dasasila Bandung, prinsip perdamaian, hak asasi manusia, dan non-intervensi. Ia menjelaskan bahwa konferensi ini menjadi tonggak penting dalam diplomasi global, menjadikan Bandung sebagai simbol persatuan antara Asia dan Afrika.

Sejarah Konferensi Asia Afrika

Konferensi Asia Afrika dilaksanakan pada tanggal 18 hingga 24 April 1955, yang dihadiri oleh 29 negara. Pada masa itu, negara-negara yang hadir adalah negara-negara yang baru merdeka atau sedang berjuang untuk meraih kemerdekaan. Dalam enam hari tersebut, para peserta melakukan konferensi dan diskusi yang tajam, terutama terkait bagaimana melahirkan satu prinsip yang kemudian dikenal sebagai Dasasila Bandung atau Bandung Spirit.

Dalam diskusi tersebut, dibahas tentang hak asasi manusia, perdamaian, non-intervensi, dan lain-lain. Diskusi dibagi ke dalam tiga komisi, yaitu politik, ekonomi, dan kebudayaan. Atas dasar hal ini, KAA menjadi salah satu tonggak sejarah besar dalam diplomasi, yang membuat nama Indonesia serta Kota Bandung menjadi semacam ibu kota dari Asia dan Afrika.

Pengaruh KAA dalam Gerakan Non-Blok

Semangat KAA menyebar ke seluruh dunia dan menjadi bagian dari cikal bakal Gerakan Non-Blok pada tahun 1961. Awalnya inisiator lima negara, kemudian berkembang menjadi banyak negara. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya peran KAA dalam membangun kerja sama antarnegara.

Dalam kesempatan tersebut, Fadli Zon juga memperkenalkan dokumentasi foto-foto langka KAA. Arsip foto tersebut menggambarkan secara kronologis jalannya konferensi, mulai dari kedatangan delegasi hingga kegiatan kebudayaan. Foto-foto ini mampu menyampaikan bagaimana keakraban para tokoh dan pemimpin dalam melawan kolonialisme dan imperialisme.

Budaya sebagai Jembatan Diplomasi

Fadli menjelaskan bahwa dalam konferensi tersebut, hal utama yang diperjuangkan bukan hanya kemerdekaan dari politik dan ekonomi, tetapi juga dari sisi kebudayaan dengan tujuan mengembalikan kemerdekaan kedaulatan kebudayaan. Oleh karena itu, Kementerian Kebudayaan berpartisipasi menyelenggarakan kegiatan ini dengan dihadiri oleh para duta besar negara sahabat, anggota DPR dari Komisi X, dan dari DPRD.

Para seniman, budayawan, khususnya yang berada di sekitar Bandung, serta dari perguruan tinggi, akademisi, dan teman-teman media juga turut hadir. Menurut Fadli, budaya merupakan soft power atau kekuatan lunak yang bisa menjadi jembatan, karena seringkali politik menimbulkan konflik dan peperangan, tetapi budaya bisa menyatukan.

Dokumentasi KAA dalam Bentuk Buku

Pada kesempatan itu, Fadli juga membagikan sejumlah buku berisi foto koleksi KAA. Buku tersebut merupakan bagian dari laporan komite atau panitia ketika itu dari berbagai fotografer yang hadir dari mancanegara. Selain itu, pihaknya juga mendapatkan satu album arsip beberapa puluh tahun yang lalu. Album ini bercerita tentang bagaimana mulai dari kedatangan para peserta, suasana sidang, bahkan suasana diskusi, sampai dengan acara kebudayaan dan acara lainnya.

Setidaknya, album ini menggambarkan secara kronologis bagaimana peristiwa KAA terjadi di Bandung. Nantinya, dokumen-dokumen ini akan dijadikan semacam public domain agar dapat dinikmati oleh masyarakat luas.


admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *