Pernyataan Jusuf Kalla tentang Mati Syahid dan Pentingnya Perdamaian
Jusuf Kalla, mantan Wakil Presiden Republik Indonesia, kembali menjadi sorotan setelah menyampaikan pernyataan yang kontroversial terkait makna mati syahid dalam agama. Pernyataannya ini muncul saat ia berbicara dalam acara ceramah Ramadan di Masjid Kampus Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta pada 5 Maret lalu.
Menurut JK, definisi syahid dalam Islam dan Kristen memiliki kesamaan. Ia menyatakan bahwa mati atau menewaskan orang yang tidak seagama bisa dianggap sebagai syahid. Namun, pernyataan ini justru memicu reaksi dari berbagai pihak, termasuk organisasi keagamaan Kristen seperti Gerakan Angkatan Muda Kristen (GAMKI). GAMKI melaporkan JK ke Polda Metro Jaya karena dugaan penistaan agama.
Ketua Umum GAMKI, Sahat Sinurat, menegaskan bahwa agama Kristen tidak pernah mengajarkan bahwa membunuh orang Islam akan membuat pelakunya masuk surga. Menurutnya, ajaran Kristen justru menekankan untuk mengasihi sesama manusia, bahkan musuh sekalipun.
Jihad: Jangan Mencari Musuh
Al-Qur’an memerintahkan umat Islam untuk berjihad, namun jihad yang dimaksud bukanlah tindakan kekerasan atau pembunuhan. Dalam hadis, Nabi Muhammad SAW bersabda, “La tamannsuw liqa’al aduww” (HR. Bukhari/2621), yang artinya “Jangan kalian berharap-harap mencari musuh”.
Pembatasan ini bertujuan agar umat Islam tidak mencari konflik saat situasi aman dan gerakan dakwah Islamiyah tidak diperangi. Namun, ada kasus di mana umat Islam memperjuangkan keyakinannya dengan cara yang tidak sejalan dengan prinsip perdamaian.
JK mengambil contoh konflik Poso dan Ambon pada awal tahun 2000-an, di mana antara umat Islam dan Kristen terjadi perselisihan. Dalam situasi tersebut, doktrin bahwa mati dalam jihad adalah syahid sempat muncul. Namun, setelah konflik reda, kedua kelompok hidup rukun dan damai, sehingga doktrin itu tidak lagi berlaku.
Bunuh Diri Pelaku Teroris
Apakah tindakan seseorang yang menyerang musuh dengan bom sama dengan bunuh diri? Jawabannya adalah tidak. Bunuh diri adalah tindakan yang pasti menyebabkan kematian tanpa ada peluang hidup. Bagi teroris, tindakan mereka selalu berujung pada kematian, bahkan tanpa kesempatan untuk bertahan hidup.
Sebaliknya, pasukan jihad yang maju ke medan perang tidak berprinsip untuk mati di tangan musuh. Jika mereka gugur, maka itu dianggap sebagai syahid dan mendapatkan pahala surga. Sementara itu, tindakan teroris justru dianggap sebagai tindakan konyol yang berujung pada neraka.
Contoh nyata adalah Khalid Ibn Walid, salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW yang dikenal sangat berani dalam perang. Meskipun ia ingin mati syahid, ia tidak pernah melakukan tindakan yang merugikan dirinya sendiri. Hal ini menunjukkan pentingnya memahami perbedaan antara mati syahid dan mati konyol.
Peran Jusuf Kalla sebagai Juru Damai
JK dikenal sebagai sosok yang aktif dalam menjembatani perdamaian antar komunitas. Ia pernah menjadi mediator dalam konflik Poso, Maluku, dan Aceh. Bahkan, ia berhasil merumuskan Perjanjian Malino yang menjadi dasar perdamaian antara kelompok-kelompok yang berselisih.
Selain itu, JK juga pernah diminta oleh Hamas untuk menjadi juru damai antara Israel dan Palestina. Perannya dalam isu-isu perdamaian di Timur Tengah tetap aktif hingga saat ini, terutama dalam menghadapi konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat.
Ajaran Agama Samawi untuk Perdamaian
Ajaran semua agama samawi, termasuk Islam, Kristian, dan Yahudi, pada dasarnya memiliki tujuan yang sama, yaitu membawa perdamaian bagi seluruh umat manusia. Oleh karena itu, konflik yang disengaja dengan alasan agama tidak dapat dibenarkan.
JK menegaskan bahwa saling membunuh bukanlah bentuk syahid, melainkan tindakan yang tidak sesuai dengan ajaran agama. Ia menegaskan bahwa siapa pun yang berkonflik hanya akan masuk neraka, bukan surga.
Kesimpulan
Konflik yang terjadi antar umat beragama harus diluruskan dengan pemahaman yang benar tentang makna mati syahid. Mati syahid hanya terjadi di medan jihad, bukan di medan konflik yang disengaja. Oleh karena itu, penting untuk menjaga nilai-nilai perdamaian dan moderasi dalam beragama.
Wallahul Muwaffiq Ila Aqwamit Thariq.











