Kritik Terhadap Pendekatan Prabowo ke Trump
Mantan Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat, Dino Patti Djalal, memberikan kritik terhadap pendekatan yang dilakukan Presiden Prabowo Subianto terhadap Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Ia menilai bahwa Presiden Prabowo terlalu antusias dalam mencoba mendekati Trump, bahkan sampai mengambil langkah-langkah yang dianggap berlebihan.
Dino menyampaikan pandangannya melalui akun Instagram yang sudah dikonfirmasi pada Jumat 10 April 2026. Menurutnya, ada kesan kuat bahwa Presiden Prabowo terlalu semangat untuk mengejar Presiden Trump. Hal ini bisa dilihat dari beberapa kunjungan yang dilakukan Prabowo, seperti saat mengunjungi Presiden Joe Biden di Washington DC, kemudian saat berada di New York dalam sidang umum PBB, dan juga saat menghadiri World Economic Forum (WEF) 2026 di Davos, Swiss. Terakhir adalah saat Prabowo berkunjung ke Washington DC pada Februari 2026.

Eks Wakil Menteri Luar Negeri, Dino Patti Djalal, memenuhi undangan Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan, Jakarta, 4 Februari 2026. Tempo/Ervana
Menurut Dino, meskipun sah-sah saja Presiden Prabowo bertemu dengan Trump, karena Indonesia memiliki banyak kepentingan dengan Amerika Serikat, tetapi upaya gigih itu tidak berbuah hasil. Prabowo tetap tidak diberi kesempatan untuk pertemuan bilateral di Gedung Putih dengan Trump.
Dino menilai bahwa saat ini sudah waktunya Indonesia mulai mengurangi intensitas pendekatan ke Trump. Alasannya, selama empat bulan terakhir terbukti bahwa Presiden Trump telah berubah menjadi pemimpin dunia yang paling berbahaya. Bahkan, belakangan ini dia dianggap orang Amerika sebagai tidak waras.
Ketua Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) ini juga mengingatkan tentang rekam jejak buruk yang dilakukan Trump, seperti pembunuhan terbuka terhadap pemimpin negara lain dan acuh terhadap norma internasional. Trump dinilai oleh Dino gemar menggunakan kekerasan untuk mendapatkan apa yang dia mau. Ia pun gemar merebut kekuasaan dan wilayah negara lain, serta ingin hegemoni yang ditakuti oleh semua bangsa. “Ia tidak bermoral dan juga tidak bermartabat. Orang bilang Trump has no boundary and no bottom in terms of his actions (Trump dianggap tidak dibatasi oleh norma moral atau etika, dan bisa bertindak sejauh apa pun tanpa batas),” kata Dino.
Menurut Dino, Presiden Prabowo tidak bisa mengubah sifat Trump dengan mengejarnya karena hubungan yang tidak setara. “Percayalah tidak akan ada kesetaraan dalam hubungan dengan Trump. Presiden Trump hanya akan menuntut meledek, mendominasi, merendahkan, mengeksploitasi dan memaksa keinginannya, baik pada sekutu maupun pada sahabatnya termasuk pada Indonesia. Dan ini tercermin dalam perjanjian perdagangan Indonesia – Amerika yang banyak ketimpangan,” kata Dino.
Dino menilai ketimpangan itu pun terlihat pada kasus Board of Peace. Dino melihat bahwa Trump secara eksplisit menjadi bos Prabowo. Mantan Juru Bicara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ini pun mengingatkan agar puji-pujian dari Trump jangan sampai membuat Indonesia terlena. Alasannya, bisa saja suatu hari pujian itu akan berubah menjadi ejekan dan bahkan hinaan. “Dan pujian itu juga tidak ada artinya bagi kepentingan nasional Indonesia,” katanya.
Dino Patti Djalal menyarankan agar Indonesia harus melakukan penyesuaian hubungan dengan Amerika Serikat. Secara birokratis, Indonesia bisa tetap menjaga hubungan baik di tingkat operasional seperti di bidang perdagangan, investasi, teknologi, pendidikan termasuk hubungan antar militer. “Tapi kurangi exposure Presiden Prabowo terhadap Presiden Trump,” kata Dino.











