"Mengabarkan Enrekang, Menginspirasi Negeri"

Strategi Trump Gagal? Mengapa Serangan 6 Minggu Tak Bisa Lumpuhkan Iran

Iran Tetap Berdiri Meski Ditekan AS Selama Enam Minggu

Pengamatan terhadap situasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran menunjukkan bahwa negara ini tetap bertahan meskipun menghadapi tekanan militer selama enam minggu. Kekuatan rudal dan jaringan proksi Iran masih utuh, sehingga mereka mampu mempertahankan posisi strategisnya di kawasan.

Kendali atas Selat Hormuz memberikan Iran keuntungan strategis yang signifikan. Jalur laut ini merupakan jalur utama perdagangan minyak dunia, dan siapa pun yang menguasainya akan memiliki kendali atas harga energi global. Menurut analisis dari sejumlah ahli, penguasaan ini menjadi ancaman serius bagi pemerintahan Trump, karena bisa berdampak pada stabilitas ekonomi dan politik.

Iran Menggunakan Strategi Baru untuk Menghindari Sanksi

Selain itu, Iran juga mulai menggunakan strategi baru dalam menghadapi sanksi ekonomi AS. Mereka mulai menerapkan sistem pembayaran melalui aset kripto dan yuan China, yang membantu menghindari dominasi dolar AS. Dengan metode ini, Iran bisa tetap melakukan transaksi tanpa khawatir diblokir oleh sistem perbankan Barat.

Beberapa hal yang dilakukan Iran antara lain:
* Pembayaran melalui aset kripto: Transaksi yang cepat dan sulit dilacak oleh otoritas perbankan konvensional.
* Menggunakan yuan China: Memanfaatkan sistem CIPS (Cross-Border Interbank Payment System) sebagai alternatif dari SWIFT, yang didominasi Barat.
* Biaya tol tinggi: Untuk satu kapal tanker raksasa, biaya yang dipatok bisa mencapai 2 juta dollar AS atau sekitar Rp 33 miliar.

Sistem CIPS sendiri adalah jalur pembayaran buatan China yang menjadi pesaing SWIFT. Dengan penggunaan sistem ini, Iran dapat menjaga hubungan dagangnya tanpa terganggu oleh sanksi AS.

Perkembangan Terbaru tentang Kekuatan Militer Iran

Menurut laporan terbaru, Iran masih memiliki sekitar setengah dari peluncur misilnya dalam posisi siap tempur untuk beberapa bulan ke depan. Hal ini menunjukkan bahwa Iran tidak hanya bertahan, tetapi juga terus memperkuat kekuatan militer mereka.

Profesor Mohamad Elmasry dari Institut Studi Pascasarjana Doha menyebutkan bahwa target Presiden Donald Trump belum tercapai meski serangan telah berlangsung intens. “AS tidak mampu mencapai tujuannya di Iran dalam waktu sekitar enam minggu pemboman yang cukup intens. Rezimnya (Iran) masih utuh, jaringan proksinya masih utuh, Iran masih memiliki rudal dan drone,” kata Elmasry.

Dampak Ekonomi dan Politik yang Dapat Terjadi

Dampak dari ketegangan ini tidak hanya terbatas pada wilayah geografis, tetapi juga berpotensi memengaruhi stabilitas ekonomi dunia. Karena kontrol Iran atas Selat Hormuz dan penggunaan sistem pembayaran alternatif, kemungkinan besar akan terjadi perubahan dalam dinamika perdagangan internasional.

Beberapa ahli memprediksi bahwa situasi ini bisa menjadi awal dari perubahan besar dalam hubungan internasional, terutama dalam hal dominasi dolar AS. Dengan semakin banyak negara yang mencari alternatif sistem keuangan, dunia mungkin akan melihat pergeseran kekuatan ekonomi yang lebih luas.

Perspektif Masa Depan

Dalam perspektif masa depan, Iran mungkin akan terus memperkuat posisinya dengan menggabungkan kekuatan militer dan strategi ekonomi yang inovatif. Penggunaan teknologi seperti kripto dan sistem pembayaran alternatif bisa menjadi bagian penting dari rencana jangka panjang mereka.


Muhammad Muhlis

Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *