Strategi Jangka Panjang Menuju Kemandirian Energi
Pemerintah Indonesia memiliki rencana ambisius untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar minyak melalui pengembangan etanol. Salah satu langkah utamanya adalah penerapan campuran 20 persen etanol (E20) pada bensin seperti Pertalite dan Pertamax, yang akan diterapkan mulai tahun 2028. Hal ini diungkapkan oleh Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dalam sebuah konferensi pers di Jakarta.
Menurutnya, jika program ini berjalan konsisten selama 10 tahun, Indonesia berpotensi menjadi mandiri dalam hal energi. Etanol akan diproduksi dari molases tebu yang melimpah, sementara teknologi kendaraan fleksibel (Flexible Fuel Vehicle/FFV) sudah mampu menangani berbagai campuran bahan bakar.
Arahan Presiden untuk Pengembangan Etanol
Presiden Prabowo Subianto meminta agar pengembangan etanol terus dilanjutkan secara konsisten. Program ini ditargetkan mampu menggantikan bensin konvensional seperti Pertalite dan Pertamax. “Arahan Bapak Presiden ini nggak boleh putus. Ini kalau konsisten 10 tahun ini bisa kita mandiri (tidak impor),” ujar Amran dalam konferensi pers tersebut.
Langkah ini dipandang sebagai strategi besar untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan bakar minyak. Pemerintah juga sedang memproyeksikan penggunaan campuran etanol sebesar 20 persen atau E20 pada bensin. Artinya, bahan bakar akan terdiri dari 20 persen etanol berbasis nabati dan 80 persen bensin fosil.
Ke depan, pengembangan bahkan diarahkan hingga mencapai E100, yaitu penggunaan etanol murni sebagai bahan bakar. Amran menjelaskan bahwa teknologi kendaraan saat ini sudah mendukung penggunaan bahan bakar fleksibel, khususnya melalui mesin Flexible Fuel Vehicle (FFV).
“Artinya flexi itu bisa (etanol) 20 persen, bisa 70 persen etanolnya dan seterusnya bisa 100 persen. Tapi bisa juga 20 persen,” kata Amran.
Potensi Besar dari Sumber Daya Lokal
Salah satu keunggulan program ini adalah ketersediaan bahan baku dalam negeri. Etanol dapat diproduksi dari molases atau tetes tebu produk sampingan industri gula yang selama ini justru banyak diekspor. “Ini bisa dijadikan dan bisa meng-etanol 300 ribu,” tutur Amran.
Untuk mendukung program tersebut, pemerintah akan melibatkan berbagai pihak, termasuk badan usaha milik negara seperti PT Perkebunan Nusantara yang mengelola perkebunan tebu sebagai sumber utama bahan baku.
Strategi Tekan Impor Energi
Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menyampaikan bahwa implementasi E20 ditargetkan mulai tahun 2028. Kebijakan ini menjadi bagian dari upaya menekan impor bensin yang masih sangat besar. Pada 2025, produksi bensin nasional tercatat sebesar 14,27 juta kiloliter, sementara konsumsi mencapai 37,3 juta kiloliter. Selisih tersebut membuat Indonesia masih harus mengimpor sekitar 23,03 juta kiloliter.
“Kami akan mendorong yang namanya etanol, E20 pada 2028,” ujar Bahlil.
Dari Ketahanan Pangan ke Kemandirian Energi
Pemerintah melihat pengembangan etanol sebagai kelanjutan dari keberhasilan sektor pangan. Setelah fokus pada ketahanan pangan, langkah berikutnya adalah memperluas ke sektor energi berbasis pertanian. “Karena pangan selesai kita beralih ke energi. Dan ini sesuatu keberanian Bapak Presiden, mengambil langkah-langkah strategis, dan fundamental untuk merah putih,” tutup Amran.
Jalan Panjang Menuju Kemandirian
Program etanol bukan solusi instan, melainkan investasi jangka panjang yang membutuhkan konsistensi kebijakan, kesiapan industri, serta dukungan teknologi. Namun jika berjalan sesuai rencana, langkah ini berpotensi mengubah peta energi nasional dari negara pengimpor menjadi lebih mandiri, sekaligus memanfaatkan kekayaan alam sendiri untuk kebutuhan strategis bangsa.
Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."











