Aksi Saling Ejek antara Roy Suryo dan Rismon Sianipar Setelah Pecah Kongsi
Setelah keduanya memutuskan untuk tidak lagi bekerja sama, aksi saling ejek antara dua tersangka kasus tudingan ijazah palsu Presiden Joko Widodo (Jokowi), yaitu Roy Suryo dan Rismon Sianipar, terus berlangsung. Kini, mereka saling mengejek satu sama lain dengan berbagai pernyataan yang menunjukkan ketidakpuasan terhadap tindakan masing-masing.
Rismon Sianipar sebelumnya mengkritik Roy Suryo karena dianggap tidak mampu melakukan riset ilmiah yang layak dan hanya memberikan kontribusi kecil dalam pembuatan buku Jokowi’s White Paper. Kini giliran Roy Suryo yang mengejek Rismon setelah ia meminta maaf langsung kepada Jokowi di Solo. Menurut Roy, tindakan Rismon tersebut dinilai sebagai kesalahan fatal, bahkan lebih parah daripada kesalahan yang dilakukan oleh eks tersangka lain seperti Eggi Sudjana dan Damai Hari Lubis yang juga datang ke Jokowi di Solo.
Roy Suryo menyampaikan rasa prihatin atas keputusan Rismon yang rela jauh-jauh datang ke rumah Jokowi. Ia mengatakan bahwa Rismon adalah sahabatnya, namun ia merasa sedih melihat tindakan tersebut.
“Aduh aku kasihan terus terang sebagai sahabat saya. Saya enggak mengatakan bekas sahabat ya, sahabat saya, saya kasihan kepada Rismon yang harus melakukan rotasi sefatal itu,” ujar Roy saat diwawancara Nusantara TV.
Roy menilai bahwa permintaan maaf Rismon tidak perlu dilakukan hanya untuk mendapatkan penyelesaian melalui jalur restorative justice (RJ). Ia menjelaskan bahwa Eggi Sudjana dan Damai Hari Lubis bisa mendapatkan RJ tanpa harus meminta maaf.
“Ini fatal beneran dia. Kenapa? Eggi Sudjana dan Damai Hari Lubis saja bisa kalau cuman mau mendapatkan RJ, tanpa minta maaf. Dia dia kan ngakunya enggak minta maaf,” tambah Roy.
Ia juga menyebut bahwa Eggi dan Damai masih lebih terhormat dibandingkan Rismon. Menurut Roy, mereka masih memiliki harga diri dan bisa menyampaikan pendapat tanpa malu, sementara Rismon justru memilih untuk meminta maaf.
Rismon Bongkar Kekurangan Roy Suryo dalam Penelitian
Sebelumnya, Rismon Sianipar blak-blakan mengungkapkan bahwa Roy Suryo hanya menulis 50 halaman dari total sekitar 700 halaman dalam buku Jokowi’s White Paper yang ditulis bersama dengan Tifauzia Tyassuma atau Dokter Tifa. Rismon menyesalkan cara kerja Roy yang dianggap tidak mencerminkan sosok seorang peneliti.
Menurut pengakuannya, Roy Suryo tidak menulis temuannya dalam bentuk format resmi yang siap tayang, tetapi melalui pesan singkat yang dikirimkan via WhatsApp. Rismon mengaku perlu mengedit kembali tulisan Roy karena isi pesan tersebut tidak tertata secara rapi.
“Tulisan Anda 50 halaman pertama yang pada buku Jokowi’s White Paper yang Anda kirimkan berupa tulisan dalam WA (WhatsApp), bukan lampiran dalam (format) Word Document. Kemudian saya lakukan export, saya kopi pesan-pesan Anda tersebut yang dikirimkan Bu Tifa, lalu saya kirimkan ke email lalu saya tata dalam bentuk Word Document. Saya lay out sendiri, saya melakukannya untuk Anda,” ujarnya.
Tidak Layak Disebut Riset Ilmiah
Rismon menilai bahwa tulisan Roy Suryo tidak layak dianggap sebagai hasil riset ilmiah. Menurutnya, isi dari tulisan Roy hanyalah artikel-artikel yang biasa ditemukan di media massa, bukan kajian ilmiah digital forensik yang mendalam dan obyektif.
“Tulisan Anda Pak Roy Suryo bagi saya hanya sekadar artikel-artikel seperti yang ada di artikel online. Bukan merupakan kajian ilmiah digital forensik yang mendalam dan obyektif.”
Ia juga menyebut bahwa Roy tidak menjelaskan secara rinci terkait proses penelitiannya menggunakan metode Error Level Analysis (ELA) dan gradien analysis. Rismon menganggap bahwa Roy hanya memasukkan citra digital ke dalam sebuah software tanpa menjelaskan parameter dan threshold yang digunakan.
Tuding Ada Muatan Politis
Selain itu, Rismon menyatakan kekecewaannya terhadap Roy Suryo yang dianggap meremehkan berbagai pihak yang tidak sejalan dengannya dalam kasus ijazah palsu Jokowi. Menurut Rismon, Roy tidak pantas bersikap demikian karena tidak memiliki latar belakang sebagai peneliti.
Ia mengungkapkan bahwa berdasarkan penelusurannya, Roy Suryo tidak pernah menerbitkan riset ilmiah dan terindeks dalam Google Scholar. Google Scholar adalah mesin pencari yang khusus digunakan untuk menemukan literatur akademis seperti jurnal, tesis, buku, hingga laporan teknis.
“Anda tidak memiliki buku, chapter, jurnal, yang tercatat dalam Google Scholar Anda. Tetapi Anda meremehkan semua orang dan mendewakan diri sendiri. Ini yang buat saya kecewa,” katanya.
Rismon juga menuding bahwa ada motif politis di balik tuduhan bahwa ijazah Jokowi palsu. Ia menyatakan bahwa ia keluar dari kasus ini karena curiga adanya afiliasi politik. “Anda mendompleng tulisan saya 480 halaman itu. Ini yang saya tidak suka,” tegasnya.











