"Mengabarkan Enrekang, Menginspirasi Negeri"

Pengamat AS Terlena Kemenangan di Venezuela, Abaikan Ancaman Iran

Analisis Perang AS-Israel dengan Iran

Perang antara Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran dinilai oleh beberapa pengamat sebagai tindakan yang terlalu gegabah. Menurut Stanislaus Riyanta, seorang ahli intelijen dan keamanan dari Universitas Indonesia (UI), AS terlena dengan kesuksesannya dalam menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro dalam waktu singkat. Namun, ia menekankan bahwa karakteristik Iran sangat berbeda dibandingkan dengan Venezuela.

Stanislaus mengatakan bahwa AS dan Israel merencanakan perang dengan Iran secara ceroboh. Ia menyebut bahwa kesuksesan serangan terhadap Venezuela membuat mereka terlalu percaya diri. “Saya kira Amerika Serikat agak gegabah, ceroboh ketika merencanakan perang dengan Iran ini, mereka terlena dengan serangan ke Venezuela yang satu hari selesai,” ujarnya dalam wawancara di Kompas TV, Senin (24/3/2026).

Ia menjelaskan bahwa ketika AS dan Israel membunuh Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei pada 28 Februari 2026 lalu, Iran justru makin kuat untuk membalas serangan tersebut. Menurutnya, banyak pakar menyatakan bahwa senjata yang dimiliki AS hanya cukup untuk berperang selama empat minggu. Oleh karena itu, Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa perang dengan Iran akan berakhir dalam waktu empat minggu.

Namun, hingga pekan ketiga belum ada tanda-tanda kekalahan dari Iran. Akibatnya, AS menggunakan cara lain, yaitu PUS Prop (Perang Urat Syaraf dan Propaganda). Stanislaus menjelaskan bahwa metode ini sudah dilakukan, tetapi PUS Prop Iran lebih unggul karena mereka menguasai Selat Hormuz, yang menjadi salah satu titik pusat jalur transportasi perdagangan dunia.

“Jadi PUS Prop itu perlawanan tidak hanya dengan senjata, tetapi dengan faktor lain, ekonomi misalnya dan Iran memenangkan ini,” tuturnya.

Klaim Trump dan Penolakan Iran

Trump mengumumkan bahwa pemerintahannya tengah melakukan “pembicaraan produktif” dengan Iran untuk mencapai “resolusi total” atas perang AS-Israel dengan Republik Islam tersebut pada Senin (23/3/2026). Ia bahkan menyebut Iran siap menyerahkan uranium yang diperkaya dan berhenti mencari senjata nuklir, sebuah kesepakatan yang menurutnya akan membuat Israel “sangat senang.”

Namun, Iran membantah keras klaim tersebut. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Esmaeil Baqaei menegaskan:
“Selama beberapa hari terakhir memang ada pesan yang disampaikan melalui negara sahabat mengenai permintaan AS untuk bernegosiasi, tetapi tidak ada pembicaraan yang berlangsung selama 24 hari perang ini.”

Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf juga menolak tudingan bahwa dirinya memimpin delegasi Iran dalam perundingan. Ia menulis di X:
“Tidak ada negosiasi dengan AS. Berita palsu digunakan untuk memanipulasi pasar minyak dan keluar dari kubangan yang menjerat AS dan Israel.”

Komentar Netanyahu dan Kondisi Pasar Minyak

Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan telah berbicara dengan Trump dan menilai ada peluang untuk “memanfaatkan pencapaian besar IDF dan militer AS” demi mencapai tujuan perang melalui kesepakatan. Trump menegaskan bahwa jika kesepakatan tercapai, Iran tidak akan memiliki senjata nuklir dan uranium yang diperkaya akan diserahkan.

“Kami ingin tidak ada bom nuklir, tidak ada senjata nuklir, bahkan tidak mendekati itu. Kami ingin perdamaian di Timur Tengah,” kata Trump.

Meski klaim Trump memicu harapan akan dibukanya kembali Selat Hormuz, Iran tetap menolak adanya pembicaraan langsung. Situasi ini membuat harga minyak dunia berfluktuasi tajam, mencerminkan ketidakpastian atas jalur vital pasokan energi global.


Amri Nufail

Reporter digital yang menggemari berita olahraga, kegiatan komunitas, dan isu pergerakan anak muda. Ia hobi berlari pagi, bermain badminton, dan menonton pertandingan olahraga. Ketika istirahat, ia menyukai membaca artikel inspiratif. Motto: “Semangat dalam berita harus sama kuatnya dengan semangat di lapangan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *