"Mengabarkan Enrekang, Menginspirasi Negeri"

Prof Masduki Kecam Serangan Air Keras terhadap Aktivis KontraS, Peringatan Bahaya bagi Demokrasi Indonesia

Pengutukan Keras atas Serangan Air Keras terhadap Aktivis KontraS

Akademisi Universitas Islam Indonesia (UII), Prof. Masduki, mengungkapkan kekecewaannya terhadap aksi penyiraman air keras yang menimpa Andrie Yunus, Wakil Koordinator Bidang Eksternal KontraS di Jakarta. Ia mengecam tindakan tersebut dengan sangat keras dan meminta aparat kepolisian segera melakukan penyelidikan serta menangkap pelaku.

Menurut Prof. Masduki, tindakan ini tidak hanya tidak berperikemanusiaan, tetapi juga merupakan bentuk kriminalitas berat yang harus ditangani dengan serius. “Kita pasti mengutuk keras tindakan ini, sebuah tindakan yang sangat tidak berperi kemanusiaan terhadap siapapun dia warga negara, tidak harus aktivis. Tindakan penyiraman air keras tidak bisa diterima sebagai suatu luapan kemarahan, dendam atau apapun. Ini kategorinya kriminalitas berat yang harusnya semua orang akan mengutuk,” ujarnya.

Diduga Upaya Pembungkaman Suara Kritis

Dari rekam jejak korban, yang aktif dalam Komisi Pencari Fakta kerusuhan Agustus 2025 dan vokal menolak revisi UU TNI, Prof. Masduki melihat adanya upaya sistematis untuk membungkam suara kritis melalui jalur kekerasan. Ia menegaskan bahwa bersikap kritis adalah hak konstitusional yang penting dalam menjaga kesehatan demokrasi.

“Karena itu kita prihatin. Artinya ada satu upaya, kita tidak tahu siapa yang melakukan, untuk menahan laju atau mengontrol, menghukum, merepresi hak warga negara dalam menyampaikan sikap kritisnya. Ini tindakan yang melanggar konstitusi karena bersikap kritis menjadi aktivis itu hak warga negara dan itu penting dalam demokrasi,” kata Masduki.

Pemerintah Diminta Perkuat Perlindungan Aktivis

Lebih lanjut, Pakar Regulasi Media ini menyoroti peran pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo yang dinilai belum memberikan jaminan keamanan penuh bagi para pengkritik kebijakan. Menurutnya, serangan air keras ini menjadi sinyal bahwa ruang aman bagi aktivis di Indonesia semakin memburuk sekaligus alarm kematian bagi sikap kritis yang proporsional.

“Setelah nanti pelaku tertangkap yang perlu dilakukan adalah perubahan kebijakan. Komitmen yang tinggi agar ini tidak terulang kembali. Jika perlu, apabila (terduga pelaku) menyangkut satu institusi negara, maka harus ada penyampaian permohonan maaf sehingga ada pertanggungjawaban yang sifatnya institusional,” ujar dia.

Harapan untuk Kebijakan Nasional yang Lebih Baik

Masduki berharap kasus ini menjadi keprihatinan kolektif sekaligus pemicu (trigger) bagi lahirnya kebijakan nasional yang lebih menjamin keselamatan para pembela hak asasi manusia. Ia menekankan bahwa dalam negara demokrasi, keberadaan oposisi dan aktivis kritis sama pentingnya dalam menjalankan roda pemerintahan itu sendiri agar tetap berada di jalur yang benar.

“Mudah-mudahan pelakunya segera ditemukan dan diadili sekaligus ini mentriger agar ada kebijakan keamanan dan keselamatan para aktivis di Indonesia,” harapnya.

Kronologi Penyiraman Air Keras

Sebagaimana diketahui, Wakil Koordinator Bidang Eksternal KontraS Andrie Yunus disiram air keras oleh orang tidak dikenal. Andrie mendapat serangan tersebut di Jalan Talang, Jakarta Pusat, pada Kamis (12/3/2026) sekitar pukul 23:37 WIB.

Berdasarkan kronologi dari Kontras, Andrie saat itu sedang mengendarai kendaraan roda dua miliknya di Jalan Salemba I – Talang, Jakarta Pusat. Kemudian, dua orang pelaku menghampiri secara melawan arah Jalan Talang, tepatnya di Jembatan Talang dengan mengendarai kendaraan roda dua, diduga merupakan motor matic Honda Beat keluaran tahun 2016-2021.

Terduga pelaku merupakan dua orang laki-laki berboncengan. “Mereka memiliki ciri-ciri: Pelaku pertama merupakan pengendara menggunakan pakaian kaos berwarna kombinasi putih-biru, celana yang terlihat berbahan jeans, dan helm berwarna hitam,” demikian bunyi keterangan KontraS, Jumat, (13/3/2026).

Pelaku kedua yakni penumpang belakang menggunakan penutup wajah atau masker menyerupai “buff” berwarna hitam yang menutupi setengah wajah. Pelaku kedua ini mengenakan kaos berwarna biru tua, dan celana panjang berwarna biru yang dilipat menjadi pendek dan terlihat berbahan jeans.

Saat berpapasan, salah satu pelaku kemudian menyiramkan air keras ke arah Andrie hingga mengenai sebagian tubuhnya. Andrie sontak berteriak kesakitan hingga menjatuhkan motornya.

Akibat kejadian itu, Andrie mengalami luka serius di sekujur tubuh terutama pada area tangan kanan dan kiri, muka, dada, serta bagian mata. Berdasarkan hasil pemeriksaan, KontraS tidak menemukan adanya barang milik korban yang hilang atau dirampas baik saat kejadian maupun setelah peristiwa berlangsung. Andrie langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat di Jakarta dan mendapatkan penanganan medis darurat, terutama pada bagian mata yang terkena cairan tersebut. Dari hasil pemeriksaan, Andrie mengalami luka bakar sebanyak 24 persen.

Rusmawan

Rusmawan adalah seorang penulis berita online yang serbabisa dalam menguraikan berbagai peristiwa menjadi berita yang jelas dan ringan. Ia suka membaca opini, melakukan riset pendek, dan membuat rangkuman harian. Di waktu senggang, ia menikmati musik instrumental. Motto: “Informasi yang baik dimulai dari niat yang baik.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *