Perang di Timur Tengah: Kenaikan Tegangan dan Dampak pada Sektor Maritim
Pasca kematian Ayatollah Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran, situasi di kawasan Timur Tengah semakin memanas. Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengumumkan bahwa sejumlah pesawat pengebom B-2 telah dikerahkan untuk menjatuhkan puluhan bom penetrator seberat 2.000 pon yang menargetkan peluncur rudal balistik Iran yang terkubur di fasilitas bawah tanah.
Serangan ini dilakukan dalam rangka merespons konflik yang terus berlanjut antara AS dan Israel dengan Iran. Selama 72 jam terakhir, pasukan pengebom AS telah menyerang ratusan target di berbagai wilayah Iran, termasuk lokasi-lokasi di sekitar ibu kota Teheran. Bahkan, hanya dalam satu jam terakhir, sejumlah pesawat pengebom B-2 AS menjatuhkan puluhan bom penetrator yang menargetkan peluncur-peluncur rudal balistik Iran.
Laksamana Brad Cooper, komandan CENTCOM, menyebutkan bahwa militer AS juga menyerang “Komando Antariksa Iran”, yang dianggap mengurangi kemampuan mereka untuk mengancam Amerika. Meskipun demikian, tidak ada penjelasan lebih lanjut mengenai fasilitas spesifik yang diserang.
Ketegangan di kawasan ini meningkat setelah AS dan Israel melancarkan serangan gabungan besar-besaran terhadap Iran sejak 28 Februari 2026. Akibatnya, sebanyak 20.000 pelaut dan 15.000 penumpang kapal pesiar terjebak di kawasan Teluk dan belum bisa keluar karena perang yang sedang berlangsung.
Laporan terbaru dari Organisasi Maritim Internasional PBB (IMO), yang dirilis pada 5 Maret, menyebutkan bahwa IMO telah mencatat tujuh insiden yang melibatkan kapal di wilayah tersebut, mengakibatkan dua kematian dan tujuh orang lainnya terluka sejak perang meletus.
Sekretaris Jenderal regulator pelayaran, Arsenio Dominguez, menyatakan bahwa IMO siap bekerja sama dengan semua pemangku kepentingan untuk membantu memastikan keselamatan dan kesejahteraan para pelaut yang terkena dampak. Sektor maritim juga telah menetapkan Selat Hormuz, Teluk Oman, dan Teluk Persia sebagai “area operasi perang”, memberikan perlindungan tambahan kepada para pelaut karena perang di Timur Tengah melanda jalur transit energi penting ini.
“Di luar dampak ekonomi dari serangan yang mengkhawatirkan ini, ini adalah masalah kemanusiaan. Tidak ada serangan terhadap pelaut yang tidak bersalah yang dapat dibenarkan,” kata Dominguez. Ia juga menyerukan kepada semua perusahaan pelayaran untuk berhati-hati sepenuhnya saat beroperasi di wilayah yang terdampak.
Iran secara efektif telah menutup Selat Hormuz, yang menjadi jalur transportasi minyak mentah dunia dan pasokan gas alam cair dalam jumlah besar. Beberapa perusahaan pelayaran, termasuk Maersk asal Denmark, telah menangguhkan pemesanan muatan kargo di kawasan Teluk.
Para pengusaha maritim dan serikat pekerja mewakili para pekerja mereka mengatakan bahwa peningkatan penetapan Selat Hormuz, Teluk Oman, dan Teluk Persia dari “penetapan area berisiko tinggi” tiga hari yang lalu mencerminkan ancaman yang berkelanjutan dan meningkat terhadap pelaut dan kapal yang beroperasi di wilayah tersebut.
“Ratusan kapal terdampar di Teluk setelah penghentian pergerakan kapal melalui Selat Hormuz, yang menyoroti skala gangguan dan risiko yang dihadapi awak kapal sipil di wilayah tersebut,” kata pernyataan bersama dari Federasi Pekerja Transportasi Internasional (ITF) dan Kelompok Negosiasi Bersama.
Sekretaris Jenderal ITF Stephen Cotton mengatakan kepada AFP bahwa ini adalah situasi terburuk yang pernah ia lihat dalam 32 tahun pengalamannya, karena ketidakjelasan di tingkat diplomatik. Meskipun pelaut dapat meminta untuk meninggalkan kapal dan dipulangkan, kenyataannya tidak begitu jelas.
“Anda tidak bisa menekan tombol dan langsung meninggalkan kapal,” kata Cotton. “Jika Anda memiliki kru sebanyak 25 orang, Anda mungkin membutuhkan 16 orang untuk menjalankan kapal dengan aman.”
Pada tanggal 3 Maret, Garda Revolusi Iran mengklaim “kendali penuh” atas Selat Gibraltar, dengan laporan tentang kapal-kapal tambahan yang diserang. Perusahaan intelijen energi Kpler mengatakan bahwa transit kapal tanker minyak melalui Selat Gibraltar telah turun 90 persen dari minggu lalu.
Harga minyak melonjak akibat ketegangan ini. Presiden AS Donald Trump mengatakan pada tanggal 3 Maret bahwa Angkatan Laut AS siap mengawal kapal tanker minyak melalui jalur pelayaran penting tersebut. Kontrak minyak acuan AS, West Texas Intermediate, melonjak lebih dari lima persen menjadi $78,88 per barel dalam perdagangan pada tanggal 5 Maret, level tertinggi sejak Januari 2025. Patokan internasional, minyak mentah Brent Laut Utara, melonjak 3,6 persen menjadi US$84,34 per barel.
Wilayah lain seperti sebagian Laut Azov, Laut Hitam utara, Laut Merah selatan, dan Teluk Aden juga diklasifikasikan sebagai “Area Operasi Perang” oleh sektor maritim.











