"Mengabarkan Enrekang, Menginspirasi Negeri"
Opini  

Opini: Tanggapi Konflik AS-Israel vs Iran, Kuatkan Stabilitas Keuangan Dalam Negeri

Tantangan Ekonomi Global Akibat Konflik Timur Tengah

Ilyas Alimuddin, seorang dosen Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari, Sulawesi Tenggara, menulis opini yang dikirimkan ke redaksi. Dalam tulisannya, ia mengingatkan tentang krisis ekonomi global yang kembali terdengar. Pada awal tahun ini, alarm tersebut semakin nyaring. Sumber pemicunya adalah konflik politik yang terjadi antara Israel dan Amerika Serikat dengan Iran. Serangan militer yang dilakukan oleh kedua belah pihak tidak hanya berdampak pada keamanan negara-negara yang terlibat, tetapi juga akan memengaruhi keamanan regional dan global.

Konflik ini juga berpotensi memberikan dampak signifikan terhadap perekonomian global melalui jalur transmisi energi, perdagangan, serta pasar keuangan. Berikut penjelasan lebih detailnya:

Dampak Langsung pada Harga Minyak

Pertama, harga minyak melonjak secara signifikan. Iran merupakan salah satu produsen minyak terbesar di dunia dan memiliki pengaruh besar dalam pergerakan harga energi global. Jika serangan militer merusak infrastruktur produksi dan distribusi minyak, maka pasokan minyak dunia akan terganggu. Hal ini dapat menyebabkan lonjakan harga minyak mentah, yang akan memicu inflasi global, terutama di negara-negara pengimpor energi seperti Eropa, Jepang, India, dan Indonesia.

Contohnya, pada perdagangan pagi di Asia pada Senin 2 Maret 2026, minyak mentah Brent naik lebih dari 7 persen menjadi USD 78,25 per barel, sementara minyak yang diperdagangkan di AS naik 7,3 persen menjadi USD 71,93. Jika konflik ini berkepanjangan, pemerintah mungkin harus menaikkan harga BBM di dalam negeri, yang akan memberatkan masyarakat.

Gangguan pada Rantai Pasok Global

Kedua, konflik ini bisa merusak rantai pasok global, khususnya jalur pengiriman minyak. Selat Hormuz, yang berada di perairan Selatan Iran, merupakan jalur penting untuk pengiriman minyak dunia. Sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melalui jalur ini. Jika konflik memicu blokade atau gangguan terhadap jalur ini, maka rantai pasok minyak akan terganggu. Ini akan memengaruhi produksi industri di seluruh dunia, yang sangat bergantung pada energi minyak. Akibatnya, ekonomi global yang masih belum pulih sepenuhnya pasca-pandemi bisa mengalami perlambatan.

Gejolak Pasar Keuangan

Ketiga, konflik Israel-Iran juga berdampak pada gejolak pasar keuangan. Pasar saham global merespons konflik ini dengan volatilitas tinggi. Investor cenderung mengalihkan aset mereka ke instrumen yang lebih aman, seperti emas dan dolar AS. Hal ini memberi tekanan kuat pada nilai tukar mata uang negara-negara berkembang.

Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 11.23 WIB di pasar spot exchange, rupiah melemah sebesar 59 poin (0,35 persen) ke level Rp. 16.846 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar naik 0,23 persen ke level 97,83.

Strategi untuk Memperkuat Stabilitas Sistem Keuangan

Beberapa faktor ini akan berdampak pada perekonomian domestik. Oleh karena itu, pemerintah dan otoritas moneter perlu segera merespons dengan langkah-langkah strategis. Berikut beberapa langkah yang bisa dilakukan:

Pertama: Penguatan Cadangan Devisa dan Stabilitas Nilai Tukar

Pelemahan rupiah pasca-serangan AS & Israel-Iran perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah bersama Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Intervensi terukur di pasar valas diperlukan untuk menjaga volatilitas rupiah. Selain itu, suku bunga perlu disesuaikan secara hati-hati agar daya tarik aset rupiah tetap terjaga tanpa mengorbankan pertumbuhan ekonomi. Suku bunga yang tinggi dapat menarik minat investor untuk tetap berinvestasi di Indonesia.

Kedua: Penguatan Pengawasan Sektor Keuangan

Konflik politik AS & Israel-Iran bisa meningkatkan risiko gagal bayar atau tekanan likuiditas lembaga keuangan. Oleh karena itu, OJK perlu memperkuat dan memperketat pengawasan terhadap perbankan, khususnya eksposur terhadap risiko valas. Selain itu, OJK perlu melakukan stress test secara rutin untuk mengukur ketahanan lembaga keuangan dari tekanan konflik. Penting juga untuk mendorong perbankan dan lembaga keuangan lainnya meningkatkan cadangan risiko serta mitigasi risiko.

Terakhir: Menjaga Ketahanan Pangan dan Inflasi

Konflik AS & Israel-Iran juga berdampak pada biaya logistik dan distribusi pangan. Indonesia, yang masih mengimpor minyak dan beberapa pangan strategis, perlu memanfaatkan momentum ini untuk memperkuat ketahanan pangan lokal. Swasembada atau kemandirian pangan adalah hal yang wajib direalisasikan agar negara ini tidak rentan terhadap krisis global yang bisa terjadi kapan saja.


Nurlela Rasyid

Penulis online yang antusias mendalami topik kesehatan dan gaya hidup. Ia rutin mengikuti webinar, membaca jurnal kesehatan, dan menulis catatan pribadi tentang pola hidup seimbang. Hobi lain yang ia tekuni adalah membuat smoothie dan meditasi. Motto: "Informasi adalah alat untuk hidup lebih baik."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *