"Mengabarkan Enrekang, Menginspirasi Negeri"
Opini  

Tantangan Pendidikan di Era Modern

Tantangan Pendidikan di Era Digital

Sebuah video pendek menunjukkan beberapa pelajar sedang bermain dan bergaya di dalam ruangan kelas. Dengan seragam sekolah, mereka menirukan gerakan yang kurang elok dipandang. Tampaknya mereka tidak merasa malu atau sungkan. Bagi sebagian orang, hal ini hanya dianggap sebagai kegiatan ringan yang tidak perlu diperhatikan terlalu serius.

Di sisi lain, ada tayangan ‘challenge’ yang menampilkan sekelompok siswa SMA kesulitan menjawab pertanyaan matematika sederhana. Pertanyaannya masih berkisar pada perkalian angka satuan. Keadaan serupa juga terjadi ketika tantangan beralih ke nama-nama provinsi di Indonesia beserta ibu kotanya. Banyak dari peserta ‘challenge’ terbata-bata dan bingung memberi jawaban.

Kondisi seperti ini semakin sering ditemui dalam dunia pendidikan saat ini. Para pendidik menghadapi tantangan yang semakin kompleks karena perubahan perilaku generasi muda. Di zaman di mana informasi tersedia hanya dengan genggaman tangan, memahami dan mendidik anak-anak menjadi lebih sulit. Teknologi internet yang berkembang pesat telah membentuk pola perilaku yang jauh berbeda dibandingkan generasi sebelumnya.

Generasi Z, yang kini mendominasi dunia pendidikan, membawa tantangan baru bagi para guru. Mereka memiliki gaya hidup dan cara berpikir yang berbeda. Meskipun tidak semua hal tentang Gen Z bersifat negatif, pergeseran nilai dan perilaku mereka sering kali membuat para pendidik merasa khawatir.

Dulu, suasana sekolah di era ’90-an sangat berbeda. Siswa cenderung patuh dan mudah dikendalikan oleh aturan sekolah. Adab dan kesopanan terjaga tinggi. Fokus siswa terhadap pelajaran baik meskipun fasilitas dan sarana masih terbatas. Mereka tidak terganggu oleh godaan ponsel atau internet. Guru tampil sebagai figur teladan dan panutan.

Namun, di era digital ini, pergeseran perilaku Gen Z memberikan tantangan besar bagi dunia pendidikan. Teknologi seperti ponsel, internet, dan media sosial telah ikut memengaruhi gaya hidup dan cara berpikir anak-anak. Guru kini berada di tengah dua arus: satu arus bergerak cepat mengikuti perubahan digital, dan arus lainnya tetap memegang nilai-nilai pendidikan dan keteladanan.

Masalah ini menimbulkan dilema: apakah guru harus memberi ruang bagi siswa untuk berperilaku sesuai perkembangan zaman, atau mempertahankan pola didik yang berdasarkan nilai-nilai karakter dan jati diri bangsa?

Banyak siswa kini lebih suka mengikuti tren yang ada di media sosial daripada mengikuti nasihat guru. Bahasa prokem dan istilah gaul tak sopan sering terdengar dari mulut siswa. Mereka meniru gaya dan pakaian ala budaya luar agar terlihat gaul. Padahal, gaya tersebut tidak sesuai dengan karakter bangsa sendiri.

Anak-anak sekarang lebih menyukai hal-hal instan dan tidak rumit. Kebiasaan menonton video pendek dan tidak suka membaca buku membuat mereka cenderung memilih jalan tercepat dan termudah. Akibatnya, banyak siswa menyalin jawaban dari Google tanpa memahami isi materinya. Bahkan, mereka menyerahkan tugas PR ke toko jasa pengetikan agar bisa segera dikumpulkan.

Di tengah situasi ini, guru berjuang keras untuk menjaga nilai-nilai etika dan kesadaran kritis. Mereka mencoba memulihkan etika dasar yang semakin kabur. Dalam diam, guru tetap menjaga perannya dalam mengawal peradaban dan martabat manusia.

Pernah ada pengalaman saat saya memotivasi siswa bahwa kesuksesan lahir dari giat belajar. Seorang murid menyela dengan pertanyaan: “Tapi ada yang tidak sekolah tinggi, terus dia sudah kaya, sekarang jadi seleb.” Lalu, ia menyebut satu nama yang saya kenal. Seorang konten kreator yang kontennya sering vulgar dan berbahasa kotor. Konten minus edukasi ini justru menarik minat siswa. Media sosial telah “menuntun” sang konten kreator menjadi motivator dan panutan baru.

Namun, kondisi ini jangan membuat para guru patah semangat. Guru harus terus mampu memposisikan diri sebagai pendidik yang berkomitmen pada keberlangsungan generasi yang berkualitas, bermartabat, berkarakter, dan berakhlaq mulia.


Hartono Hamid

Penulis berita yang aktif menggali cerita dari sudut pandang humanis. Ia senang mengamati kebiasaan masyarakat dan perubahan kultur digital. Hobinya termasuk membuat catatan refleksi, menonton film, dan mengikuti kelas online. Motto: "Menulis adalah jembatan antara fakta dan empati."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *