"Mengabarkan Enrekang, Menginspirasi Negeri"

Konflik Iran-Israel Mengancam Keberangkatan Jemaah Haji Tarakan

Calon Jemaah Haji dari Tarakan Khawatir Dampak Ketegangan Timur Tengah

Di tengah situasi geopolitik yang memanas antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat, para calon jemaah haji di Indonesia, khususnya dari Tarakan, Kalimantan Utara, mulai merasa khawatir akan dampaknya terhadap jadwal penerbangan ke Tanah Suci. Salah satu calon jemaah haji yang sangat berharap bisa segera berangkat adalah Suci Ati (71), yang telah menunggu selama 13 tahun untuk kesempatan itu.

Suci Ati mengaku sangat khawatir dengan situasi yang sedang terjadi di kawasan Timur Tengah. Namun, ia tetap menjaga semangat dan optimis bahwa keberangkatan tahun 2026 tidak akan dibatalkan. Ia berserah diri kepada Allah SWT agar segala rencana yang sudah ia susun dapat terwujud.

“Insya Allah aman. Kita serahkan kepada yang di atas. Kita merencanakan, Tuhan yang menentukan,” ujarnya saat berbicara tentang harapan dan keyakinannya.

Hingga saat ini, belum ada informasi resmi terkait pembatalan keberangkatan jemaah haji Indonesia. Suci Ati rutin mengikuti perkembangan berita nasional untuk memastikan kondisi terkini. Menurutnya, situasi di Indonesia masih relatif aman meskipun ada beberapa kendala dalam pemulangan jemaah umrah.

Proses Pendaftaran dan Pelunasan Biaya Haji

Suci Ati mendaftar haji pada awal 2013. Saat itu, ia membayar setoran awal sebesar Rp25 juta untuk mendapatkan nomor porsi. Setelah penantian panjang, pelunasan biaya haji dilakukan pada Februari 2026, dengan total biaya sebesar Rp53 juta. Sisa yang dilunasi sebesar Rp28 juni.

Penantian yang cukup lama disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk pandemi Covid-19 yang membuat jadwal keberangkatan tertunda. Setelah pandemi mereda, kuota jemaah juga dikurangi, sehingga masa tunggu kembali mundur.

“Tadinya cuma direncanakan delapan tahun. Tapi karena Covid tertunda. Setelah itu ada pengurangan kuota lagi, jadi mundur lagi. Ya sudah, sabar saja,” ujarnya.

Kesiapan Kesehatan Sebagai Syarat Berangkat

Di balik semangatnya, Suci Ati juga harus melewati tantangan lain, yaitu masalah kesehatan. Saat ini, semua calon jemaah haji wajib lolos pemeriksaan kesehatan sebelum diberangkatkan. Sistem perbankan juga terintegrasi langsung dengan data kesehatan dari Dinas Kesehatan.

Suci Ati memiliki riwayat diabetes sejak tahun 2000. Saat pemeriksaan awal, kadar gula darahnya sempat di atas 200 mg/dL dengan HbA1c mencapai 10,5—angka yang membuatnya belum dinyatakan layak.

“Saya sempat tidak bisa. Gula darah sudah turun sampai 163, tapi HbA1c masih 10,5. Harus tunggu satu bulan lagi, berobat, baru turun jadi 8,5,” ungkapnya.

Untuk menjaga kesehatannya, Suci Ati menjaga pola makan dengan disiplin. Ia tidak makan nasi di malam hari dan hanya minum Quaker dengan susu di pagi hari. Siang, ia tetap makan nasi, tetapi dalam porsi yang lebih sedikit. Ia lebih memilih ikan daripada ayam ras, namun tetap mengonsumsi ayam kampung. Ia juga menghindari kue manis dan membatasi konsumsi kopi yang mengandung gula.

“Satu hari cuma satu kopi. Kue-kue manis jarang. Buah makan, seperti singkong, pisang, keladi rebus. Insya Allah membantu turunkan gula,” jelasnya.

Menurutnya, menjaga kesehatan di usia senja adalah kunci agar tetap bisa berangkat. Banyak teman-temannya yang gagal berangkat karena alasan kesehatan, meskipun sudah melunasi biaya haji.

Latar Belakang dan Perjalanan Hidup Suci Ati

Suci Ati bukan sosok asing di Tarakan. Ia mengabdi selama 35 tahun di Rumah Sakit Umum Daerah Tarakan saat ini RSUD dr H Jusuf SK. Ia masuk pada Februari 1976 dan pensiun pada 2011. Ia bekerja di bagian keuangan sejak awal hingga pensiun.

Perempuan kelahiran Tarakan, 4 Maret 1955, merupakan alumni STM angkatan pertama. Dulu, pekerjaan cari orang, bukan orang cari kerja. Usai pensiun, ia aktif di berbagai organisasi seperti Dharma Wanita, PKK, dan Pramuka. Bahkan pada 2012, ia membuka PAUD di Posyandu Tarumanegara, wilayah Markoni, dan sempat menjadi ketua.

Kini, meski tak lagi memegang jabatan karena faktor usia, ia tetap membantu kegiatan sebagai bentuk pengabdian. Di usianya yang baru tiga hari menginjak ke-71, ia tetap konsisten menjaga kesehatan. Ia memiliki dua anak dan juga cucu.

“Semogalah kami lancar bisa berangkat tahun ini,” tutupnya.

Balqis Ufairah

Penulis yang fokus pada entrepreneurship dan pengembangan UMKM. Ia senang berkunjung ke pameran bisnis, berbincang dengan pelaku usaha, serta menulis ringkasan peluang pasar. Hobinya termasuk membuat desain sederhana. Motto: “Informasi membuka pintu kesempatan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *