Pernyataan Netanyahu tentang “Israel Raya” Memicu Kekhawatiran di Kawasan Timur Tengah
Pada tahun 2025, pernyataan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengenai konsep “Israel Raya” memicu reaksi keras dari sejumlah negara di kawasan Timur Tengah. Konsep ini disebut mencakup wilayah yang sangat luas, termasuk seluruh Palestina, Yordania, Lebanon, serta sebagian wilayah Suriah, Arab Saudi, Irak, Turki, dan Mesir.
Pernyataan tersebut disampaikan melalui saluran i24 dan dilaporkan oleh The Times of Israel. Dalam wawancara tersebut, Netanyahu menjelaskan visinya tentang perluasan wilayah Israel. Ia juga menampilkan peta yang ia sebut sebagai “Tanah yang Dijanjikan”, yang menunjukkan wilayah yang lebih luas dibandingkan batas teritorial Israel saat ini.
Reaksi dari negara-negara seperti Arab Saudi dan Qatar terhadap pernyataan Netanyahu sangat keras. Mereka menilai bahwa gagasan tersebut berpotensi mengganggu stabilitas regional. Selain itu, beberapa negara Arab lainnya, seperti UEA, Yordania, Palestina, dan Arab Saudi, juga menyatakan kekecewaan terhadap peta yang dipublikasikan oleh akun resmi Kementerian Luar Negeri Israel di platform daring. Peta tersebut dinilai sebagai bentuk pelanggaran hukum internasional dan upaya ekspansi.
Konsep “Israel Raya” telah digunakan setelah Perang Enam Hari pada bulan Juni 1967 untuk merujuk pada Israel, wilayah Yerusalem Timur dan Tepi Barat, Jalur Gaza, sebagian Yordania, Semenanjung Sinai di Mesir, Dataran Tinggi Golan di Suriah, serta sebagian Lebanon, Irak, dan Arab Saudi. Peta yang dikeluarkan oleh pihak Israel diklaim sebagai bukti sejarah yang tidak benar, dengan mengklaim asal-usul Israel ribuan tahun silam.

Beberapa dekade terakhir, Israel telah menduduki sejumlah wilayah di Palestina, Suriah, dan Lebanon, sambil terus menolak untuk mundur dari wilayah-wilayah tersebut. Selain itu, Israel juga menolak pembentukan negara Palestina yang merdeka dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kota, sesuai garis perbatasan sebelum tahun 1967.
Dalam konteks yang lebih luas, jika Iran takluk dalam konflik dengan Israel dan AS, maka kemungkinan besar Israel akan melakukan invasi militer lanjutan ke negara-negara lain di kawasan. Mantan Ketua Komisi I DPR RI, Mahfuz Sidik, menyatakan bahwa kehancuran Iran sebagai kekuatan terakhir poros perlawanan terhadap Israel akan mempermudah ambisi Israel Raya. Wilayah negara seperti Libanon, Suriah, Irak, Yordania, Mesir, dan Arab Saudi bisa menjadi target agresi militer pihak Israel.
Selama beberapa waktu, Israel juga terus menguasai wilayah Gaza Palestina. Negara ini didukung oleh Amerika Serikat (AS) dalam serangan terhadap Iran, yang dikenal sebagai salah satu negara dengan kekuatan militer signifikan di kawasan.
Kekhawatiran baru muncul di tengah situasi geopolitik yang sudah lama tegang. Pernyataan dan visualisasi peta Netanyahu menjadi perbincangan luas di berbagai negara, memicu ketegangan yang semakin meningkat. Jika Iran berhasil dikalahkan, pertanyaannya adalah, negara mana yang akan menjadi target berikutnya bagi Israel?











