"Mengabarkan Enrekang, Menginspirasi Negeri"

Jejak Kehidupan Mahmoud Ahmadinejad, Mantan Presiden Iran yang Gugur dalam Serangan Israel-AS

Kehidupan dan Karier Mahmoud Ahmadinejad

Mahmoud Ahmadinejad, mantan Presiden Iran yang dikenal sebagai tokoh politik yang vokal dan kontroversial, dilaporkan tewas dalam serangan rudal Israel di Teheran pada Sabtu (28/2/2026). Ia meninggal bersama pengawalnya setelah kediamannya dihantam rudal. Serangan tersebut terjadi di kawasan Narmak, timur laut Teheran. Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, serta sejumlah tokoh besar Iran juga turut meninggal dalam serangan ini.

Ahmadinejad memimpin Iran selama dua periode, dari 2005 hingga 2013. Ia dikenal dengan gaya kepemimpinan yang tegas dan citra sederhana yang melekat kuat pada dirinya. Di dalam negeri, ia digambarkan sebagai pemimpin yang merakyat. Salah satu momen yang sempat menyita perhatian publik internasional adalah ketika ia diberitakan mengenakan jas yang sobek, sebuah simbol yang oleh pendukungnya dianggap sebagai gambaran hidup bersahaja, meski di mata lawan politiknya hal itu tak lepas dari kontroversi.

Lahir dan Awal Kehidupan

Ahmadinejad lahir dengan nama Mahmoud Saborjhian pada 28 Oktober 1956 di desa Aradan, dekat Garmsar, Iran. Ia merupakan anak keempat dari tujuh bersaudara. Ayahnya, Ahmad Saborjhian, bekerja sebagai pandai besi. Ketika keluarganya pindah ke Teheran pada 1957, sang ayah mengganti nama keluarga mereka menjadi Ahmadinejad—nama yang kemudian dikenal luas di panggung politik Iran dan dunia.

Masa kecil dan remaja Ahmadinejad dihabiskan di Teheran. Pada 1976, ia melanjutkan pendidikan tinggi di Iran University of Science and Technology (IUST), mengambil jurusan teknik sipil. Sebagai mahasiswa, Ahmadinejad dikenal aktif berorganisasi. Ia termasuk di antara pemuda yang terlibat dalam gelombang demonstrasi saat Revolusi Iran 1978–1979, periode yang mengubah wajah politik negara tersebut secara drastis.

Perjalanan Politik

Setelah lulus, Ahmadinejad bergabung dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran, kelompok milisi bentukan Ruhollah Khomeini. Dalam perjalanan berikutnya, Ahmadinejad juga terlibat dalam Perang Irak-Iran yang berlangsung pada 1980–1988—konflik panjang yang membekas dalam sejarah modern Iran. Selepas masa tugas militernya, pada 1986 ia kembali menempuh pendidikan di IUST dan meraih gelar doktor di bidang teknik serta perencanaan transportasi. Tiga tahun kemudian, tepatnya 1989, Ahmadinejad resmi bergabung sebagai pengajar di kampus tersebut.

Ahmadinejad mulai mengabdi di pemerintahan setelah dia ditunjuk sebagai gubernur di kota Maku dan Khoy, di Provinsi Azerbaijan Barat. Pada 1993, dia dipercaya menjadi penasihat di kementerian kebudayaan dan pendidikan tinggi. Dia kemudian ditunjuk menjadi gubernur untuk Provinsi Ardabil, yang baru dibentuk. Dia menjabat hingga 1997 dan setelahnya kembali menjadi pengajar di IUST.

Menjadi Presiden Iran

Pada 2005, Ahmadinejad mencalonkan diri dalam pemilihan presiden dengan dukungan penuh dari para pemimpin konservatif. Dia melakukan pendekatan yang merakyat dan berjanji mengatasi kemiskinan dan ketidakadilan sosial di Iran, serta memberantas korupsi. Ahmadinejad juga menjadi satu-satunya kandidat presiden yang secara terang-terangan menentang peningkatan hubungan Iran dengan Amerika Serikat.

Dia dilantik menjadi presiden pada 3 Agustus 2005 oleh pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Sebagai presiden, Ahmadinejad tetap menampilkan dirinya sebagai presiden yang merakyat. Ia ingin terus tinggal di rumahnya sendiri daripada di istana kepresidenan, hingga akhirnya baru bersedia pindah setelah dibujuk oleh para penasihat keamanan.

Kebijakan Nuklir dan Kontroversi

Di mata internasional, Presiden Ahmadinejad dikenal atas sikap kerasnya atas hak Iran untuk mengembangkan program nuklirnya, yang berdampak pada meningkatnya ketegangan dengan AS. Pada pidatonya di hadapan PBB pada 2005, Ahmadinejad menyatakan keinginan Iran untuk mengembangkan teknologi nuklir yang diklaimnya bertujuan damai. Pada April 2007, Ahmadinejad mengumumkan bahwa Iran telah memulai untuk produksi bahan bakar nuklir dalam skala industri, yang berujung pada dijatuhkannya sanksi internasional.

Akhir Masa Jabatan

Pada 2011, terjadi konfrontasi antara Ahmadinejad dengan Khamenei, yang diduga dipicu pemecatan menteri intelijen yang merupakan sekutu Khamenei. Konflik tersebut berkembang menjadi perebutan dukungan publik antara Ahmadinejad dengan Khamenei. Pada Maret 2012, dia dipanggil Badan Legislatif Iran yang mempertanyakan kebijakan dan perselisihannya dengan pemimpin tertinggi. Pemanggilan presiden yang menjabat oleh Majelis Iran menjadi yang pertama kali terjadi, memicu dugaan akan menurunnya dukungan politik terhadap Ahmadinejad.

Menurunnya dukungan terhadap Ahmadinejad juga terjadi dalam pemilihan legislatif hingga akhirnya masa jabatannya usai pada Agustus 2013 dan dia digantikan oleh Hassan Rouhani. Setelah tak lagi menjabat sebagai presiden, Ahmadinejad kembali menempati rumah pribadinya di Narmak. Pada 2017, Ahmadinejad sempat dikabarkan akan kembali maju dalam pemilihan presiden Iran, namun kemudian didiskualifikasi.

Kematian dalam Serangan Rudal Israel

Media Iran melaporkan Ahmadinejad tewas dalam serangan udara gabungan Israel–AS pada Sabtu (28/2/2026) malam. Kantor berita ILNA menyebutkan serangan tersebut menghantam kediamannya di kawasan Narmak, timur laut Teheran. Media pro-pemerintah Iran mengklaim Ahmadinejad (69) meninggal dunia bersama para pengawalnya. Laporan internasional yang dikutip dari media Israel menyebutkan serangan di kawasan tersebut kemungkinan terjadi pada Sabtu malam, di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran dengan AS dan Israel.

Ahmadinejad dikenal sebagai salah satu tokoh paling vokal dalam menentang Israel dan negara-negara Barat selama menjabat sebagai Presiden Iran. Pengawal Mahmoud Ahmadinejad yang tewas adalah Mehdi Mokhtari, Mostafa Azizi, dan Hassan Masjedi. “Mereka tewas dalam serangan yang menargetkan kantor mantan Presiden Mahmoud Ahmadinejad di Teheran timur,” kata laporan itu. Laporan sebelumnya menyebutkan sebuah rudal jatuh di daerah Narmak di sebelah timur Teheran, dekat kediaman Ahmadinejad, dengan video yang beredar menunjukkan kerusakan di lokasi tersebut.






Halwa Futuhan

Penulis yang rajin memberitakan kegiatan masyarakat lokal dan peristiwa lapangan. Ia gemar berkunjung ke pasar tradisional, memotret aktivitas warga, dan mencatat percakapan menarik. Hobinya termasuk mendengar musik tempo dulu. Motto: “Cerita kecil sering kali memiliki dampak besar.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *