Persiapan Uang Tunai di Berbagai Bank Selama Ramadan dan Lebaran 2026
Selama bulan Ramadan dan Lebaran, sejumlah bank di Indonesia mulai menyiapkan dana tunai untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Namun, tren yang terjadi menunjukkan bahwa alokasi uang kartal yang disiapkan oleh beberapa bank hanya mengalami kenaikan tipis atau bahkan lebih rendah dibanding tahun sebelumnya.
PT Bank Central Asia Tbk (BCA)
PT Bank Central Asia Tbk (BCA) mengalokasikan dana tunai sebesar Rp 65,7 triliun untuk memenuhi kebutuhan masyarakat selama Ramadan dan Lebaran 2026. Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, pada 2025 BCA menyediakan dana tunai sebesar Rp 70,22 triliun, sehingga terjadi penurunan sekitar 6,44%.
Presiden Direktur BCA, Hendra Lembong, menjelaskan bahwa momen Ramadan dan Lebaran menjadi momentum perputaran uang yang signifikan di Indonesia. Hal ini selaras dengan peningkatan kebutuhan masyarakat, seperti belanja, keperluan sosial, hingga mudik.
“BCA berkomitmen menyediakan layanan perbankan yang berkualitas, termasuk memastikan ketersediaan uang tunai. Kami berkomitmen membantu nasabah dan masyarakat dalam memenuhi kebutuhannya selama Ramadan dan Idulfitri, serta berkontribusi positif bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia,” ujarnya.
PT Bank Syariah Indonesia (BSI)
PT Bank Syariah Indonesia (BSI) menyiapkan uang tunai sebesar Rp 16 triliun untuk memenuhi kebutuhan transaksi masyarakat selama Ramadan dan Idul Fitri 2026. Pada tahun 2025, BSI menyediakan dana tunai senilai Rp 42,88 triliun, sehingga terjadi penurunan signifikan.
Direktur Sales & Distribution BSI, Anton Sukarna, menjelaskan bahwa dana tersebut disiapkan untuk mengantisipasi lonjakan transaksi selama Ramadan hingga puncaknya pada periode Lebaran. BSI juga mengoperasikan jaringan ATM sebanyak 6.000 unit yang tersebar di seluruh Indonesia.
“Kami jaga stabilitas dan operasionalnya tetap berjalan. Insya Allah ada tim yang terus melakukan monitoring agar layanan tetap optimal selama musim libur,” katanya.
PT Bank Mandiri
PT Bank Mandiri menyiapkan uang tunai sebesar Rp 44 triliun untuk Ramadan dan Lebaran 2026. Alokasi ini naik 5% dari tahun sebelumnya sebesar Rp 41,9 triliun. Corporate Secretary Bank Mandiri, Adhika Vista, menjelaskan bahwa kenaikan ini sejalan dengan proyeksi kenaikan kebutuhan transaksi masyarakat selama bulan suci hingga puncak arus mudik dan Idul Fitri.
“Kesiapan likuiditas ini menjadi bagian dari strategi akselerasi yang bertumbuh guna menjaga momentum konsumsi domestik sekaligus memperkuat perputaran ekonomi kerakyatan di berbagai daerah,” ujarnya.
PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI)
PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) menyiapkan uang tunai sebesar Rp 23,97 triliun untuk memenuhi kebutuhan transaksi masyarakat menjelang Idul Fitri 1447 Hijriah. Jika dibandingkan dengan tahun 2025, BNI meningkatkan alokasi uang tunai sebesar 14,14%.
Corporate Secretary BNI, Okki Rushartomo, menjelaskan bahwa penyediaan likuiditas telah disesuaikan dengan proyeksi peningkatan kebutuhan masyarakat selama periode tersebut. BNI juga mengoperasikan kantor cabang secara terbatas selama libur Lebaran dan terus mendorong penggunaan aplikasi wondr by BNI.
Bank Indonesia
Bank Indonesia (BI) juga menyiapkan uang layak edar (ULE) dalam jumlah besar untuk mengantisipasi lonjakan kebutuhan tunai masyarakat. BI telah menyiapkan uang tunai sebesar Rp 185,6 triliun pada Ramadan dan Idul Fitri 2026. Jumlah tersebut sedikit meningkat dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp 189,9 triliun.
Pengamat perbankan, Moch Amin Nurdin, menilai bahwa penurunan maupun kenaikan tipis kebutuhan uang tunai di sejumlah bank dipengaruhi oleh akselerasi digitalisasi sistem pembayaran. Penetrasi mobile banking dan QRIS yang semakin luas membuat sebagian transaksi musiman saat Ramadan dan Lebaran beralih ke kanal digital.
“Transaksi transfer THR, pembayaran zakat, hingga pembelian tiket mudik kini semakin banyak dilakukan melalui layanan digital,” ujarnya.
Meskipun demikian, kebutuhan uang tunai tetap meningkat dibandingkan bulan-bulan normal. Hal ini karena sejumlah transaksi masih dilakukan secara tunai, terutama di daerah yang akses digitalnya masih terbatas. Selain itu, faktor budaya seperti pembagian THR secara fisik juga masih membuat kebutuhan uang tunai tetap ada, khususnya di luar wilayah perkotaan.
Data BI menunjukkan bahwa pertumbuhan transaksi ekonomi dan keuangan digital pada Januari 2026 tetap tinggi. Volume transaksi pembayaran digital mencapai 4,79 miliar transaksi atau tumbuh 39,65% (yoy) pada Januari 2026. Transaksi melalui aplikasi mobile dan internet masing-masing tumbuh sebesar 10,00% (yoy) dan 23,25% (yoy), termasuk transaksi QRIS yang terus tumbuh tinggi mencapai 131,47% (yoy).











