Peristiwa Kematian Ayatollah Ali Khamenei dan Dampaknya terhadap Iran
Presiden Rusia Vladimir Putin menyampaikan belasungkawa atas kematian Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang tewas dalam serangan udara oleh AS dan Israel. Ia menyebut tindakan tersebut sebagai pelanggaran keji terhadap norma moralitas manusia. Putin mengirimkan surat kepada Presiden Iran Masoud Pezeshkian, mengekspresikan simpati terhadap keluarga dan rakyat Iran.
Rusia merupakan mitra dagang utama sekaligus pemasok senjata dan teknologi bagi Iran. Selain itu, Korea Utara juga mengecam serangan Israel-AS terhadap Iran sebagai agresi ilegal dan pelanggaran terhadap kedaulatan nasional.
Masa Depan Pemerintahan Iran Setelah Kematian Ayatollah Ali Khamenei
Kematian Ayatollah Ali Khamenei dapat menjadi ancaman eksistensial bagi rezim Islam Iran dalam hampir 50 tahun keberadaannya. Meskipun begitu, berdasarkan laporan dari POLITICO, hal ini tidak serta-merta berarti berakhirnya teokrasi yang memimpin negara tersebut dalam waktu dekat.
Iran memiliki presiden terpilih, Masoud Pezeshkian, namun kekuasaan sesungguhnya tetap berada di tangan pemimpin tertinggi. Transisi kekuasaan hanya pernah terjadi satu kali sebelumnya, setelah wafatnya pendiri Republik Islam Iran, Ayatollah Ruhollah Khomeini, pada 1989.
Selama bertahun-tahun, mantan Presiden Ebrahim Raisi dianggap sebagai calon pengganti Khamenei, tetapi ia tewas dalam kecelakaan helikopter pada 2024. Sejak saat itu, putra Khamenei yang terbunuh, Mojtaba Khamenei, disebut-sebut sebagai salah satu calon pengganti. Ia dikenal sebagai sosok yang relatif misterius dengan pengaruh di balik layar.
Namun, Mojtaba bukan satu-satunya nama yang dipertimbangkan. Khamenei dilaporkan telah memilih tiga kandidat yang dapat menggantikannya setelah perang 12 hari pada Juni 2025 lalu. Nama-nama mereka belum diumumkan kepada publik.
Ketidakpastian Suksesi dan Peluang bagi Lawan-Lawan Iran
Ketidakpastian terkait suksesi ini dapat membuka peluang bagi lawan-lawan Iran. Dalam pernyataan video yang mengumumkan serangan AS di Iran, Presiden AS Donald Trump mendesak warga Iran untuk memanfaatkan momen tersebut guna menggulingkan rezim.
“Setelah kami selesai, ambil alih pemerintahan Anda. Itu akan menjadi milik Anda,” ujar Trump. “Ini mungkin satu-satunya kesempatan Anda untuk beberapa generasi.”
Sejumlah pihak disebut siap turun tangan apabila rezim tersebut jatuh. Reza Pahlavi, putra syah terakhir Iran, dengan cepat mengeluarkan pernyataan tak lama setelah serangan dimulai. “Rezim tersebut sedang runtuh,” kata Pahlavi dalam unggahan di media sosial, sambil memuji Trump atas apa yang ia sebut sebagai “intervensi kemanusiaan”.
Tanpa adanya transisi kekuasaan yang jelas, pasukan militer elite Iran, Korps Garda Revolusi Islam, berpotensi mengambil alih kepemimpinan negara.
Serangan Gabungan AS-Israel Terhadap Iran
Berikut poin-poin penting rangkuman kejadian setelah serangan AS-Israel terhadap Iran:
- Iran telah melancarkan serangan rudal dan drone baru yang menargetkan Israel serta sejumlah kota di kawasan Teluk, setelah bersumpah akan membalas pembunuhan pemimpin tertinggi Ali Khamenei, yang memerintah negara itu sejak 1989.
- Sirene terdengar beberapa kali di wilayah Israel tengah dan sebagian Tepi Barat yang diduduki pada Minggu pagi. Ledakan juga dilaporkan terjadi di Doha, Dubai, dan Manama. Ledakan turut terdengar di dekat Bandara Erbil, yang menampung pasukan koalisi pimpinan AS, di wilayah otonom Kurdistan Irak.
- Ketua parlemen Iran memperingatkan bahwa Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu telah melanggar garis merah dan akan menanggung konsekuensinya. Trump, dalam sebuah unggahan di media sosial, mengatakan Iran tidak boleh membalas, atau akan dihantam dengan kekuatan yang “belum pernah terlihat sebelumnya”.
- Media pemerintah Iran mengumumkan kematian sejumlah pejabat militer tingkat tinggi, termasuk Kepala Staf Angkatan Bersenjata Abdolrahim Mousavi, Menteri Pertahanan Aziz Nasirzadeh, Kepala Garda Revolusi Mohammad Pakpour, serta Kepala Dewan Pertahanan Ali Shamkhani. Mereka disebut tewas “selama pertemuan dewan pertahanan”. Media tersebut menambahkan bahwa nama-nama lainnya akan menyusul.
- Sedikitnya 133 warga sipil tewas dan 200 lainnya terluka dalam serangan AS-Israel di Iran pada Sabtu, menurut organisasi berbasis di AS, HRANA (Human Rights Activists News Agency), yang menyatakan telah mencatat insiden di 18 provinsi di Iran.
- Ali Larijani, penasihat keamanan nasional utama Iran, memperingatkan “kelompok separatis” bahwa mereka akan menghadapi tanggapan keras jika mencoba melakukan tindakan apa pun, serta menyerukan persatuan. Trump sebelumnya mendesak rakyat Iran untuk mengambil alih pemerintahan, dengan mengatakan, “Ini adalah satu-satunya kesempatan terbesar bagi rakyat Iran untuk merebut kembali negara mereka.”
- Ribuan orang berkumpul di pusat Teheran untuk berduka atas kematian Khamenei, yang memimpin Iran sejak 1989. Para pelayat, yang mengenakan pakaian hitam dan membawa foto mantan pemimpin tersebut, meneriakkan “matilah Amerika” dan “matilah Israel”. Namun, sebagian lainnya justru merayakan, dengan laporan yang menggambarkan orang-orang bersorak dari atap rumah, meniup peluit, dan meneriakkan kegembiraan.
- Para pengunjuk rasa juga menggelar aksi mendukung Iran di sejumlah kota. Mereka mencoba menyerbu konsulat AS di kota terbesar Pakistan, Karachi, serta memasuki Zona Hijau yang diperketat keamanannya di ibu kota Irak, Baghdad, lokasi kedutaan AS berada. Ribuan orang turut berunjuk rasa di Kashmir yang dikelola India pada Minggu.
- Badan nuklir PBB mengatakan akan mengadakan pertemuan luar biasa pada Senin (2/3/2026) atas permintaan Rusia. Pertemuan tersebut digelar sebagai tanggapan atas serangan AS-Israel.











