"Mengabarkan Enrekang, Menginspirasi Negeri"

Dua Orang Minta Status WNI Dwi Sasetyaningtyas Dicabut, Dianggap Menghina Bangsa

Polemik Status Kewarganegaraan Dwi Sasetyaningtyas Memicu Reaksi Keras dari Tokoh-Tokoh Terkenal

Pernyataan Dwi Sasetyaningtyas yang menolak anak-anaknya menjadi warga negara Indonesia (WNI) memicu gelombang protes di media sosial. Pernyataan ini menimbulkan kritik dari berbagai kalangan, termasuk para tokoh terkenal seperti pengacara kondang Hotman Paris Hutapea dan sejarawan Prof Anhar Gonggong.

Reaksi Keras dari Hotman Paris Hutapea

Hotman Paris Hutapea, pengacara ternama, melayangkan somasi terbuka kepada Dwi Sasetyaningtyas. Ia menilai pernyataan Dwi sangat ironis mengingat ia pernah menempuh pendidikan dengan dana beasiswa dari negara melalui Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).

“Lu tau enggak uang yang menyekolahkan kamu juga, termasuk uang pajak yang dari gue ini juga ada di situ. Uang pajak rakyat. Dari pajak PPh pajak PPN,” kata Hotman dalam sebuah pernyataannya.

Ia menegaskan bahwa dana LPDP berasal dari uang rakyat, termasuk pajak yang dibayarkan masyarakat. Sebagai pembayar pajak, Hotman merasa tersinggung oleh pernyataan Dwi.

“Hei, kamu yang teriak-teriak mengatakan tidak mau anaknya WNI sedangkan kamu, menginjak luar negeri adalah uang dari beasiswa negara. Aku somasi kamu. Hei, kembalikan itu beasiswa, atau kamu minta maaf kepada publik,” katanya.

Hotman bahkan mengusulkan agar kewarganegaraan Dwi dicabut. Menurutnya, pernyataan tersebut dapat dianggap menghina bangsa di kancah internasional.

“Saya usulkan kepada bapak presiden, cabut warga negaranya. Sekali lagi, cabut warga negaranya. Itu sudah menghina bangsa di dunia internasional.”

Tanggapan Prof Anhar Gonggong

Sejarawan Prof Anhar Gonggong juga ikut mengecam keras sikap Dwi Sasetyaningtyas. Ia menyampaikan kekecewaannya dalam video yang diunggah di akun YouTube-nya.

“Tapi yang betul-betul saya tersinggung sebagai warga negara, semacam penghinaan seakan-akan negara ini tidak punya apa-apa dibanding dengan Inggris. Karena negara ini, negara yang tidak memberikan masa depan, biar saya sendiri saja yang warga negara.”

Anhar menilai perilaku Dwi menunjukkan kurangnya rasa tanggung jawab sebagai warga negara. Ia menegaskan pentingnya loyalitas bagi penerima beasiswa negara.

“Orang yang sok pintar, yang bahkan pintarnya tapi bodoh sebagai warga negara republik indonesia lebih baik dipecat aja lah. Memalukan malah. Betul, dalam arti kata mempermalukan kepada negara bangsa Indonesia seakan bangsa Indonesia ini tidak ada apa-apanya dibanding dengan Inggris.”

Profil Hotman Paris Hutapea

Hotman Paris Hutapea lahir di Laguboti, Sumatera Utara, pada 20 Oktober 1959. Ia menikah dengan Agustianne Marbun dan dikaruniani tiga anak. Majalah SWA memberikan julukan kepada Hotman Paris sebagai “Celebrity Lawyers” dan “The Most Dangerous Lawyer”.

Setelah lulus dari SMA, Hotman melanjutkan pendidikan di Universitas Katolik Parahyangan. Di sana, ia bertemu dengan istrinya Agustianne Marbun. Hotman melanjutkan studi S2 di University of Technology, Sydney, Australia, dan S2 Master Ilmu Hukum di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Untuk meraih gelar S3 doktor, ia melanjutkan pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Padjajaran.

Kini, Hotman dikenal sebagai pengacara top di bidang hukum bisnis internasional.

Profil Prof Anhar Gonggong

Prof Dr Anhar Gonggong MA lahir di Pinrang, Sulsel, 14 Agustus 1943. Ayahnya menjadi korban pembantaian Westerling, sebuah peristiwa kelam yang menorehkan luka mendalam bagi keluarganya. Pengalaman traumatis ini menumbuhkan rasa ingin tahu yang besar pada sejarah, terutama mengenai peristiwa-peristiwa yang pernah menimpa bangsanya.

Anhar menyelesaikan pendidikan dasarnya, kemudian melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi. Ia meraih gelar sarjana dari Universitas Gadjah Mada, kemudian melanjutkan studi S2 di Universitas Leiden, Belanda. Setelah pulang dari Belanda, Anhar aktif sebagai dosen di berbagai perguruan tinggi, termasuk Universitas Indonesia dan Universitas Negeri Jakarta.

Sebagai seorang akademisi, Anhar telah menghasilkan sejumlah karya tulis ilmiah yang membahas berbagai aspek sejarah Indonesia, mulai dari sejarah politik, sosial, hingga budaya.

Rusmawan

Rusmawan adalah seorang penulis berita online yang serbabisa dalam menguraikan berbagai peristiwa menjadi berita yang jelas dan ringan. Ia suka membaca opini, melakukan riset pendek, dan membuat rangkuman harian. Di waktu senggang, ia menikmati musik instrumental. Motto: “Informasi yang baik dimulai dari niat yang baik.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *