Pengakuan M Sobary: Dari Pendukung Jokowi ke Kritikus
Mohamad Sobary, yang akrab disapa Kang Sobary, seorang budayaan dan mantan pemimpin umum Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara, mengungkapkan perubahan sikapnya terhadap Presiden Joko Widodo. Ia menegaskan bahwa dirinya bukan bagian dari kelompok yang disebut Termul, yang dianggap sebagai pendukung Jokowi yang dibayar.
M Sobary hadir sebagai ahli dalam kasus tudingan ijazah palsu Jokowi, bersama dua ahli lainnya yaitu Wakapolri Komjen (Purn) Oegroseno dan Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin. Salah satu hal yang menjadi sorotan adalah perubahan sikap M Sobary dari seorang pendukung Jokowi menjadi kritikus terhadapnya.
Perubahan Sikap dan Kekecewaan
Sebelum memberikan keterangan kepada penyidik, M Sobary mewanti-wanti agar tidak ada yang menyebutkan kata “Termul” untuk dirinya. Ia menilai bahwa istilah tersebut tidak mencerminkan kebenaran.
“Saya seorang ilmuwan yang mendukung Jokowi, itu karena idealisme. Idealisme saya dan berjuta-juta kaum ilmuwan mendukung,” ujar M Sobary. Namun, ia mengakui bahwa dirinya dan para ilmuwan lainnya tertipu oleh citra Jokowi yang dulu dianggap sederhana, bersih, dan tidak korupsi.
Menurut M Sobary, idealisme yang dulu dimiliki tidak dapat diwujudkan oleh Jokowi. Ia menilai bahwa gagasan-gagasan Jokowi tidak sesuai dengan realitas yang ada.
Penjelasan Metodologi Penelitian
M Sobary menjelaskan bahwa dirinya hadir sebagai ahli untuk menjelaskan metodologi penelitian kepada penyidik. Ia akan menjelaskan proses penelitian mulai dari inspirasi hingga merumuskan instrumen penelitian.
Ia menegaskan bahwa seluruh proses penelitian yang dilakukan tidak menyimpang dari kaidah-kaidah keilmuan. Selain itu, ia juga akan menjelaskan peran Trio RRT, yakni Roy Suryo, Tifauziah Tyassuma alias Dokter Tifa, dan Rismon Hasiholan Sianipar.
Menurut M Sobary, Trio RRT merupakan tiga sosok yang berani menyatakan kebenaran meski penuh risiko. Ia menilai bahwa ketiga orang ini mewakili komunitas bisu dunia ilmu pengetahuan dan intelektual dalam menyampaikan risalah ilmiah.
Pernah Menyebut Jokowi Sebagai Penerus Bung Karno
Dalam acara “Kirab Budaya dan Deklarasi Jogja Istimewa untuk Jokowi-JK” pada 24 Juni 2014, M Sobary pernah menyebut Jokowi sebagai penerus Soekarno atau Bung Karno, Presiden Pertama RI. Ia mengatakan bahwa Jokowi lahir dari rakyat dan tidak pernah berbohong pada rakyat.
Dalam orasinya, M Sobary menyebut bahwa Jokowi menemukan gagasan Revolusi Mental yang awalnya hanya dibacakan sekali pada tahun 1957 dan kemudian diteruskan oleh Pak Jokowi.
Kesimpulan
Perubahan sikap M Sobary dari pendukung Jokowi menjadi kritikus menunjukkan betapa pentingnya kritik konstruktif dalam dunia politik. Ia menegaskan bahwa idealisme dan kebenaran harus tetap dijaga, meskipun ada risiko yang dihadapi. Dengan pengalaman dan latar belakang keilmuan, M Sobary berharap dapat memberikan kontribusi yang bermanfaat dalam proses penyidikan ini.











