"Mengabarkan Enrekang, Menginspirasi Negeri"

Selamat Jalan Sutan Harhara: Legenda Persija dan Timnas yang Diingat sebagai Pria Disiplin

Duka Membalut Dunia Sepak Bola Indonesia

Kehilangan yang mendalam dirasakan oleh dunia sepak bola Indonesia setelah kepergian salah satu legenda, Sutan Harhara. Ia meninggal pada usia 73 tahun dan dimakamkan di TPU Kampung Kandang, Jakarta Selatan, pada Sabtu (11/4/2026). Peristiwa ini menimbulkan rasa duka yang mendalam bagi keluarga dan seluruh komunitas sepak bola nasional.

Penghormatan Terakhir di TPU Kampung Kandang

Saat prosesi pemakaman berlangsung, suasana di TPU Kampung Kandang terasa sangat khidmat. Isak tangis keluarga mengiringi penguburan almarhum di Blad 181, Unit Islam. Hadir dalam acara tersebut adalah sejumlah tokoh besar dari era keemasan sepak bola Indonesia antara tahun 1960 hingga 1980-an, termasuk kiper legendaris Yudo Hadianto, Herry Kiswanto, Jayadi Said, dan Muhammad Zein Al-Hadad.

Adik almarhum, Aun Harhara, mengungkapkan bahwa kepergian sang kakak terjadi secara mendadak. Meskipun tidak memiliki riwayat penyakit serius, Sutan sempat mengeluhkan nyeri dada sebelum dilarikan ke rumah sakit. “Selama ini tidak ada riwayat (sakit), katanya dadanya yang sakit,” ujar Aun dengan nada lirih.

Bek Modern yang Melampaui Zamannya

Yudo Hadianto, kiper legendaris, mengenang Sutan Harhara sebagai bagian tak terpisahkan dari kejayaan Persija saat meraih gelar juara pada 1973. Baginya, Sutan bukan hanya sebagai pemain berkualitas, tetapi juga pribadi yang sangat menghargai senior. “Dia sangat ramah dan selalu menghargai para legenda. Meskipun di bawah saya, dia sangat menghormati kami. Sosoknya adalah teladan nyata bagi anak-anak muda kita saat ini,” kenang Yudo penuh haru.

Herry Kiswanto juga memuji gaya bermain Sutan yang dianggap melampaui masanya. Sebagai bek, Sutan tidak hanya kokoh menjaga wilayahnya, tetapi juga aktif membantu serangan dari sisi sayap—sebuah peran bek sayap modern yang jarang ditemukan pada masanya. “Beliau sangat disiplin, bersih dalam bermain, dan atraktif. Di luar lapangan, sebagai pelatih, beliau tegas namun tetap rendah hati dan selalu memberikan arahan positif kepada pemain muda,” tutur Herry.

Warisan Semangat Juang

Jejak karier Sutan Harhara memang mentereng. Tak hanya sukses sebagai pemain sejak 1975, ia juga menjadi bagian dari sejarah saat membawa Timnas Indonesia melaju hingga semifinal Asian Games 1986 di Seoul sebagai asisten pelatih. Bagi keluarga, Sutan adalah sosok hangat yang selalu memberikan pengertian dan bimbingan. Di lapangan hijau, ia adalah simbol kegigihan.

Kini, “sang penguasa wilayah pertahanan” itu telah beristirahat dengan tenang, namun warisan disiplin dan semangat pantang menyerahnya akan terus menginspirasi generasi pesepak bola Indonesia di masa depan. Selamat jalan, Coach Sutan!


Rizal Hartanto

Penulis berita dengan ketertarikan pada human interest dan kisah inspiratif. Ia senang berbincang dengan masyarakat untuk memahami realitas kehidupan. Ketika tidak menulis, ia menikmati hobi memasak dan mendengar podcast. Motto: "Menulis adalah cara merawat empati."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *