Kembali ke Akar: Permainan Tradisional sebagai Solusi untuk Generasi Muda
Di sebuah lapangan sekolah yang sederhana di Kota Tangerang, tawa anak-anak terdengar lebih nyaring dari biasanya. Tidak ada suara notifikasi, tidak ada tatapan kosong ke layar. Yang ada justru langkah-langkah kecil berlari, teriakan riang, dan wajah-wajah yang memerah karena lelah yang membahagiakan. Di sana, permainan tradisional kembali menemukan rumahnya.
Komite Olahraga Masyarakat Indonesia (Kormi) Kota Tangerang, Banten menilai permainan tradisional di sekolah bisa menjadi aktivitas alternatif untuk melindungi generasi muda dari dampak negatif ketergantungan media sosial. Ketua Kormi Kota Tangerang, Sulfi Afriadi, bahkan telah mengusulkan agar permainan-permainan ini masuk dalam kurikulum sebagai muatan lokal dan kegiatan ekstrakurikuler. Usulan ini sejalan dengan semangat Peraturan Pemerintah tentang Tata Kelola dan Perlindungan Anak di Ruang Digital (PP Tunas) Nomor 17 Tahun 2025, yang mendorong pembatasan akses konten serta perlindungan data anak.
Namun, bagi Kormi, solusi tidak cukup hanya dengan membatasi, anak-anak juga perlu diberi alternatif yang lebih menarik, lebih hidup, dan lebih manusiawi. Di tengah upaya itu, permainan tradisional hadir bukan sekadar sebagai nostalgia, melainkan sebagai ruang baru yang penuh energi.
Berbagai Jenis Permainan Tradisional yang Menginspirasi
Bakiak
Ketika dua batang bambu panjang dipasang sebagai bakiak, anak-anak belajar berjalan bersama, jatuh bersama, lalu tertawa bersama. Setiap langkah membutuhkan koordinasi, kesabaran, dan kepercayaan. Dan di situlah, tanpa disadari, mereka sedang belajar tentang kebersamaan.
Egrang
Egrang berdiri tegak, menantang siapa saja yang berani mencoba. Anak-anak yang awalnya ragu, perlahan menaiki pijakan bambu, lalu mencoba menyeimbangkan tubuh mereka. Sekali jatuh, mereka bangkit lagi. Kedua kali terjatuh, mereka justru tertawa lebih keras. Ada kegigihan yang tumbuh, ada keberanian yang perlahan terasah.
Ketapel
Permainan ketapel menjadi magnet tersendiri. Dengan target sederhana dari kaleng atau buah jatuh, anak-anak saling berlomba menunjukkan ketepatan. Mata mereka fokus, tangan mereka terlatih. Setiap lemparan yang tepat disambut sorak, sementara yang meleset justru memancing canda. Tidak ada algoritma, tidak ada skor digital, hanya kegembiraan yang nyata.

Petak Umpet
Permainan petak umpet kembali hidup di antara bangunan sekolah. Anak-anak berlari mencari tempat bersembunyi, menahan tawa agar tidak ketahuan. Ketegangan kecil saat menunggu ditemukan justru menjadi sensasi yang tak tergantikan. Ketika akhirnya tertangkap, mereka berteriak, lalu berlari lagi, seolah tak pernah lelah.
Engklek
Engklek yang digambar dengan kapur di lantai menjadi panggung keseimbangan dan strategi. Satu kaki melompat, menjaga ritme, menjaga fokus. Sederhana, tetapi penuh tantangan. Setiap garis yang dilompati adalah kemenangan kecil yang membuat mereka ingin mencoba lagi dan lagi.

Congklak dan Engklek
Permainan congklak dan engklek menjadi bagian dari kegiatan yang diadakan di Kantor DPRD Kota Bogor. Anak-anak berpartisipasi dalam perlombaan yang bertujuan untuk melestarikan permainan tradisional kepada pelajar.
Gobak Sodor
Di permainan gobak sodor, napas menjadi cepat, langkah menjadi sigap. Anak-anak belajar membaca gerak lawan, menyusun strategi, dan bekerja sama dalam tim. Teriakan “jaga kanan!” atau “lewat sini!” menggema, menciptakan dinamika yang hidup. Di sana, kecerdasan sosial tumbuh tanpa perlu diajarkan secara formal.
Kelereng
Permainan kelereng menghadirkan dunia kecil penuh konsentrasi. Anak-anak jongkok, menatap tanah, mengukur jarak, lalu melepaskan sentuhan halus yang menentukan kemenangan. Kesabaran menjadi kunci, dan setiap kemenangan kecil terasa begitu berarti.
Lompat Tali
Lompat tali dari rangkaian karet gelang menjadi ajang ketangkasan dan kelincahan. Tali yang semakin tinggi menantang kemampuan, tetapi juga memancing semangat. Anak-anak saling menyemangati, bahkan ketika gagal. Tidak ada ejekan, yang ada justru dorongan untuk mencoba lagi.
Manfaat Permainan Tradisional untuk Anak-Anak
Dalam semua permainan itu, waktu terasa bergerak berbeda. Anak-anak tidak lagi menghitung menit seperti saat menunggu video selesai diputar. Mereka tenggelam dalam momen, larut dalam permainan, dan lupa pada layar yang biasanya begitu memikat. Keseruan itu hadir secara utuh, tanpa jeda, tanpa distraksi.
Permainan tradisional menghadirkan sesuatu yang tidak bisa diberikan oleh gawai: sentuhan, tatapan, dan kebersamaan yang nyata. Di sana ada peluh, ada debu, ada tawa yang pecah tanpa filter. Anak-anak belajar mengenali emosi, mengelola kekalahan, dan merayakan kemenangan dengan cara yang sederhana namun membekas.
Kormi Kota Tangerang melihat bahwa di balik kesederhanaannya, permainan tradisional menyimpan potensi besar untuk membentuk karakter. Ia melatih kerja sama, kejujuran, sportivitas, dan empati, nilai-nilai yang sering kali hilang dalam interaksi digital.
Lebih dari itu, permainan tradisional mengembalikan anak pada fitrahnya: bergerak, berinteraksi, dan merasakan dunia secara langsung. Ia menjadi jembatan antara masa lalu dan masa depan, antara nilai-nilai lama dan tantangan zaman baru.
Ketika anak-anak kembali berlari di lapangan, ketika tawa mereka mengalahkan bunyi notifikasi, di situlah harapan itu tumbuh. Bahwa generasi yang kuat tidak hanya dibentuk oleh teknologi, tetapi juga oleh pengalaman-pengalaman sederhana yang penuh makna.
Dan mungkin, di tengah dunia yang semakin digital, jawaban untuk melindungi anak-anak justru terletak pada hal-hal yang paling mendasar: bermain, bersama, dan menjadi manusia sepenuhnya.
Rusmawan adalah seorang penulis berita online yang serbabisa dalam menguraikan berbagai peristiwa menjadi berita yang jelas dan ringan. Ia suka membaca opini, melakukan riset pendek, dan membuat rangkuman harian. Di waktu senggang, ia menikmati musik instrumental. Motto: “Informasi yang baik dimulai dari niat yang baik.”











