Stabilitas Harga Tahu dan Tempe di Tingkat Pengrajin
Harga tahu dan tempe di tingkat pengrajin masih bertahan di kisaran Rp12.000 hingga Rp13.000 per kilogram. Meskipun tekanan geopolitik global berdampak pada rantai pasok kedelai dunia, harga bahan pokok ini tidak mengalami kenaikan yang signifikan.
Kementerian Pertanian (Kementan) bersama importir dan asosiasi pengrajin menegaskan komitmen bersama untuk menjaga stabilitas harga bahan pangan pokok berbasis kedelai tersebut. Sekretaris Jenderal Gabungan Koperasi Tahu Tempe Indonesia (Gakoptindo), Wibowo Nurcahyo, memastikan bahwa harga tahu dan tempe di tingkat pengrajin tetap stabil tanpa lonjakan yang signifikan.
“Kami jamin tahu tempe tidak naik harganya, tapi mungkin ada penyesuaian dari sisi volume. Dari sisi rasa dan kualitas tetap kami jaga. Hasil pantauan kami harga tahu tempe tetap stabil di kisaran Rp12.000 sampai Rp13.000, tidak ada kenaikan yang cukup signifikan,” kata Wibowo.
Wibowo menjelaskan bahwa harga kedelai yang dibeli pengrajin dari importir saat ini masih berada jauh di bawah Harga Acuan Penjualan (HAP) yang ditetapkan pemerintah. Justru tekanan biaya yang dirasakan pengrajin bukan bersumber dari kedelai, melainkan dari bahan penunjang produksi.
“Untuk kedelainya kami beli dari importir itu di harga Rp10.200 dan itu masih sangat jauh di bawah HAP, jadi kalau dari harga kami masih stabil. Justru sebenarnya yang menjadi sedikit masalah bukan dari kedelainya tapi dari penunjangnya yaitu plastik,” jelasnya.
Dalam forum rapat koordinasi Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementan bersama asosiasi dan pelaku usaha, disepakati penerapan HAP kedelai sebesar Rp11.500 per kilogram di tingkat importir, dengan jaminan harga di tingkat pengrajin tidak melampaui Rp12.000 per kilogram hingga adanya perubahan kebijakan berikutnya.
“Ya ada komitmen kami sepakat dari HAP Rp11.500 di tingkat para importir dan Rp12.000 di tingkat kami (pengrajin tahu tempe) dan menurut kami itu angka yang masih wajar. Kami harap masyarakat tidak terpancing dengan isu-isu berita yang tidak sesuai,” ucap Wibowo.
Harga Kedelai di Berbagai Wilayah
Kondisi harga tersebut juga dikonfirmasi oleh data Gakoptindo yang diolah Badan Pangan Nasional per 8 April 2026. Harga kedelai di berbagai wilayah tercatat masih berada di bawah ambang batas HAP.
Di Jakarta, rerata harga kedelai berada di kisaran Rp10.500–Rp11.000 per kilogram;
Jawa Rp10.555 per kilogram;
Bali dan NTB Rp10.550 per kilogram;
Sumatra Rp11.450 per kilogram;
Sulawesi Rp11.113 per kilogram;
Kalimantan Rp10.908 per kilogram.
Seluruh angka tersebut masih berada di bawah batas maksimal HAP kedelai impor di tingkat pengrajin sebesar Rp12.000 per kilogram.
Tekanan Eksternal
Dari sisi importir, Direktur PT FKS Multi Agro Tbk, Tjung Hen Sen, membenarkan bahwa harga kedelai di tingkat pengrajin saat ini berada dalam kisaran yang wajar meski diakuinya ada tekanan dari sejumlah faktor eksternal.
“Saya rasa di tingkat importir saat ini sudah wajar, mungkin di sekitar Rp10.100 sampai Rp10.300 per kilogram tergantung wilayah. Di tingkat pengrajin mungkin sekarang ini sekitar Rp10.500 sampai dengan Rp11.000 per kilogram,” ujarnya.
Hen Sen menambahkan bahwa menjaga stabilitas harga bukan sepenuhnya tanggung jawab satu pihak, melainkan memerlukan sinergi antara pelaku usaha dan pemerintah.
“Menjaga stabilitas bukan tanggung jawab satu pihak saja, melainkan melibatkan semua pihak baik swasta maupun pemerintah. Perlu saling bekerja sama supaya suasana usaha menjadi lebih kondusif,” tambahnya.
Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementan, Yudi Sastro, sekaligus meluruskan isu yang sempat beredar di masyarakat mengenai harga kedelai yang diklaim menyentuh Rp20.000 per kilogram. Ia menegaskan informasi tersebut tidak benar berdasarkan hasil verifikasi langsung kepada pelaku usaha.
“Kami sudah verifikasi langsung ke pelaku usaha, dan informasi yang menyebut harga kedelai tembus Rp20 ribu itu tidak benar. Harga tetap di bawah HAP, bahkan di level importir masih sekitar Rp11.500,” tegas Yudi.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman turut mengingatkan para importir agar tidak memanfaatkan situasi global yang tidak menentu untuk mengambil keuntungan berlebih yang pada akhirnya merugikan pengrajin.
“Terkait kedelai, kami sudah minta teman-teman importir jangan mengambil keuntungan besar. Naik bolehlah naik tetapi jangan sampai itu menekan saudara-saudara kita yang membutuhkan,” tegas Amran.
Langkah Ke Depan
Ke depan, pemerintah memastikan akan terus memantau implementasi kesepakatan HAP di lapangan sekaligus mendorong pengurangan ketergantungan terhadap kedelai impor melalui program pengembangan kedelai dalam negeri seluas 37.500 hektare pada tahun 2026.











