"Mengabarkan Enrekang, Menginspirasi Negeri"

TINS Kuasai 1,2 Juta Ton Monasit, Tanda Besar Logam Tanah Jarang RI?

Potensi Monasit sebagai Bahan Baku Logam Tanah Jarang

PT Timah Tbk (TINS) mengungkapkan potensi monasit sebagai bahan baku logam tanah jarang dari wilayah izin usaha pertambangan (IUP) emiten tersebut mencapai 1,2 juta ton. Ke depan, potensi tersebut akan divalidasi lebih lanjut melalui kegiatan eksplorasi dan pengeboran di beberapa titik lokasi.

“Berdasarkan hasil dari riset Timah dan Institut Teknologi Bandung (ITB), insyaallah kami sudah mendapatkan satu data yang cukup fantastis yaitu potensi indikatif monasit sebagai bahan utama dari logam tanah jarang pada kisaran 1,2 juta ton,” kata Direktur Utama TINS, Restu Widiyantoro, dalam rapat dengar pendapat (RDP) bersama Komisi VI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (31/3).

Fokus pada Pengolahan Mineral Ikutan Timah

Tak hanya itu, perusahaan juga akan fokus pada pengolahan mineral ikutan timah seperti ilmenit, zirkon, dan monasit. Monasit menjadi perhatian utama karena merupakan sumber utama logam tanah jarang yang banyak dibutuhkan untuk industri teknologi, energi baru dan terbarukan (EBT), serta kendaraan listrik.

Adapun TINS akan memulai pembangunan alias groundbreaking pabrik pengolahan mineral logam tanah jarang (LTJ) atau rare earth element pada 20 Mei mendatang.

Proyek Hilirisasi Mineral

Restu mengatakan, proyek ini menjadi bagian dari program hilirisasi mineral yang sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto untuk mempercepat pengembangan industri mineral strategis nasional. Proyek pengolahan mineral tanah jarang ditargetkan dapat menghasilkan pendapatan bagi negara dalam waktu maksimal dua tahun setelah pembangunan dimulai.

“Pak Presiden sudah memerintahkan harus monetisasi, selama paling cepat atau paling lambat dua tahun harus ada produk monetisasinya. Artinya, sudah bisa menghasilkan uang untuk negara,” ujar Restu.

Kerja Sama dengan Perminas

Dalam proyek tersebut, TINS akan bekerja sama dengan Perminas dalam pengembangan industri logam tanah jarang. Kerja sama tersebut mencakup pengolahan mineral ikutan timah, terutama monasit yang merupakan bahan baku utama logam tanah jarang.

Kinerja Keuangan TINS

Restu mengungkapkan, PT Timah Tbk meraup laba sekitar Rp 1,1 triliun sepanjang 2025. Adapun sepanjang 2024, TINS mencatatkan laba bersih mencapai Rp1,19 triliun atau melonjak 364% YoY dari kerugian Rp 449,67 miliar pada 2023.

“Keuntungan bersih dari perusahaan kami Rp 1,1 atau mendekati Rp 1,2 triliun untuk Tahun 2025,” kata Restu.

Tak hanya itu, Restu juga mengatakan pendapatan TINS sekitar Rp 12 triliun. Apabila menilik Tahun Buku 2024, TINS meraup pendapatan sebesar Rp 10,86 triliun. Alhasil, jika dikalkulasikan perusahaan mencatatkan kenaikan pendapatan hingga 10,5% YoY.

Penurunan Produksi dan Penjualan

Meskipun begitu, di tengah kenaikan laba TINS, produksi bijih timah sepanjang 2025 turun 4% YoY menjadi 18.635 ton dari 2024 sebanyak 19.473 ton. Lalu produksi logam timah juga anjlok 6% YoY menjadi 17.815 metrik ton dari produksi 2024 sebesar 18.915 metrik ton.

Pada saat bersamaan, penjualan logam timah juga merosot 5% menjadi 16.634 metrik ton dari sebelumnya 17.507 metrik ton. Restu menyampaikan secara umum kinerja korporasi sepanjang 2025 belum sepenuhnya mencapai target.

Perseroan sebelumnya menargetkan produksi bijih timah dalam Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) 2025 sebesar 21.500 ton. Namun realisasinya tercatat sekitar 18.635 ton atau turun 4% YoY.

Muhammad Muhlis

Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *