Sejarah dan Tradisi di Pekuburan Sentosa Pangkalpinang
Pada siang hari tanggal 4 April 2026, suasana hening menggantung di kawasan Pekuburan Sentosa Pangkalpinang, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Angin sepoi-sepoi menyapu pepohonan tua yang berdiri kokoh di antara ribuan nisan. Di tengah ketenangan itu, reporter melangkah masuk ke salah satu sudut paling bersejarah di kompleks pemakaman masyarakat Tionghoa yang terletak di Jalan Soekarno Hatta.
Ketua Yayasan Pekuburan Sentosa Pangkalpinang, Johan Riduan Hasan, menjadi pemandu dalam perjalanan menyibak jejak masa lalu yang tersimpan di sana. Langkah kami terhenti di sebuah makam yang tampak berbeda dari lainnya—lebih luas, lebih terbuka, dan terlihat terawat. Di bagian tengahnya terdapat altar sederhana dengan tulisan beraksara Tionghoa yang masih jelas terbaca.
“Inilah yang kami yakini sebagai makam tertua di sini,” ujar Johan kepada . Makam itu diketahui milik Boen Ngin Foek. Berdasarkan penelusuran yayasan, angka tahun yang tertera menunjukkan 1911 dengan penambahan empat tahun, sehingga diperkirakan makam tersebut berasal dari tahun 1915.
“Bisa jadi ini yang pertama. Beliau juga diyakini sebagai pemilik lahan di kawasan ini yang kemudian dihibahkan untuk dijadikan area pemakaman,” jelas Johan.
Berdiri di hadapan makam tersebut, saya merasakan semacam jeda waktu, seolah sejarah panjang komunitas Tionghoa di Pangkalpinang terhimpun dalam satu titik. Meski usianya lebih dari satu abad, kondisi makam tetap terjaga. Area depannya lapang, susunan bangunannya kokoh, bahkan terlihat lebih besar dibandingkan makam-makam lain di sekitarnya.
Pekuburan Sentosa sendiri dipercaya mulai dibangun pada tahun 1935. Namun keberadaan makam Boen Ngin Foek menjadi penanda bahwa aktivitas pemakaman di kawasan ini telah dimulai jauh sebelumnya. Saat ini, kompleks pemakaman tersebut memiliki luas sekitar 19,9 hektare, dengan jumlah makam diperkirakan mencapai lebih dari 14.000.
Deretan nisan tersusun rapi mengikuti kontur lahan, sebagian besar mengusung arsitektur khas Tionghoa dengan ornamen melengkung dan detail simbolik yang sarat makna. Menurut Johan, mayoritas makam tertua lainnya berasal dari era 1930-an, beriringan dengan peresmian kawasan pemakaman tersebut.
“Kalau yang lain rata-rata di tahun 1930-an, sekitar 1935. Tapi yang ini lebih dulu,” kata Johan.
Beberapa keluarga tampak datang silih berganti, membersihkan area makam, menyiapkan perlengkapan sembahyang, hingga merapikan altar. Johan menjelaskan, masyarakat Tionghoa akan melaksanakan ibadah Ceng Beng atau Chengbeng yang puncaknya jatuh pada Minggu, 5 April 2026.
“Sebetulnya sudah dimulai sejak beberapa hari lalu, sekitar tanggal 21 kemarin. Tapi puncaknya besok,” ungkapnya.
Tradisi sembahyang Chengbeng biasanya dilakukan sejak pagi hari. Warga Tionghoa akan berziarah, membersihkan makam leluhur, serta mempersembahkan doa dan sesaji sebagai bentuk penghormatan kepada orang tua dan keluarga yang telah meninggal. Pantauan di lokasi, persiapan jelang puncak ibadah tersebut sudah mulai terasa. Beberapa makam tampak telah dibersihkan, rumput dipangkas, dan perlengkapan sembahyang seperti dupa, kertas sembahyang, mulai disiapkan.
Tak hanya itu, saya juga melihat sejumlah makam yang telah lebih dahulu melaksanakan sembahyang. Hal itu ditandai dengan kertas berwarna yang diletakkan di atas pusara, menjadi penanda bahwa ritual telah dilakukan oleh keluarga.
Menurut Johan, pelaksanaan sembahyang Chengbeng memang bersifat fleksibel dan tidak harus dilakukan tepat di hari puncak.
“Boleh saja dilakukan lebih awal, tidak harus tanggalnya. Tapi puncaknya tetap di hari terakhir, besok 5 April,” kata Johan.











