"Mengabarkan Enrekang, Menginspirasi Negeri"
Daerah  

Deyce Lahia, Oma 69 Tahun, Tewas Tertimpa Reruntuhan Gedung KONI Akibat Gempa 7,6 SR di Manado

Korban Meninggal Akibat Gempa di Manado

Seorang lansia bernama Deyce Lahia (69) meninggal dunia setelah tertimpa reruntuhan kanopi Gedung KONI Sario saat gempa bumi berkekuatan 7,6 SR mengguncang Manado dan sekitarnya. Peristiwa ini terjadi pada Kamis, 2 April 2026, sekitar pukul 06.48 WITA. Pusat guncangan berada di Kota Bitung, namun getaran kuat dirasakan hingga Manado, Minahasa Utara (Minut), wilayah Bolaang Mongondow, Bolsel, Boltim, Gorontalo hingga Ternate.

Deyce Lahia dikenal sebagai kakak dari Ilham Lahia, petinju legendaris asal Sulawesi Utara yang pernah mencapai babak 16 besar Olimpiade Seoul 1988. Sehari-hari, Deyce tinggal di kawasan sekitar kanopi Gedung KONI dan berjualan di kantin dekat lapangan. Warga setempat mengenalnya sebagai sosok yang ramah dan baik hati.

Saat kejadian, Deyce diketahui berusaha menyelamatkan diri dari tempat tinggalnya yang berada di sekitar lokasi tersebut. Namun, naasnya, ia tertimpa bangunan yang roboh di bagian tengah kanopi. Saksi mata, Rasid Poli, mengungkapkan bahwa ia melihat korban sempat berlari saat gempa terjadi. Namun, reruntuhan bangunan lebih dulu jatuh dan menimpanya.

β€œIa sempat lari, tapi tertimpa di bagian tengah kanopi,” ujar Rasid, yang mengaku mengenal dekat korban dan merasa trauma atas kejadian tersebut. Rasid mengatakan bahwa saat kejadian, ia tengah mencangkul di samping kanopi gedung KONI. Tiba-tiba terjadi gempa. Dalam keadaan kalut, ia melihat korban yang bernama Deyce Lahia (69) berlari untuk menyelamatkan diri dari tempat tinggalnya di bagian bawah kanopi. Sialnya, ia tertimpa bangunan.

Selain Deyce, ada satu korban lainnya yang mengalami luka-luka akibat gempa. Gempa juga menyebabkan kanopi Gedung KONI runtuh dan menimbulkan sejumlah korban. Data sementara dari pihak kepolisian menyebutkan terdapat dua korban di lokasi itu, terdiri dari satu orang meninggal dunia dan satu lainnya mengalami luka-luka. Selain itu, ada juga korban lain yang terluka setelah melompat dari lantai dua bangunan, serta seorang warga yang terjatuh saat berlari di kawasan Jalan Pierre Tendean.

Kerusakan dan Dampak Gempa Bumi

Gempa bumi berkekuatan 7,6 SR mengguncang Sulawesi Utara (Sulut) pada Kamis, 2 April 2026, sekitar pukul 06.48 WITA. Pusat guncangan berada di Kota Bitung, getaran kuat dirasakan hingga Manado, Minahasa Utara (Minut), wilayah Bolaang Mongondow, Bolsel, Boltim, Gorontalo hingga Ternate. Kepanikan warga pun tak terhindarkan, terutama di kawasan permukiman padat.

Di wilayah pesisir, fenomena perubahan muka air laut sempat terjadi. Di Pulau Bangka tepatnya di Lihunu, Minut air laut dilaporkan naik lalu turun drastis. Sementara di Lembeh dan pintu masuk Kota Bitung, air laut terinformasi naik dengan cepat hingga mencapai badan jalan. Masih di Lembeh kota kecil, air laut dikabarkan alami penyusutan secara tak biasa. Sebaliknya, di Belang, air laut justru surut secara ekstrem.

Kerusakan bangunan dilaporkan terjadi di sejumlah titik. Dinding RS Siloam Manado mengalami retak akibat guncangan. Selain itu, plafon Gereja Katolik Paroki Bhky Rumengkor runtuh. Sementara Gereja Jemaat Imanuel Bitung dilaporkan mengalami kerusakan. Di Kota Manado, rumah warga di Kelurahan Banjer Lingkungan II juga mengalami kerusakan, disertai laporan perabot rumah tangga yang rusak akibat guncangan.

Fasilitas umum tak luput dari dampak. Gedung olahraga milik Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) di Manado dilaporkan mengalami kerusakan. Bahkan, seorang warga dikabarkan meninggal dunia, meski detail penyebabnya masih menunggu konfirmasi resmi dari pihak berwenang. Di kompleks Perumahan Viola Land 2, Matungkas, Minahasa Utara, warga terlihat panik berhamburan keluar rumah saat gempa terjadi. Sebagian warga berlari tanpa sempat mengenakan pakaian lengkap, bahkan ada yang sambil membawa bayi dan menggendong anak-anak demi menyelamatkan diri.

Peringatan Dini Tsunami dan Situasi Terkini

Pasca gempa, sejumlah wilayah di Sulawesi Utara dan Maluku Utara juga sempat mendapatkan peringatan dini tsunami. Warga diimbau tetap waspada, menjauhi wilayah pesisir, serta mengikuti arahan resmi dari pemerintah dan lembaga terkait untuk menghindari risiko lanjutan.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat gempa terjadi sekitar pukul 05.48 WIB atau 06.48 WITA dengan magnitudo awal mencapai 7,3–7,6. Pusat gempa berada di laut, sekitar 127–129 kilometer tenggara Kota Bitung, dengan kedalaman berkisar 18 hingga 62 kilometer. Berdasarkan hasil pemodelan BMKG, sejumlah wilayah di Maluku Utara dan Sulawesi Utara berpotensi terdampak tsunami dengan status berbeda, yakni Siaga dan Waspada.

Peringatan Dini Tsunami Berakhir Kamis Siang, Aktivitas Pesisir Dinyatakan Aman. BMKG resmi mengakhiri peringatan dini tsunami pada Kamis (2/4/2026) pukul 10.56 Wita. Saat ini kondisi dinyatakan aman untuk beraktivitas. Hal ini dibenarkan oleh Kepala Stasiun Geofisika Manado, Tony Agus Wijaya. Keputusan tersebut diambil karena tidak lagi terdeteksi aktivitas tsunami serta gempa susulan yang terjadi menunjukkan tren melemah.

Muhammad Muhlis

Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *