Tantangan Pengelolaan Sampah di Indonesia
Timbulan sampah di Indonesia mencapai angka yang sangat besar, yaitu sekitar 56 juta ton setiap tahun. Namun, hanya sebagian kecil dari sampah tersebut yang berhasil dikelola secara efektif. Data menunjukkan bahwa hanya 39 persen sampah yang dikelola dengan baik, sementara 22 persen lainnya masih ditimbun di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dengan metode “open dumping”. Sisanya, sebesar 39 persen, terbuang ke lingkungan melalui berbagai cara seperti pembakaran, illegal dumping, atau dibuang ke badan air.
Di tingkat daerah, khususnya di Kabupaten Bogor, volume sampah yang dihasilkan mencapai ribuan ton per hari. Hal ini turut meningkatkan risiko munculnya titik-titik timbulan sampah liar, terutama di kawasan penyangga seperti Puncak, Jawa Barat. Praktik pembuangan sampah yang tidak terkendali memberikan tekanan terhadap ekosistem, mengganggu sistem aliran air, dan meningkatkan risiko banjir serta longsor di wilayah lereng.
Untuk mengurangi potensi masalah tersebut, Eiger Adventure Land (EAL) menggelar aksi bersih-bersih sampah di Desa Sukagalih, Megamendung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Kegiatan ini dilakukan di Kawasan Zona Pemanfaatan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP), tepatnya pada pertengahan Maret lalu. Sebanyak 70 relawan EAL terlibat dalam kegiatan tersebut bersama Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bogor dan TNGGP.
Direktur Utama EAL, Imanuel Wirajaya, menyatakan bahwa tim berhasil mengangkat sekitar 6 ton sampah atau setara dengan empat truk. Berdasarkan estimasi di lapangan, total timbulan sampah di titik tersebut diperkirakan mencapai sekitar 30 ton atau setara dengan 20 truk. Oleh karena itu, proses pembersihan akan dilakukan secara bertahap.
“Kegiatan ini menjadi komitmen kami yang tidak hanya berfokus pada pengembangan Kawasan tetapi juga pada upaya menjaga kualitas lingkungan di area sekitarnya, termasuk desa penyangga dan kawasan konservasi,” ujar Imanuel.
“Interaksi dengan alam tidak berhenti pada eksplorasi, tetapi juga pada tanggung jawab untuk merawat dan menjaganya. Permasalahan sampah di kawasan seperti Puncak tidak hanya soal volume, tetapi juga perilaku. Pembuangan sampah sembarangan dapat berdampak langsung terhadap lingkungan sekitar, mulai dari pencemaran hingga potensi bencana,” tambahnya.
Melalui kegiatan ini, Imanuel berharap masyarakat lebih peduli dan bersama-sama menjaga kawasan ini tetap bersih. Perubahan perilaku dan wajib pilah sampah dari sumber sangat penting diwujudkan.
Selanjutnya, Imanuel berharap inisiatif yang didorong pihaknya terkait pengelolaan sampah di kawasan Megamendung sejalan dengan kesadaran masyarakat. Ia berjanji pengembangan sistem pengelolaan sampah terintegrasi bakal dirancang sebagai kontribusi jangka panjang dalam menjaga keseimbangan ekosistem di wilayah hulu.
Pendekatan Sistemik dalam Pengelolaan Sampah
Sementara itu, Guru Besar Teknik Sipil dan Lingkungan IPB University Arief Sabdo Yuwono menekankan pentingnya pendekatan yang lebih sistemik dalam pengelolaan sampah. Permasalahan sampah tidak bisa lagi diselesaikan dengan pendekatan konvensional seperti open dumping.
“Diperlukan perubahan sistem pengelolaan sampah mulai dari sumbernya, termasuk kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan serta penguatan sistem pengelolaan yang lebih berkelanjutan,” jelasnya.
Pendekatan sistemik ini melibatkan partisipasi aktif masyarakat, pengelolaan sampah dari sumber, serta pengembangan infrastruktur yang mendukung pengelolaan sampah secara berkelanjutan. Dengan demikian, tantangan pengelolaan sampah di Indonesia dapat diminimalkan dan lingkungan dapat terjaga dengan lebih baik.
Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."










