Wilayah Luwu Rawan Longsor, Masyarakat Diminta Waspada
BPBD Kabupaten Luwu telah memetakan sembilan kecamatan yang berpotensi mengalami longsor. Wilayah-wilayah tersebut adalah Kecamatan Suli Barat, Latimojong, Bastem, Bastem Utara, Walenrang Barat, Walenrang Utara, Bajo Barat, Larompong, dan Larompong Selatan. Koordinator Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Luwu, Karyadi, menekankan pentingnya kewaspadaan masyarakat terhadap ancaman longsor, terutama saat peralihan musim.
Karyadi menjelaskan bahwa kondisi cuaca di Luwu memiliki karakteristik yang berbeda dibanding daerah lain. “Khusus di Luwu, kita memiliki cuaca yang tidak menentu,” ujarnya. Meski musim kemarau tidak terlalu terasa, wilayah ini masih berpotensi diguyur hujan. Namun, potensi bencana tetap harus diwaspadai.
Salah satu ancaman utama saat musim kemarau adalah gagal panen, terutama pada sektor pertanian padi dan perkebunan yang sangat bergantung pada ketersediaan air. Selain itu, musim kemarau juga berpotensi memicu kebakaran hutan dan lahan. Kondisi tanah kering bisa menyebabkan retakan, yang berpotensi memicu longsor saat musim hujan tiba.
Masyarakat diminta untuk mulai melakukan langkah antisipasi sejak dini, terutama dalam memenuhi kebutuhan air sehari-hari. Karyadi mengimbau warga menggunakan air secara efisien, seperti mengecek serta memperbaiki keran yang bocor untuk menghindari pemborosan. Ia juga meminta warga menyiapkan sumber air cadangan seperti sumur atau penampungan air.
Siaga Kebakaran Akibat El Nino
Pemadam Kebakaran (Damkar) Wajo meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi fenomena El Nino yang berpotensi memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Fenomena ini disebut sebagai “El Nino Godzilla” karena pemanasan suhu permukaan laut di Samudera Pasifik dapat menyebabkan kekeringan ekstrem, krisis air, dan meningkatnya risiko kebakaran.
Plt Satpol PP dan Damkar Wajo, Andi Hasanuddin, mengatakan pihaknya mulai menyusun berbagai strategi teknis sebagai bentuk antisipasi dini. Salah satu langkah yang dilakukan adalah meninjau ulang kesiapan personel melalui latihan mandiri serta pembentukan tim siaga di lapangan. Koordinasi lintas instansi juga diperkuat, termasuk dengan Dinas Pertanian, Dinas Perikanan, dan Dinas Lingkungan Hidup.
Selain itu, upaya deteksi dini diperkuat hingga ke tingkat desa. Petugas akan rutin memantau titik panas atau hotspot sebagai indikator potensi kebakaran. Pemerintah daerah juga mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran sembarangan, baik pembakaran sampah maupun pembukaan lahan.
Maros Memasuki Masa Pancaroba
Kabupaten Maros mulai memasuki masa pancaroba atau peralihan musim. Kemarau tahun ini diprediksi lebih cepat dibanding tahun sebelumnya. Ketua Tim Kerja Bidang Meteorologi BMKG Wilayah IV, Rizky Yudha, mengatakan bahwa musim kemarau di Maros diprediksi akan datang lebih awal pada tahun ini. “Maros diperkirakan mulai masuk musim kemarau pada dasarian pertama bulan Mei,” ujarnya.
Menurutnya, jika dibandingkan tahun sebelumnya, awal musim kemarau tahun ini maju sekitar tiga dasarian. Artinya, kemarau datang hampir satu bulan lebih cepat dari biasanya. Puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus 2026, dengan cuaca yang lebih panas dan curah hujan yang menurun.
BMKG memprediksi adanya potensi fenomena El Nino dengan intensitas lemah pada semester kedua tahun ini. Fenomena tersebut diperkirakan mulai terasa sejak Juli. Dengan kondisi tersebut, musim kemarau tahun ini berpotensi terasa lebih kering dan berlangsung lebih lama. Durasi kemarau diperkirakan terjadi hingga Oktober 2026.
Rizky mengimbau masyarakat untuk mulai melakukan langkah mitigasi sejak dini, terutama dalam menghadapi potensi berkurangnya curah hujan. Sementara itu, Kepala BPBD Maros, Towadeng, mengatakan pihaknya telah melakukan sosialisasi kepada masyarakat terkait potensi kemarau tersebut. Ia menyebut suhu udara saat musim kemarau berpotensi mencapai 38 derajat Celcius.
Langkah Antisipasi dan Penyaluran Air Bersih
BPBD Maros juga telah menyiapkan langkah antisipasi menghadapi potensi kekeringan. Salah satunya dengan menyalurkan air bersih ke wilayah yang terdampak. Sejumlah kecamatan diperkirakan akan terdampak cukup parah, seperti Kecamatan Bontoa, Lau, Marusu, dan Maros Baru. Dampak kekeringan juga berpotensi meluas ke wilayah lain, termasuk Turikale, Tanralili, Simbang, dan sebagian Bantimurung.
Towadeng menyebut wilayah Bontoa menjadi salah satu daerah paling rentan karena keterbatasan akses air bersih. Untuk mengatasi kondisi tersebut, penyaluran air dari luar wilayah menjadi solusi utama. Tahun lalu, penyaluran air bersih mencapai lebih dari 500 tangki. Ia memperkirakan jumlah itu berpotensi meningkat pada tahun ini, tergantung kondisi di lapangan.
Pemerintah daerah pun diminta terus bersiaga menghadapi potensi kemarau yang lebih cepat dan lebih kering tahun ini.











