"Mengabarkan Enrekang, Menginspirasi Negeri"
Budaya  

Misa Sabtu Suci: Makna dan Jadwal Vigili Paskah di Palangka Raya Kalteng

Perayaan Paskah di Palangka Raya, Kalteng

Pada hari Sabtu (4/4/2026), umat Katolik di Palangka Raya, Kalimantan Tengah (Kalteng) merayakan Sabtu Suci sebagai bagian dari rangkaian Tri Hari Suci. Perayaan ini merupakan momen penting dalam tradisi iman Katolik yang menggambarkan perjalanan Yesus Kristus dari wafat hingga kebangkitan.

Rangkaian perayaan dimulai sejak Kamis Putih (2/4/2026), dilanjutkan dengan Jumat Agung (3/4/2026), dan kini memasuki Sabtu Suci. Puncaknya akan dirayakan pada Hari Raya Paskah, Minggu (5/4/2026) besok.

Pastor Alfonsus Danang, Direktur Catholic Center, menjelaskan bahwa Sabtu Suci adalah hari hening yang mengingatkan umat akan peristiwa Yesus Kristus beristirahat di makam setelah wafat pada Jumat Agung. Ia menekankan bahwa hari ini menjadi waktu untuk merenungkan pengorbanan Kristus serta melakukan refleksi diri.

“Ini adalah momen refleksi mendalam atas pengorbanan Kristus dan penantian harapan iman, sebelum puncaknya dirayakan dalam Vigili Paskah pada malam hari,” ujarnya.

Kebermaknaan Sabtu Suci

Menurut Pastor Danang, suasana Sabtu Suci identik dengan keheningan dan duka yang khidmat. Umat diajak untuk merenungkan penderitaan serta wafat Kristus, sekaligus memperhatikan nilai-nilai iman yang terkandung dalam peristiwa tersebut. Namun, di balik keheningan tersebut, umat juga berada dalam penantian penuh harapan akan kemenangan kehidupan atas kematian.

Dalam tradisi iman Katolik, Sabtu Suci juga dikenang sebagai saat Yesus turun ke alam maut untuk membawa keselamatan bagi jiwa-jiwa yang menantikan-Nya. Hal ini menandai puncak pengorbanan dalam misi penebusan dosa yang dimulai sejak Jumat Agung.

Romo Danang menambahkan bahwa hari ini menjadi penghubung antara peristiwa Jumat Agung dan sukacita Minggu Paskah. Dengan demikian, Sabtu Suci tidak hanya menjadi waktu untuk berduka, tetapi juga untuk bersiap menghadapi kebangkitan Kristus.

Misa Vigili Paskah

Puncak perayaan akan berlangsung dalam Misa Vigili Paskah pada Sabtu malam. Misa ini dilaksanakan dalam suasana gelap, kemudian dilanjutkan dengan penyalaan lilin Paskah sebagai simbol Kristus yang mengalahkan kegelapan dosa dan maut.

“Misa Vigili Paskah dilaksanakan malam hari karena melambangkan berjaga-jaga menantikan kebangkitan Kristus, dari kegelapan menuju terang kehidupan,” jelasnya.

Ia menjelaskan bahwa istilah “vigili” berasal dari bahasa Latin vigilia yang berarti berjaga-jaga atau bersiap menantikan kebangkitan Tuhan. Tradisi ini juga merujuk pada kisah Injil, di mana umat menantikan kebangkitan Yesus yang terjadi pada dini hari.

“Vigili Paskah menjadi perayaan yang paling sakral karena menandai awal kebangkitan Kristus,” tambahnya.

Di Palangka Raya, umat akan mengikuti Misa Vigili Paskah di Gereja Santa Maria – Katedral Palangka Raya pada pukul 17.30 WIB dan 21.00 WIB. Selain itu, misa juga dilaksanakan di Stasi Kalampangan pukul 17.00 WIB serta di GSG pukul 17.30 WIB.

Perayaan Paskah Berlanjut

Rangkaian perayaan akan berlanjut pada Hari Raya Paskah, Minggu (5/4/2026), dengan jadwal misa pukul 07.00 WIB, 10.00 WIB, dan 17.00 WIB di Katedral, serta pukul 08.00 WIB di Stasi Kalampangan.

Pastor Danang juga mengajak umat untuk menjadikan perayaan ini sebagai momen refleksi atas karya penebusan Kristus. Ia mengingatkan agar umat tidak hanya mengenang penderitaan dan kebangkitan Kristus, tetapi juga merefleksikan apakah dalam kehidupan sehari-hari telah menjalankan kehendak Tuhan atau masih mengikuti kehendak pribadi.

“Melalui luka-luka-Nya kita disembuhkan, melalui wafat-Nya dosa-dosa kita dihapuskan, dan melalui kebangkitan-Nya hidup kita diperbaharui,” ujarnya.

Ia berharap, umat dapat menjadi saksi Kristus yang membawa terang dan damai bagi sesama dalam kehidupan sehari-hari.

Perayaan Paskah menjadi momen penting bagi umat Kristiani untuk merayakan kebangkitan Yesus Kristus sebagai simbol kemenangan kehidupan atas kematian dan dosa.


Bahjah Jamilah

Bahjah Jamilah adalah seorang penulis berita yang menyoroti dunia kuliner dan perjalanan. Ia suka mengeksplorasi makanan baru, memotret hidangan, serta menulis ulasan perjalanan. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca blog kuliner. Motto: “Setiap rasa menyimpan cerita.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *