"Mengabarkan Enrekang, Menginspirasi Negeri"

Kisah Dony Tri Pamungkas: Dari Penjual Es ke Bintang Timnas Indonesia

Perjalanan Dony Tri Pamungkas dari Desa ke Panggung Internasional

Dony Tri Pamungkas kini menjadi sorotan utama dalam dunia sepak bola Indonesia. Debutnya sebagai starter di laga Timnas Indonesia melawan Saint Kitts and Nevis dalam FIFA Series 2026 mencuri perhatian publik. Kemenangan telak 4-0 yang diraih oleh skuad Garuda tak hanya berkat kerja sama tim, tetapi juga karena performa gemilang Dony yang tampil penuh selama 90 menit.

Sebagai pemain muda dengan usia 21 tahun, Dony berhasil memenuhi ekspektasi pelatih John Herdman. Ia diberi tanggung jawab untuk mengisi posisi bek kiri dan tampil sangat solid sepanjang pertandingan. Tidak hanya itu, ia juga aktif membantu serangan, menunjukkan kedewasaan yang luar biasa untuk usianya.

Pelatih Timnas Indonesia, John Herdman, memberikan apresiasi tinggi kepada Dony. Menurutnya, Dony telah membuktikan bahwa ia mampu menghadapi tekanan sebagai pemain termuda di Skuad Garuda. “Apakah pemain muda seperti Dony bisa menangani tekanan itu? Saya pikir dia menunjukkannya malam ini bahwa dia bisa,” ujar Herdman.

Herdman juga memuji penampilan Dony bersama Beckham Putra, yang tampil luar biasa dalam laga tersebut. Ia menyebutkan pentingnya memberikan kesempatan kepada pemain lokal untuk bermain dan mencoba pemain baru. “Kami selalu melihat ke masa depan dan saat ini. Masa depan adalah Piala AFF, di mana kita dapat memberikan kesempatan kepada pemain lokal untuk bermain dan mencoba pememain baru,” jelasnya.

Kisah Sukses Dony Tri Pamungkas

Nama Dony Tri Pamungkas kini semakin mencuri perhatian sebagai salah satu talenta muda terbaik Indonesia. Saat ini, ia membela Persija Jakarta dan bahkan pernah mencetak sejarah sebagai debutan termuda di Liga 1. Bakat sepak bolanya sudah terlihat sejak usia dini, ketika ia mulai belajar di Sekolah Sepak Bola (SSB) Bina Taruna.

Perjalanan karier Dony semakin berkembang ketika pada Oktober 2020 ia mengikuti seleksi Elite Pro Academy (EPA) Persija U-16. Berkat performa impresif, Dony berhasil lolos dan bergabung dengan Persija Academy. Hanya dalam waktu satu tahun, perkembangan pesatnya membuat Dony dipanggil untuk berlatih bersama tim senior pada 2021.

Penampilannya yang konsisten dan matang di usia muda membuatnya direkomendasikan masuk skuad utama. Pada Selasa, 28 September 2021, Dony menjalani debut bersama Persija di ajang Liga 1 Indonesia ketika menghadapi Persita Tangerang. Ia diturunkan oleh pelatih Angelo Alessio saat masih berusia 16 tahun, 8 bulan, dan 17 hari. Catatan tersebut menjadikannya sebagai pemain termuda dalam sejarah Liga 1 sejak kompetisi itu bergulir pada 2017.

Peran Kakak dan Disiplin Tinggi

Di balik performa gemilangnya, perjalanan Dony menuju tim nasional tidak lepas dari peran besar sang kakak, Ari Dwi Santoso. Mantan pemain timnas era 2010–2012 itu menjadi sosok yang menggembleng Dony sejak kecil, menanamkan disiplin dan mental juara.

Dony lahir dan besar di Dukuh Tegalrejo, RT 08, RW 02, Desa Gumukrejo, Kecamatan Teras. Latihan fisik rutin dilakukan setiap pagi dan sore, mulai dari lari hingga berenang di Umbul Pengging. Ketekunan itu meningkat saat ia masuk bangku SMP. Alumni SMPN 3 Teras ini semakin disiplin dalam mengasah fisiknya.

Tidak hanya latihan formal, Dony juga sering mengikuti kompetisi lokal, termasuk turnamen tarkam dan pertandingan antar-desa. Meskipun lahir dari keluarga sederhana dan tinggal bersama sang ibu yang sehari-hari berjualan es degan, tekadnya untuk berlatih tak pernah surut.

Perjalanan Menuju Klub dan Timnas

Ketekunan Dony membuahkan hasil. Ia melenggang ke Jakarta dan berhasil lolos seleksi Persija U16, melanjutkan pendidikan SMA di Ibu Kota, serta kini berstatus mahasiswa di UTP Surakarta. Tidak hanya fokus pendidikan, Dony terus mengasah skill sepak bolanya, hingga akhirnya berhasil menembus timnas U19 dan U23.

Perjalanan ini membuktikan bahwa bimbingan sang kakak, disiplin, dan kerja keras menjadi kombinasi yang sempurna untuk meraih mimpi. Meski kini masuk klub mentereng dan timnas, Dony tetap dikenal rendah hati.

Widiantoro, tetangga Dony, mengungkapkan bahwa Dony masih kerap berkumpul dengan teman masa kecilnya. “Tiap lebaran pulang ke rumah nyekar di makam bapaknya. Tiap pulang selalu srawung sama teman-teman kecilnya. Orangnya biasa saja, kan dari kalangan orang biasa juga. Jadi pulang ya nongkrong sama kami di Hik, biasa saja dia, ya gojekan (Bercandaan) biasa,” tuturnya.

Pencapaian ini menjadi bukti bahwa Dony bukan sekadar pemain muda biasa, melainkan sosok wonderkid yang memiliki masa depan cerah di dunia sepak bola Indonesia.

Muhammad Muhlis

Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *