"Mengabarkan Enrekang, Menginspirasi Negeri"
Budaya  

Dapur Warga Lombok Timur Siap Sambut Lebaran Topat

Tradisi Lebaran Topat di Lombok Timur: Kepulan Asap yang Menghubungkan Generasi

Di tengah kota atau desa-desa kecil di Kabupaten Lombok Timur, menjelang perayaan Lebaran Topat, suasana terasa berbeda. Tidak hanya hiasan ketupat yang menghiasi teras rumah dan sisa-sisa daun kelapa yang menumpuk, tetapi juga kepulan asap yang membubung dari cerobong dapur kayu menjadi tanda bahwa momen sakral seminggu setelah Idul Fitri akan segera tiba.

Di Desa Ketangga, Kecamatan Suela, warga mulai sibuk sejak pagi hari. Bapak-bapak dan pemuda mencari daun kelapa untuk dibuat menjadi ketupat, sementara para ibu-ibu mempersiapkan beras yang akan diisi ke dalam anyaman ketupat tersebut. Proses ini tidak hanya sekadar memasak, tetapi juga menjadi simbol semangat menyambung silaturahmi antar warga.

“Kami sudah mewarisi tradisi ini dari nenek moyang. Lebaran Topat tidak lengkap rasanya kalau tidak ada kepulan asap dari dapur. Apalagi aroma ketupat yang dimasak dengan kayu bakar itu beda, lebih wangi dan bikin kangen,” ujar Rohayum (45), saat ditemui di sela-sela kesibukannya menata ketupat di atas tungku.

Proses memasak ketupat dalam jumlah besar biasanya dimulai sehari sebelum pelaksanaan Lebaran Topat. Di dapur tradisionalnya, terlihat setidaknya ada dua tungku besar yang menyala bersamaan, menghabiskan puluhan ikat ketupat sekaligus. Kepulan asap yang membubung tinggi dari setiap rumah dianggap sebagai penanda bahwa warga siap untuk saling berkunjung dan memaafkan.

“Bukan hanya di dapur saja tempat warga memasak, tapi ada juga warga menghidupkan api di pinggir gang atau di depan halaman rumahnya,” tambah Rohayum.

Makna Mendalam dari Lebaran Topat

Tradisi Lebaran Topat di Lombok, khususnya di wilayah Lombok Timur bagian Utara, memiliki makna yang mendalam. Berbeda dengan perayaan Idul Fitri yang lebih bersifat personal dan keluarga, Lebaran Topat identik dengan kebersamaan lintas kampung. Masyarakat biasanya akan berbondong-bondong menuju masjid untuk melakukan doa bersama, dilanjutkan dengan makan ketupat bersama (berayan).

“Kami lebih menyebutnya lebaran anak-anak, karena diwajibkan bagi anak-anak naik ke masjid untuk tahlil dan doa setelah itu makan bersama,” jelas Rohayum.

Selain memasak ketupat, proses lainnya seperti membuat opor ayam dan telur atau biasa disebut dengan bahasa Sasak “pelalah” juga dilakukan. Kepulan asap ini terlihat dari siang hari hingga malam hari, karena proses pembuatan pelalah harus dilakukan hingga jam 12 malam.

Tradisi yang Tetap Dijaga Meski Zaman Berkembang

Salah satu perantau asal Sumbawa, Sabrun, menyebut bahwa fenomena kepulan asap di dapur warga adalah pemandangan yang selalu dinantikan setiap tahun. Menurutnya, meskipun zaman telah modern dan banyak warga kini menggunakan kompor gas, namun untuk momen Lebaran Topat, tungku kayu tradisional tetap dihidupkan karena menjadi kenangan tersendiri.

“Ini bukan soal ketinggalan zaman, tapi ini tentang menjaga warisan leluhur. Asap itu simbol bahwa rezeki kita berkah, bahwa kita siap menyambut tamu dengan hati yang hangat. Kami sebagai perantau sangat kangen dengan tradisi ini, sebelum selesai lebaran ketupat, kami belum bisa meninggalkan desa ini dan itu memang tradisi kami,” kata Sabrun.

Hingga sore hari, deru asap tipis masih terlihat hingga malam ini membubung dari berbagai sudut desa di Lombok Timur. Puncak perayaan Lebaran Topat sendiri rencananya akan digelar besok pagi dengan pelaksanaan di Masjid Pusaka dan dilanjutkan dengan tradisi kumpul bersama dengan semua keluarga.

“Ini momen kami berkumpul dengan keluarga dan memberikan anak-anak kami ketupat yang berisi telur yang sering kami namakan Topat Telok,” tutupnya.




Amri Nufail

Reporter digital yang menggemari berita olahraga, kegiatan komunitas, dan isu pergerakan anak muda. Ia hobi berlari pagi, bermain badminton, dan menonton pertandingan olahraga. Ketika istirahat, ia menyukai membaca artikel inspiratif. Motto: “Semangat dalam berita harus sama kuatnya dengan semangat di lapangan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *