"Mengabarkan Enrekang, Menginspirasi Negeri"

Kesulitan Nelayan Mendahara Dapatkan BBM Subsidi Saat Tangkapan Tidak Menentu

Nelayan Desa Pangkal Duri Ilir Kembali Beraktivitas Melaut

Setelah merayakan Hari Raya Idulfitri, nelayan di Desa Pangkal Duri Ilir, Kecamatan Mendahara, Kabupaten Tanjung Jabung Timur mulai kembali beraktivitas melaut. Salah satu dari mereka, Haidir (50 tahun), telah kembali membelah ombak pesisir timur Jambi sejak Selasa (24/3/2026). Sebelumnya, ia menghentikan kegiatan tersebut selama sepekan.

Kembalinya aktivitas ini dilakukan setelah para nelayan menyelesaikan perayaan Lebaran yang menjadi kebiasaan tahunan. Meski demikian, para nelayan masih menghadapi tantangan klasik, yaitu sulitnya memperoleh bahan bakar minyak subsidi atau BBM subsidi.

Haidir menjelaskan bahwa dirinya rutin menghentikan aktivitas melaut sejak tujuh hari sebelum Lebaran dan baru kembali bekerja beberapa hari setelahnya. Ia mengatakan:

“Saya biasanya H-7 Lebaran sudah tidak lagi melaut. Nanti mulai lagi menangkap ikan di hari kelima Lebaran.”

Jika cuaca bersahabat, penghasilan yang diperoleh bisa mencapai Rp700 ribu hingga Rp800 ribu per hari. Namun, pendapatan tersebut tidak selalu stabil karena sangat bergantung pada kondisi cuaca di laut. Ketika cuaca memburuk, nelayan memilih tidak melaut demi menjaga keselamatan.

“Kalau ombak besar, tidak sanggup. Selain berbahaya, menarik jaring juga berat,” ujarnya.

Sebagai alternatif, Haidir tetap berusaha mendapatkan hasil tangkapan dengan cara togok atau nogok di sungai, yakni menggunakan jaring yang dipasang dengan pancang tanpa harus melaut.

“Biasanya kalau tidak ke laut, kami cari udang di sungai pakai togok. Jaringnya dipasang, tidak perlu ke laut,” katanya.

Dalam kesehariannya, Haidir berangkat melaut sekitar pukul 06.00 WIB dan kembali sekitar pukul 15.00 WIB, meskipun situasi di lapangan sering berubah. Ia menambahkan, apabila cuaca tiba-tiba memburuk saat berada di laut, dirinya bersama nelayan lain akan mencari lokasi aman seperti sungai atau kawasan terlindung hingga kondisi kembali normal.

“Kalau tiba-tiba cuaca ekstrem, kami cari tempat aman dulu, tunggu sampai gelombang tidak kencang. Kadang bisa pulang sampai malam,” ungkapnya.

Di tengah perjuangan itu, salah satu tantangan utama bagi para nelayan pesisir Jambi adalah sulitnya mendapatkan minyak subsidi di wilayahnya. Haidir mengaku belum pernah memperoleh minyak subsidi di desa tersebut. Untuk memenuhi kebutuhan, ia harus membeli minyak dari daerah lain dengan harga yang lebih murah dibandingkan di desanya.

“Kalau di tempat lain bisa dapat sekira Rp10 ribu per liter, tapi kalau beli di desa bisa sampai Rp13 ribu per liter. Selisihnya lumayan,” jelasnya.

Ibnu Hajar (56), nelayan lainnya, mengungkapkan bahwa hingga saat ini desanya belum memiliki pangkalan resmi solar subsidi. Akibatnya, nelayan harus membeli BBM ke luar desa. Jika stok di luar desa habis, mereka terpaksa membeli dari penjual lokal dengan harga lebih mahal.

“Kami biasanya beli di luar desa, tapi kalau habis terpaksa beli di dalam desa dengan harga Rp12.000 sampai Rp13.000 per liter, lebih mahal dari harga pangkalan sekitar Rp10.000,” katanya.

Kondisi ini semakin memberatkan karena kebutuhan solar untuk melaut tergolong besar. Ibnu Hajar menjelaskan, untuk melaut di sekitar perairan dekat, dibutuhkan sekitar 5 hingga 6 liter solar. Sementara itu, jika melaut hingga ke tengah laut, konsumsi bahan bakar bisa mencapai 10 liter untuk sekali perjalanan pulang pergi.

“Kalau dihitung, sekali melaut bisa habis sekira Rp100.000 untuk solar saja, belum termasuk makan dan keperluan lain,” jelasnya.

Di sisi lain, hasil tangkapan juga sangat dipengaruhi kondisi cuaca. Saat angin kencang dan gelombang tinggi, banyak nelayan memilih tidak melaut karena risiko yang cukup besar.

“Kalau di darat sudah terasa angin kuat, di laut ombak pasti lebih besar. Jadi kami takut melaut,” ungkapnya.

Hal ini turut memengaruhi harga hasil tangkapan yang cenderung berfluktuasi. Untuk udang ketak, misalnya, harga bisa mencapai Rp150.000 per ekor saat cuaca buruk karena sulit diperoleh. Sementara dalam kondisi normal, harganya berkisar Rp40.000 hingga Rp50.000 per ekor.

Untuk jenis ikan lainnya, harga relatif stabil, seperti ikan senangin Rp70.000 per kilogram, kakap Rp60.000 per kilogram, dan bawal kecil Rp40.000 per kilogram.

Meski demikian, hasil tangkapan terkadang hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Namun pada kondisi tertentu, penghasilan nelayan bisa mencapai Rp500.000 hingga Rp700.000 per hari atau bahkan lebih.

“Kadang dapat banyak, kadang tidak sama sekali. Bahkan ada hari hanya cukup untuk makan saja,” ujarnya.

Ibnu Hajar berharap pemerintah segera menyediakan pangkalan solar subsidi di desa mereka agar harga tetap terjangkau dan tidak melebihi Rp10.000 per liter.

“Kami berharap ada solar subsidi di desa kami, supaya biaya melaut tidak terlalu berat. Karena hasil kami juga tidak menentu,” harapannya.

Keluhan serupa juga disampaikan Haidir (50), yang mengaku masih bergantung pada pembelian solar dari luar desa.

“Saya biasanya beli sekitar 7 liter per hari, kira-kira Rp70.000. Kalau sekali melaut bisa habis sampai Rp100.000,” pungkasnya.


Amri Nufail

Reporter digital yang menggemari berita olahraga, kegiatan komunitas, dan isu pergerakan anak muda. Ia hobi berlari pagi, bermain badminton, dan menonton pertandingan olahraga. Ketika istirahat, ia menyukai membaca artikel inspiratif. Motto: “Semangat dalam berita harus sama kuatnya dengan semangat di lapangan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *