"Mengabarkan Enrekang, Menginspirasi Negeri"
Daerah  

Penjelasan KSOP tentang pisang busuk karena antre 24 jam di Bakauheni

Penanganan Antrean di Pelabuhan Bakauheni

Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Bakauheni, Suratno, memberikan penjelasan terkait keluhan sejumlah pengemudi mengenai antrean panjang di pelabuhan, khususnya kendaraan pengangkut pisang yang disebut-sebut mencapai 24 jam. Ia menegaskan bahwa kendaraan pengangkut pisang masuk dalam kategori prioritas sehingga mendapatkan penanganan khusus agar bisa segera diseberangkan.

“Berdasarkan data di lapangan, tidak ada antrean hingga 12 jam apalagi 24 jam. Rata-rata antrean berkisar antara satu hingga tiga jam, tergantung kapasitas angkut,” ujarnya.

Terkait isu adanya buah yang membusuk akibat antrean panjang, Suratno mengaku pihaknya belum menemukan bukti langsung di lapangan. Ia menyebut laporan yang beredar masih belum dapat diverifikasi kebenarannya.

“Kami belum melihat secara fisik adanya barang busuk. Foto atau laporan yang beredar belum menunjukkan kondisi sebenarnya,” katanya.

Suratno memastikan bahwa seluruh operasional penyeberangan terus dipantau secara intensif oleh Media Center Kementerian Perhubungan. Setiap kendala yang muncul akan ditindaklanjuti guna menjaga pelayanan tetap optimal.

“Pemantauan dilakukan secara real-time. Jika ada hambatan, langsung kami laporkan dan tindak lanjuti agar arus penyeberangan tetap lancar,” pungkasnya.

Perbedaan Persepsi Terkait Waktu Antrean

Suratno juga memberikan klarifikasi terkait keluhan masyarakat atas lamanya waktu antrean penyeberangan yang disebut-sebut mencapai 7 hingga 10 jam. Menurut dia, secara teknis operasional, keterlambatan kapal sebenarnya tidak selama yang dirasakan pengguna jasa.

Ia menyebut rata-rata keterlambatan berada di kisaran 5 jam, dihitung dari waktu keberangkatan hingga kapal tiba. Sementara itu, perbedaan persepsi terjadi karena sebagian masyarakat menghitung waktu tunggu sejak tiba di Pelabuhan Ciwandan, bukan sejak kapal mulai beroperasi.

“Kalau dihitung dari sisi operasional kapal, rata-rata keterlambatan sekitar lima jam. Namun masyarakat biasanya sudah menghitung sejak masuk area pelabuhan,” jelasnya.

Faktor Pemicu Keterlambatan

Suratno mengungkapkan, keterlambatan tersebut dipicu oleh sejumlah faktor teknis di lapangan. Salah satunya adalah antrean dermaga akibat tingginya arus kendaraan yang masuk, sehingga kapal harus menunggu giliran untuk bersandar. Selain itu, terdapat pula faktor operasional kapal bantuan baru yang masih dalam tahap adaptasi di lintasan tersebut.

Kapal tersebut sempat harus menunggu atau mengapung selama kurang lebih dua jam karena antrean masuk dermaga. Meski demikian, hingga saat ini pihak KSOP belum menerapkan skema tiba-bongkar-berangkat (TBB). Menurut Suratno, kondisi operasional masih dinilai normal dan terkendali.

Pihaknya juga terus memantau data pemesanan tiket dari ASDP Indonesia Ferry secara real-time. Apabila terjadi lonjakan signifikan, terutama pada periode sore hari, maka skema TBB akan segera diterapkan guna mempercepat sirkulasi kendaraan di dermaga.

“Kami terus monitor. Jika ada peningkatan signifikan, khususnya sore hari, TBB akan langsung diberlakukan,” pungkasnya.

Siagakan 3 Kapal Tambahan

KSOP Bakauheni akan mengoperasikan 31 kapal untuk melayani penyeberangan dari Pelabuhan Bakauheni menuju Pelabuhan Merak dalam arus balik Lebaran 2026. Kepala KSOP Bakauheni Suratno menyebutkan, 31 kapal itu termasuk tiga kapal tambahan.

“Dengan mekanisme yang ada, 28 kapal beroperasi normal dan tiga kapal disiagakan untuk tiga dermaga. Penambahan ini kami lakukan karena kondisi masih landai,” ujar Suratno, Selasa (24/3/2026).

Meski demikian, Suratno mengungkapkan bahwa KSOP telah menyiapkan langkah antisipasi jika terjadi lonjakan penumpang. Salah satunya dengan menambah tiga kapal dan lima kapal khusus di dermaga eksekutif. Selain itu, terdapat dua skema penyeberangan alternatif yang telah disiapkan oleh Kementerian Perhubungan.

Pertama, pengalihan rute dari Pelabuhan Bakauheni menuju Pelabuhan Ciwandan yang akan diberlakukan pada pukul 18.00 WIB hingga 05.00 WIB. Kedua, skema penyeberangan dari Pelabuhan Bakauheni menuju Pelabuhan BBJ Bojonegara. Namun hingga saat ini, kedua skema tersebut belum diterapkan karena arus penyeberangan dinilai masih dalam kondisi normal.

“Seluruh kendaraan masih kami arahkan ke Pelabuhan ASDP Bakauheni. Dua skema tersebut akan diberlakukan jika terjadi lonjakan, khususnya saat puncak pergerakan pemotor yang berpotensi tidak terangkut,” jelasnya.

Strategi Pembagian Peran Antar-Pelabuhan

KSOP Bakauheni bersama instansi terkait terus memantau perkembangan arus penyeberangan guna memastikan kelancaran dan kenyamanan pengguna jasa, khususnya menjelang potensi peningkatan mobilitas. Suratno juga memberikan penjelasan terkait skema operasional penyeberangan di wilayah Bakauheni guna mengantisipasi lonjakan kendaraan, baik angkutan barang maupun penumpang.

Dia menegaskan, strategi pembagian peran antar-pelabuhan menjadi kunci utama untuk menjaga kelancaran arus lalu lintas, khususnya saat terjadi peningkatan volume kendaraan. Menurutnya, Pelabuhan Bandar Bakau Jaya (BBJ) bersama Pelabuhan Sumur Makmur Abadi (SMA) saat ini difokuskan untuk melayani kendaraan non-penumpang atau angkutan barang.

Kebijakan ini diambil untuk memastikan distribusi logistik tetap berjalan lancar dan tidak terhambat. “Logistik menjadi prioritas utama karena menyangkut kebutuhan pasokan. Oleh karena itu, kendaraan barang diarahkan ke pelabuhan khusus agar proses penyeberangan lebih cepat dan efisien,” ujar Suratno.

Pengalihan Fungsi Pelabuhan Wika Beton

Sementara itu, Pelabuhan Wika Beton kini tidak lagi berstatus sebagai pelabuhan tambahan utama. Pelabuhan tersebut dialihkan menjadi pelabuhan kontinjensi yang hanya akan dioperasikan dalam kondisi tertentu, terutama jika kapasitas di pelabuhan ASDP sudah tidak mencukupi. Sebagai langkah antisipasi, pihaknya telah menyiapkan lima kapal yang akan melayani rute dari Wika menuju Ciwandan apabila terjadi pengalihan arus kendaraan.

Arus Balik Lebaran Cukup Landai

Arus balik Lebaran di Pelabuhan Bakauheni terpantau cukup landai. Menurut Executive Director Regional II PT ASDP Indonesia Ferry, Zulvidon, hal ini diduga karena durasi libur Lebaran tahun ini cukup panjang, sehingga masyarakat memiliki keleluasaan untuk kembali ke kota masing-masing secara bertahap.

“Berbeda dengan arus mudik yang biasanya terpusat di beberapa hari menjelang Lebaran, arus balik kali ini terlihat lebih tersebar di berbagai tanggal. Pemudik kini lebih cerdas dalam mengatur jadwal perjalanan untuk menghindari kemacetan,” jelas Zulvidon, Selasa (24/3/2026).

Meski kondisi arus balik saat ini masih terkendali, pihak keamanan dan pengelola pelabuhan tetap siaga. Menurut Zulvidon, ada beberapa langkah antisipasi yang diterapkan. Pertama, kesiapsiagaan penuh. Tim gabungan terus memantau fluktuasi jumlah penumpang yang dapat berubah sewaktu-waktu. Kedua, rekayasa lalu lintas, di mana kepolisian bersama ASDP telah menyiapkan skenario rekayasa lalu lintas jika terjadi lonjakan volume kendaraan secara tiba-tiba. Ketiga, koordinasi antarinstansi. Zulvidon menjelaskan, sinergi antara kepolisian, ASDP, dan BPTD diperkuat untuk memastikan prosedur dijalankan maksimal demi kenyamanan pemudik.

Situasi di lapangan juga menunjukkan pemanfaatan kantong-kantong parkir dan pengaturan antrean kendaraan di pelabuhan berjalan tertib, sehingga memberikan rasa aman bagi para pengguna jasa penyeberangan. Zulvidon mengimbau pemudik untuk tetap memperhatikan protokol keselamatan, mengikuti arahan petugas di lapangan, dan memanfaatkan fasilitas yang tersedia untuk kenyamanan perjalanan.




Bahjah Jamilah

Bahjah Jamilah adalah seorang penulis berita yang menyoroti dunia kuliner dan perjalanan. Ia suka mengeksplorasi makanan baru, memotret hidangan, serta menulis ulasan perjalanan. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca blog kuliner. Motto: “Setiap rasa menyimpan cerita.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *