Polisi Curiga Ambulans Terobos Kemacetan Saat Mudik Lebaran
Satu unit mobil ambulans dikejar dan diberhentikan oleh polisi di kawasan Tasikmalaya, Jawa Barat. Penyebabnya adalah kecurigaan terhadap penggunaan ambulans yang tidak sesuai dengan fungsinya. Ternyata, ambulans tersebut mengangkut rombongan pemudik saat momen arus mudik Lebaran 2026.
Awalnya, mobil ambulans itu menerobos kemacetan di jalan raya Garut. Kejadian ini membuat petugas kepolisian curiga. Mereka langsung melakukan pengejaran dan berhasil menahan mobil ambulans tersebut di kawasan Jalan Raya Cipeundeuy, Kabupaten Tasikmalaya, pada Rabu (18/3/2026) pukul 21.14 WIB malam.
Saat diperiksa, sopir ambulans awalnya mengaku bahwa kendaraan tersebut biasa digunakan untuk mengangkut jenazah. Namun setelah diperiksa lebih lanjut, ternyata mobil ambulans tersebut tidak digunakan sebagaimana mestinya. Di dalam mobil terlihat beberapa orang membawa barang bawaan seperti koper dan bahkan perlengkapan rumah tangga seperti kasur.
Polisi langsung menegur sopir atas tindakannya yang melanggar aturan lalu lintas. “Nah, kan ini mobil bukan peruntukkannya, terlepas mau mudik atau apa, situ pengen prioritaskan tadi nyalip saya, yang lain ngantre,” ujar polisi tersebut.
Sopir mengakui bahwa tujuan perjalanan mereka adalah ke Panjalu, Kabupaten Ciamis. Selain itu, saat diperiksa, kelengkapan kendaraan seperti Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK) mobil ambulans sudah tidak berlaku. Bahkan, sang sopir mengakui tidak memiliki SIM.
Polisi menyebut tindakan sopir ambulans itu nekat karena menerobos jalan di saat situasi jalur padat. Meskipun demikian, mobil ambulans tersebut tetap menyalakan sirine dan rotator agar bisa menerobos antrean. Akhirnya, Satlantas Polres Garut menilang dan menahan mobil ambulans serta sopirnya untuk menjalani pemeriksaan lanjutan.
Video tentang kejadian ini viral dan mendapat beragam komentar dari warganet. Sejumlah netizen mengecam tindakan masyarakat atas peristiwa yang terus terulang tersebut. Beberapa juga meminta agar sopir mobil ambulans itu disanksi untuk memberikan efek jera.
Pemudik Bawa THR Rp 50 Juta Untuk Sanak Saudara
Mulyadi (63) nyaris tidak tidur dalam perjalanan mudik ke kampung halamannya di Sumatera Barat. Bukan karena tidak mengantuk, tapi ia menjaga uang cash Rp 50 juta yang dibawanya dalam perjalanan dari Jakarta. Uang puluhan juta itu sengaja ia bawa untuk THR sanak saudaranya di kampung.
Mulyadi merupakan perantau asal Sumatera Barat yang menjajal lintas Sumatera seorang diri. Ia rela tidak tidur selama dua hari demi tiba di kampung halaman tepat waktu. Ia menggunakan mobil Mitsubishi Xpander miliknya dari kawasan Kebun Jeruk, Jakarta Barat.
Perjalanan panjang Mulyadi menuju tanah kelahiran bersama lima anggota keluarga yang terdiri dari keponakan, istri keponakan, serta tiga cucu. Meski menempuh ribuan kilometer, pria berperawakan tegap dengan baju koko hitam dan peci ini tampak tetap bugar saat beristirahat di jalur ekstrem Sitinjau Lauik.
“Ada enam orang di mobil. Saya yang nyetir sendiri. Alhamdulillah lancar,” ujar Mulyadi saat ditemui di pelataran Masjid Annur Syukur pada Kamis (19/3/2026).
Mulyadi menceritakan bahwa ia tiba di Pelabuhan Merak sekitar pukul 00.00 WIB, lalu menyeberang ke Bakauheni dan sampai pada pukul 02.00 WIB dini hari. Sejak merantau ke Jakarta pada 1990 dan bekerja di bidang ekspedisi pakaian, ia sudah sangat akrab dengan berbagai jalur alternatif di Sumatera untuk menghindari kemacetan.
Selain fisik yang prima, hal lain yang disiapkan Mulyadi adalah dana tunjangan hari raya (THR) untuk dibagikan kepada keluarga besar di kampung halaman. Ia mengaku membawa uang tunai dalam jumlah cukup besar untuk berbagi kebahagiaan bersama sanak saudara dan kerabat di lapau (warung).
“Kalau pulang kampung pas Lebaran, paling sedikit Rp 50 juta saya bawa. Buat THR cucu, ponakan, bantu saudara, sampai traktir kawan di lapau,” kata Mulyadi.
Bagi Mulyadi, berbagi rezeki di kampung halaman memiliki makna spiritual yang mendalam. Ia meyakini bahwa kebiasaan berbagi tidak akan membuatnya merugi, melainkan justru mendatangkan doa-doa baik dari orang-orang di kampung halaman yang terus mengalir untuknya.
“Alhamdulillah, berbagi itu tidak rugi. Doa dari orang kampung itu yang mengalir ke kita,” ujarnya.
Pemudik Asal Pekanbaru Berjalan Kaki Karena Kehabisan Ongkos
Arifin, pemudik asal Pekanbaru, rupanya telah berjalan kaki dari Bekasi ke Karawang karena kehabisan ongkos. Ia mengaku nekat melakukan perjalanan jauh demi menjenguk sang ibu yang sedang terbaring sakit di Surabaya, Jawa Timur.
Dari Sumatera, Pekanbaru mau jenguk ibu yang sakit di Surabaya, kata Arifin di Pos Pengamanan Kaizen pada Kamis. Mendapat kabar ibunya sakit, dengan modal nekat dan berbekal pakaian yang dikemas dalam tas punggung, Arifin pun berangkat dari Riau dan tiba di Jakarta pada Kamis (19/3/2026). Namun, setibanya di Jakarta, uang kantongnya habis.
Ia sempat menumpang kendaraan orang hingga sampai di wilayah Bekasi. Dari sana, karena tidak memiliki biaya lagi, Arifin nekat berjalan kaki menyusuri jalanan hingga memasuki wilayah Karawang.
“Saya berjalan kaki dari Bekasi. Tapi kalau dari Medan ke Bekasi ada tumpangan,” kata Arifin.
Kasi Humas Polres Karawang Ipda Cep Wildan mengatakan, penemuan pemudik yang kehabisan ongkos tersebut bermula saat anggota yang bertugas di pos pengamanan Kaizen melihat seseorang dengan kondisi kelelahan di pinggir jalan. Petugas kemudian menghampiri dan membawanya ke pos.
Setelah dilakukan pemeriksaan dan diajak berdialog, diketahui bahwa saudara kita ini hendak menuju Surabaya namun tidak memiliki ongkos sama sekali. Ia sudah berjalan kaki cukup jauh dari Bekasi hingga memasuki wilayah Karawang.
Mendengar cerita haru Arifin, petugas kepolisian atas perintah Kapolres Karawang AKBP Fiki Novian Ardiansyah langsung mengambil tindakan dengan membelikannya tiket bus menuju Surabaya serta memberikan uang saku. Petugas juga mengantarnya langsung ke Terminal Klari.
“Kami sudah titipkan yang bersangkutan kepada kru PO bus agar dipastikan sampai ke tujuan dengan aman. Ini adalah bentuk pelayanan prima dan sisi kemanusiaan Polri dalam Operasi Ketupat, agar semua masyarakat bisa merayakan Idul Fitri bersama keluarga,” kata Wildan.
Arifin pun tidak bisa menahan haru atas bantuan tersebut. Ia tak henti mengucapkan terima kasih yang mendalam kepada jajaran Polres Karawang sebelum melanjutkan perjalanannya menggunakan bus.
Pihak kepolisian mengimbau pemudik agar tidak memaksakan diri jika mengalami kendala dan segera melapor ke pos polisi terdekat.
Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”










