"Mengabarkan Enrekang, Menginspirasi Negeri"

Investasi KEK Tembus Rp336 Triliun, RI Siap Buka 6 Kawasan Baru



JAKARTA — Pemerintah akan segera memberikan status Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) untuk enam kawasan baru. Saat ini, total investasi kumulatif di 25 KEK telah mencapai Rp336 triliun dengan penyerapan tenaga kerja sekitar 249.000 orang sejak dibentuk pada tahun 2012 hingga 2025.

Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso mengatakan pemerintah meyakini kehadiran KEK menjadi daya tarik investor di tengah ketidakpastian ekonomi global. Hal ini karena kawasan tersebut menawarkan kepastian usaha melalui kemudahan perizinan, layanan insentif, serta dukungan infrastruktur yang terintegrasi bagi pelaku industri.

“Ada enam KEK yang saat ini PP-nya sedang menunggu penandatanganan dan relatif tersebar dari sisi bidang usahanya juga tersebar,” kata Susi kepada wartawan di sela-sela agenda Iftar Media Gathering Dewan Nasional KEK, Kamis (12/3/2026).

Sektor dengan Potensi Tinggi

Sektor-sektor yang memiliki nilai tambah tinggi sekaligus menyerap banyak tenaga kerja akan difasilitasi untuk berkembang di KEK. Dengan kepastian regulasi dan fasilitas yang tersedia, investasi di kawasan tersebut diperkirakan memiliki potensi pertumbuhan yang lebih tinggi dibandingkan wilayah lainnya.

Selain itu, berbagai perjanjian perdagangan seperti ASEAN Trade in Goods Agreement (ATIGA), Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA), serta Free Trade Agreement (FTA) juga dinilai dapat mendorong masuknya industri berorientasi ekspor ke dalam KEK. Perjanjian tersebut membuka akses pasar global yang lebih luas sehingga meningkatkan permintaan terhadap produk industri yang diproduksi di kawasan tersebut.

Realisasi Investasi di KEK

Plt Sekretaris Jenderal Dewan Nasional KEK Rizal Edwin Manansang mengatakan realisasi investasi di kawasan tersebut terus meningkat. Pada 2025 saja, investasi yang masuk ke KEK mencapai Rp82,6 triliun atau sekitar 98% dari target, dengan tambahan penyerapan tenaga kerja 88.541 orang.

“KEK merupakan kebijakan strategis pemerintah untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi nasional sekaligus menarik investasi asing langsung atau FDI,” ujar Rizal dalam agenda Media Gathering Sekjen Dewan Nasional KEK, Kamis (12/3/2026).

Saat ini Indonesia memiliki 25 KEK yang terdiri dari 13 KEK industri, enam KEK pariwisata, dua KEK kesehatan, satu KEK digital, dua KEK pendidikan dan teknologi, serta satu KEK jasa perawatan pesawat.

Dia menerangkan, menurut kajian Prospera dan LPEM UI, keberadaan KEK mampu meningkatkan daya tarik investasi daerah. Wilayah yang memiliki status dan fasilitas KEK dapat menarik investasi hingga 77% lebih tinggi dibandingkan wilayah tanpa KEK.

“Pada KEK industri, investasi asing langsung bahkan bisa mencapai sekitar 179% lebih tinggi dibandingkan wilayah non-KEK,” tuturnya.

Efek Ekonomi Turunan

Selain menarik investasi, aktivitas industri di dalam kawasan juga memicu efek ekonomi turunan seperti pertumbuhan sektor logistik, perdagangan, konstruksi, dan jasa penunjang di wilayah sekitar.

Dalam kesempatan yang sama, Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS Edy Mahmud mengatakan pemerintah mulai melakukan pendataan langsung aktivitas perusahaan di KEK sejak 2025 untuk melihat dampaknya terhadap perekonomian nasional. Pendataan tersebut mencakup nilai produksi, biaya produksi, belanja modal, serta penyerapan tenaga kerja perusahaan di dalam kawasan.

“Tujuan dibentuknya KEK adalah untuk meningkatkan investasi hingga ratusan triliun rupiah, mempercepat pembangunan, menyerap tenaga kerja, serta mempermudah perdagangan komoditas antarnegara,” ujarnya.

Pertumbuhan Signifikan di KEK Kendal

Berdasarkan survei triwulan IV 2025, total penambahan aset atau investasi di KEK mencapai Rp15,1 triliun dalam satu triwulan. Investasi terbesar tercatat di KEK Sei Mangkei sebesar Rp4,349 triliun dan KEK Kendal sebesar Rp3,067 triliun.

Dari sisi pasar, sekitar 58% pendapatan produksi perusahaan di KEK berasal dari ekspor, sementara 42% berasal dari pasar domestik. “Ini menunjukkan banyak produk bernilai tambah yang dihasilkan di KEK ditujukan untuk pasar global,” ujar Edy.

Selain itu, struktur bahan baku industri di kawasan juga mulai didominasi pasokan domestik. Sekitar 58% bahan baku berasal dari dalam negeri, sementara sisanya masih impor.

Salah satu kawasan yang menunjukkan pertumbuhan signifikan adalah KEK Kendal di Jawa Tengah yang berfokus pada industri manufaktur seperti furnitur, makanan dan minuman, otomotif, tekstil, dan fashion.

Direktur Eksekutif KEK Kendal Juliani Kusumaningrum mengatakan sejak memperoleh status KEK pada 2019, kawasan tersebut telah menarik komitmen investasi kumulatif Rp187 triliun. Pada 2025, realisasi investasi mencapai Rp14,29 triliun dari pelaku usaha dan Rp1,4 triliun dari badan usaha pengelola kawasan.

“Realisasi tersebut bahkan mencapai sekitar 189% dari target yang dijanjikan hingga 2024,” ujarnya.

Jumlah perusahaan yang beroperasi di kawasan juga meningkat menjadi 139 perusahaan, sementara penyerapan tenaga kerja mencapai sekitar 19.000 orang, melampaui target awal sebesar 11.000 pekerja.

Dampak ekonomi kawasan juga terlihat pada kinerja daerah. Pertumbuhan PDRB Kabupaten Kendal meningkat dari minus 1,51% pada 2020 menjadi 8,84% pada 2025, disertai penurunan tingkat pengangguran serta peningkatan pendapatan per kapita masyarakat.

“KEK Kendal diharapkan menjadi motor penggerak pengembangan ekonomi, tidak hanya bagi Kabupaten Kendal tetapi juga bagi Jawa Tengah dan Indonesia,” pungkasnya.

Amri Nufail

Reporter digital yang menggemari berita olahraga, kegiatan komunitas, dan isu pergerakan anak muda. Ia hobi berlari pagi, bermain badminton, dan menonton pertandingan olahraga. Ketika istirahat, ia menyukai membaca artikel inspiratif. Motto: “Semangat dalam berita harus sama kuatnya dengan semangat di lapangan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *