Cinta yang Terkubur di Bawah Batu-Batu Megalitikum
Rian, seorang pemuda dari kasta Azi, menghadapi cinta yang tak bisa direngkuh. Di tengah keindahan alam Bajawa, ia jatuh cinta pada Maria, putri tunggal dari keluarga bangsawan Ga’e Meze. Mereka bertemu saat perayaan Reba, sebuah pesta adat panen yang penuh dengan tarian dan aroma daging babi yang lezat.
Maria tampak seperti dewi dengan kain Thobi tenunan halusnya dan hiasan kepala yang anggun. Namun, bagi keluarga Maria, cinta bukan sekadar perasaan. Mereka memandang Rian sebagai orang dari kasta rendah yang tidak layak untuk menikahi putrinya. Dalam pertemuan adat yang kaku, para tetua dari pihak Maria menetapkan tuntutan: Rian harus menyediakan puluhan ekor kerbau dan kuda dengan kriteria tertentu.
Bukan karena tamak, tapi karena “turun kasta” adalah aib yang tak termaafkan bagi leluhur mereka. Jika Rian menikahi Maria tanpa memenuhi Belis itu, maka keduanya akan dihina dan diusir dari rumah adat mereka. Rian terdiam, ia tahu bahwa di Bajawa, pernikahan bukan hanya tentang dua orang, tapi tentang menyatukan dua klan.
Satu bulan kemudian, kabar itu sampai ke telinga Rian. Maria akan dipinang oleh seorang pemuda dari kasta yang setara, seorang anak kepala suku dari desa tetangga. Malam sebelum pernikahan itu, Rian datang ke batas kampung. Maria menunggunya dengan mata sembab. “Pergilah, Rian,” kata Maria pelan. Ia memberikan sepotong kain tenun sederhana yang ia beli dari hasil keringatnya sendiri.
Pesta pernikahan Maria berlangsung meriah. Suara gong dan gendang bertalu-talu memenuhi lembah Bajawa. Rian mendengarnya dari jauh, dari kebun kopinya yang sepi. Ia melihat asap membumbung dari dapur rumah adat, tanda kerbau-kerbau besar telah dikurbankan. Ia tahu, Maria kini telah menjadi milik adat, milik garis keturunan yang tak tersentuh.
Persiapan sudah hampir matang. Rian telah berusaha mengumpulkan apa yang ia bisa, namun dalam rembuk adat (Wela Kila) yang terakhir, tembok kasta itu tetap tak bisa diruntuhkan. Para tetua dari pihak Maria memutuskan secara sepihak: Pernikahan dibatalkan. Bagi mereka, menerima Rian yang seorang Azi adalah bentuk penghinaan terhadap darah murni leluhur yang mengalir di tubuh Maria.
Di dalam Sa’o (rumah adat) yang remang, Maria bersujud di kaki ayahnya. Ia memohon agar cinta mereka diberi celah. Namun, sang ayah hanya menatap lurus ke arah pintu. “Maria, kau adalah emas bagi keluarga ini. Jika kau bersanding dengan perunggu, maka lunturlah seluruh harga diri klan kita. Pernikahan ini batal. Besok, keluarga dari klan Ga’e yang setara akan datang meminangmu.”
Kalimat itu seperti palu yang menghantam dada Maria. Di luar rumah, Rian yang datang membawa harapan terakhirnya, diusir secara halus oleh para pemuda kampung. Ia pulang dengan langkah gontai, meninggalkan impian yang hancur berkeping-keping.
Setelah Maria resmi menjadi istri orang lain, hidup Rian seolah berhenti berputar. Berikut adalah gambaran kepedihan Rian menjalani hari-harinya setelah kehilangan Maria karena perbedaan rang.
Hari-hari setelah pesta pernikahan itu adalah siksaan yang sunyi bagi Rian. Di kampung sekecil Bajawa, melupakan seseorang adalah hal yang mustahil. Setiap kali Rian pergi ke pasar untuk menjual hasil kopinya, ia selalu didera kecemasan. Suatu sore, ia melihat Maria dari kejauhan. Maria sedang berjalan bersama suaminya yang baru laki-laki kasta Ga’e itu. Maria tampak sangat anggun dengan kain tenun mahal, namun matanya tetap layu.
Tak ada sapaan. Adat telah membangun tembok yang lebih tinggi dari Gunung Inerie di antara mereka. Setiap pulang dari kebun, Rian selalu melewati pohon bambu tempat mereka dulu berjanji. Ia sering terduduk di sana sendirian hingga senja menghilang. Ibunya pernah menghampirinya dan memegang pundaknya lembut. “Rian, lepaskanlah. Dia sudah menjadi Ina (ibu) bagi klan lain. Jika kau terus begini, kau hanya akan menyiksa leluhurmu sendiri.”
Rian hanya menatap tanah. “Mak, apakah darah Azi yang mengalir di tubuhku ini begitu kotor sehingga aku tidak pantas mendapatkan bahagia?” Pertanyaan itu tidak pernah terjawab. Ibunya hanya bisa memeluknya sambil menangis dalam diam.
Rian melampiaskan seluruh rasa sakitnya pada kerja keras. Ia mencangkul tanah lebih dalam, memetik kopi lebih banyak, seolah-olah dengan menjadi kaya ia bisa menghapus noda kastanya. Namun, ia tahu, sebanyak apa pun harta yang ia kumpulkan, di mata para tetua, ia tetaplah pemuda yang tak punya “gelar” di silsilah keluarga.
Tahun-tahun berlalu, dan rasa sakit itu telah mengeras menjadi tekad yang membaja. Rian tidak lagi meratapi nasibnya di bawah pohon bambu. Ia merantau, membawa sedikit modal dari hasil kebun kopinya yang ia kerjakan dengan cucuran keringat siang dan malam. Di tanah rantau, Rian bekerja seperti orang yang kehilangan rasa lelah.
Ia mengerti bahwa dalam dunia modern, pendidikan dan kesuksesan finansial adalah kekuatan baru yang bisa menandingi kasta lama. Ia menjadi pengusaha kopi sukses yang mengekspor aroma bumi Flores hingga ke mancanegara. Rian kembali ke Bajawa bukan lagi sebagai pemuda miskin yang diusir dari pelataran rumah adat. Ia kembali dengan martabat yang ia bangun sendiri.
Ia membangun rumah yang megah, namun tetap menghormati struktur adat, hingga para tetua yang dulu memandangnya sebelah mata kini mulai menaruh hormat. Suatu hari, dalam sebuah acara syukuran di kota, Rian bertemu kembali dengan Maria. Namun, Maria tidak sendiri. Ia datang bersama sahabat karibnya sejak kecil, bernama Clara.
Clara adalah wanita yang cantik, cerdas, dan memiliki tutur kata yang lembut. Berbeda dengan Maria yang terikat oleh beban sejarah kasta keluarganya, Clara adalah sosok yang lebih terbuka dan selalu mengagumi perjuangan Rian dari jauh—bahkan sejak Rian masih bukan siapa-siapa.
Maria, yang kini hidup dalam pernikahan kasta yang kaku dan penuh tuntutan formalitas, hanya bisa menatap Rian dengan tatapan penuh penyesalan. Ia melihat Rian yang dulu ia tinggalkan kini telah menjadi laki-laki yang matang dan berwibawa. Kedekatan Rian dan Clara tumbuh dengan cepat. Clara bukan hanya sekadar teman Maria, ia adalah wanita yang memahami visi Rian.
Saat Rian menyatakan niatnya untuk meminang Clara, seluruh kampung gempar. Rian menyiapkan Belis (mahar) yang jauh lebih besar dari apa yang pernah diminta keluarga Maria dulu. Bukan untuk pamer, tapi untuk menunjukkan bahwa seorang Azi pun bisa mengangkat martabat wanita yang dicintainya setinggi langit.
Maria hadir sebagai tamu. Ia berdiri di sudut tenda, menyaksikan sahabatnya sendiri bersanding dengan laki-laki yang dulu sangat ia cintai. Ada pedih yang menusuk, melihat Clara mengenakan kain tenun yang jauh lebih indah, pemberian dari Rian.
Rian berdiri gagah. Ia tidak lagi menunduk. Saat matanya bertemu dengan mata Maria, tidak ada lagi dendam. Hanya ada rasa syukur bahwa luka lama telah menuntunnya pada kesuksesan dan pada wanita yang benar-benar ditakdirkan untuknya.
Rian akhirnya menikah dengan Clara dalam pesta yang paling meriah yang pernah disaksikan oleh orang-orang di kampung itu. Ia membuktikan bahwa meski adat menetapkan rang, kerja keras dan ketulusan bisa menciptakan takdir baru.
Maria pulang ke rumahnya yang dingin, menyadari bahwa ia memiliki “kasta”, tapi Clara memiliki “bahagia”. Rian telah memenangkan hidupnya, meninggalkan masa lalu sebagai kenangan di bawah bayang-bayang Gunung Inerie, dan memulai lembaran baru dengan wanita cantik yang menghargainya bukan karena darahnya, melainkan karena jiwanya.
Seorang jurnalis digital yang terbiasa bekerja cepat dalam merangkum informasi penting menjadi berita yang mudah dipahami. Ia aktif menulis tentang gaya hidup, komunitas kreatif, dan isu keseharian. Hobi memasak dan mencoba resep baru membuatnya semakin peka pada detail. Motto: "Menulis adalah seni memahami manusia.











