"Mengabarkan Enrekang, Menginspirasi Negeri"
Budaya  

Sejarah Candi Tegowangi: Peninggalan Majapahit dengan Relief Sudamala

Sejarah dan Keunikan Candi Tegowangi

Candi Tegowangi terletak di Desa Tegowangi, Kecamatan Plemahan, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Candi ini merupakan salah satu peninggalan Kerajaan Majapahit yang diperkirakan dibangun sekitar tahun 1400 Masehi. Candi ini memiliki peran penting dalam sejarah kerajaan tersebut, khususnya sebagai tempat pendharmaan Bhre Matahun, tokoh penting yang masih memiliki hubungan keluarga dengan Raja Hayam Wuruk.

Pendharmaan adalah tradisi yang dilakukan untuk memuliakan atau mengenang tokoh kerajaan yang telah wafat. Dalam Kitab Pararaton, disebutkan bahwa Candi Tegowangi digunakan sebagai tempat pendharmaan Bhre Matahun. Sementara itu, dalam Kitab Negarakertagama yang ditulis oleh Mpu Prapanca, diketahui bahwa Bhre Matahun meninggal pada tahun 1388 M. Berdasarkan tradisi pada masa itu, pembangunan candi biasanya dilakukan sekitar 12 tahun setelah kematian tokoh tersebut. Dengan demikian, diperkirakan Candi Tegowangi diresmikan sekitar tahun 1400 M, bertepatan dengan pelaksanaan upacara sraddha, yaitu ritual penghormatan terhadap arwah tokoh kerajaan.

Struktur Bangunan dan Relief Cerita Sudamala



Secara umum, Candi Tegowangi memiliki bentuk bangunan berdenah bujur sangkar dengan ukuran sekitar 11,2 meter x 11,2 meter dan tinggi sekitar 4,35 meter. Bangunan candi menghadap ke arah barat. Pondasi candi terbuat dari bata, sedangkan bagian kaki dan sebagian tubuh bangunan tersusun dari batu andesit. Struktur candi terdiri dari kaki dua tingkat dengan ornamen hias yang cukup detail.

Pada setiap sisi kaki candi terdapat panel tegak yang dihiasi figur raksasa atau gana yang digambarkan dalam posisi jongkok dengan kedua tangan terangkat, seolah-olah menopang bangunan candi. Salah satu daya tarik utama Candi Tegowangi adalah relief cerita Sudamala yang terpahat di sekeliling tubuh candi. Relief tersebut berjumlah 14 panel yang tersebar di sisi utara, barat, dan selatan bangunan.

Relief cerita Sudamala mengisahkan tentang proses pensucian Dewi Durga yang awalnya digambarkan dalam wujud buruk dan jahat, kemudian kembali menjadi Dewi Uma yang suci setelah diruwat oleh Sadewa, salah satu tokoh Pandawa. Cerita ini mencerminkan kepercayaan Hindu pada masa itu dan menjadi salah satu nilai budaya yang terkandung dalam candi ini.

Fungsi Candi Tegowangi sebagai Tempat Pendharmaan

Selain memiliki nilai arsitektur yang khas, Candi Tegowangi juga memiliki fungsi penting dalam kehidupan keagamaan masyarakat pada masa Majapahit. Menurut penjelasan dalam Kitab Negarakertagama, candi ini difungsikan sebagai tempat pendharmaan Raja Watsari, yang merupakan nama lain dari Bhre Matahun. Tradisi pendharmaan dalam kebudayaan Hindu-Buddha di Nusantara dilakukan untuk menghormati tokoh kerajaan yang telah meninggal dunia. Biasanya, tokoh tersebut dipuja melalui pembangunan candi sebagai tempat pemujaan.

Di dalam bilik candi ditemukan sebuah yoni dengan cerat berbentuk naga. Keberadaan yoni ini menunjukkan bahwa Candi Tegowangi memiliki latar belakang keagamaan Hindu. Selain itu, di sekitar halaman candi juga ditemukan beberapa arca, seperti arca Parwati Ardhanari dan arca Garuda berbadan manusia. Temuan tersebut semakin memperkuat bahwa candi ini berkaitan dengan tradisi keagamaan Hindu pada masa Majapahit.

Destinasi Wisata Sejarah yang Ramai Dikunjungi

Saat ini, Candi Tegowangi tidak hanya menjadi situs sejarah, tetapi juga berkembang sebagai destinasi wisata edukatif yang menarik di Kabupaten Kediri. Kawasan candi kini semakin tertata dan banyak dikunjungi wisatawan setelah mengalami perbaikan pengelolaan dalam beberapa tahun terakhir. Pengunjung dapat datang setiap hari mulai pukul 08.00 hingga 17.00 WIB tanpa dikenakan biaya tiket masuk. Hal ini menjadikan Candi Tegowangi sebagai tempat wisata sejarah yang terjangkau bagi masyarakat.

Kawasan candi juga telah dilengkapi beberapa fasilitas, seperti pagar pembatas, toilet, mushala, serta gazebo untuk beristirahat. Area di sekitar candi yang asri dengan pepohonan membuat pengunjung merasa nyaman saat berada di lokasi. Tidak hanya menjadi tempat wisata, Candi Tegowangi juga sering digunakan sebagai lokasi kegiatan seni dan budaya, seperti festival tari dan pertunjukan seni tradisional. Bahkan, beberapa pengunjung dari luar daerah datang untuk berdoa maupun belajar sejarah di kawasan tersebut.

Dengan nilai sejarah dan budaya yang dimilikinya, Candi Tegowangi menjadi salah satu situs penting yang mencerminkan kejayaan Kerajaan Majapahit sekaligus warisan budaya yang perlu dijaga dan dilestarikan.

Kaila Azzahra

Penulis berita yang menggemari liputan ringan seputar tren, hiburan, dan dunia kreatif. Ia hobi mendengarkan musik pop, membuat catatan ide, dan memotret suasana kota. Menurutnya, kreativitas lahir dari rasa bahagia. Motto: "Tulislah apa yang bisa memberi senyum."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *