"Mengabarkan Enrekang, Menginspirasi Negeri"
Daerah  

Siapa Kapten Miswar? Kapten Kapal yang Hilang di Selat Hormuz dengan Cita-Cita Mulia

Kabar Hilangnya Kapten Kapal Asal Luwu di Selat Hormuz

Kabar duka kembali menyelimuti keluarga dan masyarakat Desa Pattedong, Kecamatan Ponrang Selatan, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan. Seorang kapten kapal asal daerah tersebut, Capt Miswar Maturusi, dilaporkan hilang di kawasan Selat Hormuz saat memimpin kapal tugboat Musaffah 2. Kejadian ini menimbulkan rasa sedih mendalam bagi seluruh keluarga yang merindukan kehadirannya.

Di balik pengabdiannya selama puluhan tahun di dunia pelayaran, Miswar ternyata memiliki rencana besar untuk masa depannya. Ia ingin meninggalkan dunia pelayaran dan beralih ke dunia pendidikan. Rencana ini bukan sekadar wacana, tetapi sudah dipersiapkan sejak beberapa waktu lalu.

Menempuh Pendidikan demi Rencana Masa Depan

Menurut Sumarlin Ahmad (21), anggota keluarga korban, keputusan Miswar untuk pensiun bukan tanpa alasan. Setelah puluhan tahun bekerja di laut, ia ingin memasuki fase baru dalam hidupnya dengan berbagi ilmu kepada generasi muda. Rencana tersebut bahkan sudah mulai dipersiapkan dengan menempuh pendidikan sebagai bekal untuk mengajar.

“Beliau sempat kuliah juga. Rencananya setelah pensiun dan dananya sudah cukup, beliau ingin berhenti berlayar dan fokus mengajar,” ujar Sumarlin.

Miswar ingin menjadi dosen atau mengajar-mengajar begitu. Itu rencana yang sering disampaikannya kepada keluarga. Pengalaman yang dimiliki Miswar memang tidak sedikit. Selama lebih dari dua dekade, ia telah meniti karier di sektor pelayaran hingga dipercaya menjadi kapten kapal.

Sosok Pekerja Keras dan Tulang Punggung Keluarga

Di mata keluarga, Miswar dikenal sebagai sosok pekerja keras yang selalu memprioritaskan masa depan keluarga. Ia menjadi kepala keluarga yang menanggung kebutuhan istri serta dua anaknya. Istri korban diketahui bernama Marliani Ahmad, sementara dua anaknya adalah Muhammad Qiratul Miswar dan Muhammad Hayatullah Miswar.

Tidak hanya menafkahi keluarga inti, Miswar juga dikenal sering membantu pendidikan kerabat. “Beliau juga membantu menyekolahkan anak-anak dari sepupu dan keponakannya,” imbuhnya.

Anak pertamanya telah berhasil meraih cita-cita menjadi anggota kepolisian dan kini bertugas di Polda Sulawesi Selatan. “Anak pertamanya sudah jadi polisi di Polda Sulsel,” ujarnya.

Komunikasi Terakhir Sebelum Hilang

Komunikasi terakhir dengan keluarga terjadi pada Rabu lalu. Saat itu, Miswar masih sempat berbicara dengan istrinya sebelum memulai perjalanan kerja. “Beliau sempat menyampaikan kepada istrinya bahwa akan melakukan perjalanan menuju lokasi kerja,” jelas Sumarlin.

Keesokan harinya, sekitar pukul 13.00 Wita, Miswar diketahui masih sempat membuka pesan dari anaknya melalui aplikasi percakapan. Namun pesan tersebut tidak sempat dibalas. “Pesannya sempat dibaca, tetapi tidak sempat dibalas. Setelah itu sudah tidak ada lagi kabar,” terangnya.

Keluarga baru mengetahui kabar mengenai insiden tersebut pada Jumat pagi sekitar pukul 10.00 Wita setelah dihubungi oleh rekan korban. “Informasi awal yang kami terima, kapal yang dinakhodai beliau diduga terkena ranjau laut,” ungkapnya.

Informasi Insiden Masih Beragam

Hingga saat ini, keluarga masih menerima berbagai versi informasi mengenai kejadian yang menimpa kapal yang dipimpin Miswar. Ada informasi yang menyebut kapal Musaffah 2 sedang dalam perjalanan menuju pelabuhan Abu Dhabi untuk proses evakuasi. Namun ada pula yang menyatakan kapal tersebut sedang menuju lokasi perbaikan.

“Informasi yang kami dengar ada beberapa versi. Ada yang mengatakan kapal itu akan dievakuasi ke pelabuhan Abu Dhabi, ada juga yang mengatakan kapal itu dibawa untuk diperbaiki,” ujar Sumarlin.

Dalam perjalanan tersebut, disebutkan ada dua kapal yang berangkat bersamaan, yakni Musaffah 2 dan Musaffah 1. “Musaffah 2 berangkat lebih dulu, sementara kapal yang satunya lagi di belakang,” kata dia.

Namun kapal kedua dilaporkan tidak melanjutkan perjalanan setelah diduga menerima kabar bahwa kapal yang dinakhodai Miswar hilang kontak.

Harapan Keluarga

Keluarga berharap Pemerintah Indonesia melalui perwakilan diplomatik di luar negeri dapat membantu proses pencarian korban dan memberikan informasi yang jelas mengenai situasi yang terjadi. Menurut Sumarlin, pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) telah menghubungi keluarga untuk meminta data terkait korban.

“Ada dari pihak KBRI yang menelepon menanyakan alamat lengkap keluarga dan mengatakan akan memberi informasi jika ada perkembangan,” katanya.

Keluarga berharap pencarian terhadap korban dapat dilakukan secepat mungkin. “Kami berharap pencarian bisa dipercepat dan korban bisa segera ditemukan,” ujar Sumarlin.

Meski demikian, keluarga mengaku siap menerima apa pun hasil dari proses pencarian tersebut. “Walaupun harapan terbesar kami tentu beliau bisa ditemukan dalam kondisi selamat,” kata Sumarlin.

Bagi keluarga, rencana Miswar untuk segera pensiun dan mengabdikan diri di dunia pendidikan menjadi kenangan sekaligus harapan yang kini tertunda. Saat ini, keluarga hanya bisa menunggu kabar sambil terus berdoa agar Miswar dapat ditemukan.

Dian Sasmita

Penulis yang memulai karier dari blog pribadi sebelum akhirnya bergabung dengan media online. Ia menyukai dunia tulis-menulis sejak sekolah. Hobinya adalah traveling, membaca novel klasik, dan membuat jurnal harian. Setiap perjalanan dan interaksi manusia selalu menjadi bahan inspirasinya. Motto: "Setiap sudut kota punya cerita yang patut dibagikan."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *