JAKARTA – Indonesia masih menghadapi beberapa tantangan utama dalam pengembangan sektor logam tanah jarang. Tantangan ini mencakup masalah data cadangan dan teknologi pengolahan yang belum optimal.
Ketua Umum Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi), Sudirman Widhy, menjelaskan bahwa saat ini Indonesia belum memiliki data cadangan mineral logam tanah jarang. Ia menekankan bahwa data tersebut merujuk pada informasi mengenai volume mineral logam tanah jarang yang sudah layak secara ekonomis untuk diolah.
Sudirman menyampaikan bahwa saat ini Indonesia hanya memiliki data mengenai keberadaan potensi logam tanah jarang. Contohnya adalah keberadaan potensi logam tanah jarang yang terdapat dalam limbah sisa olahan komoditas timah di Bangka Belitung atau potensi kandungan logam tanah jarang yang diduga ada di wilayah Mamuju, Sulawesi Barat.
“Masih diperlukan proses eksplorasi yang lebih detail seperti melakukan pengeboran [drilling] guna menentukan estimasi perhitungan sumber daya dan cadangan dari potensi mineral logam tanah jarang seperti yang disebutkan,” ujar Sudirman.
Selain itu, ia juga menyebut bahwa Indonesia belum memiliki industri pengolahan dan pemurnian untuk mineral logam tanah jarang. Hal ini membuat kehadiran investor dari negara yang memiliki teknologi tersebut, seperti China dan Amerika Serikat (AS), menjadi penting.
Dia berharap kehadiran para investor dapat membawa investasi dan teknologi untuk membangun industri pengolahan dan pemurnian logam tanah jarang di Indonesia. “Mereka bukan hanya sekadar menambang dan membawa bahan mentah logam ke negara masing-masing untuk diolah di sana,” jelas Sudirman.
Perhapi juga meminta pemerintah untuk mengembangkan sektor logam tanah jarang secara maksimal. Menurut Sudirman, meskipun potensi kandungan logam tanah jarang yang dimiliki Indonesia relatif kecil, tetap harus diupayakan untuk diolah.
Menurutnya, logam tanah jarang merupakan kebutuhan industri yang sangat vital dan strategis, seperti pada sektor semikonduktor dan militer. Oleh karena itu, proses pengolahan mineral logam tanah jarang harus dipastikan tetap dilakukan oleh pihak Indonesia sendiri.
“Penunjukan Badan Industri Mineral maupun BUMN Perminas untuk pengelolaan mineral tanah jarang di Indonesia oleh pemerintah menurut kami merupakan hal yang sudah tepat guna memastikan agar ini [logam tanah jarang] tidak dimanfaatkan sepenuhnya oleh pihak asing tanpa adanya kontrol dari pemerintah Indonesia,” kata Sudirman.
Potensi Menjanjikan
Di sisi lain, Deputi Bidang Sistem dan Tata Kelola Badan Industri Mineral (BIM), Julian Ambassador Shiddiq, menilai pengembangan sektor logam tanah jarang Indonesia memiliki potensi yang cukup besar.
“Dari data yang kita miliki saat ini, Indonesia punya potensi sumber daya yang menjanjikan,” ujar Julian.
Namun, Julian juga menyebut bahwa Indonesia masih akan menghadapi tantangan dari sisi teknologi. Ia menjelaskan bahwa teknologi ekstraksi logam tanah jarang saat ini cenderung terbatas karena hanya dikuasai oleh beberapa negara.
Untuk mengatasi tantangan tersebut, Julian menyebut bahwa pemerintah telah memiliki beberapa pilot plan logam tanah jarang. Rencana tersebut akan digunakan sebagai dasar pengembangan teknologi untuk mendukung sektor logam tanah jarang RI.
Ia juga menyebut bahwa sejumlah negara telah menawarkan kerja sama untuk teknologi ekstraksi logam tanah jarang. Meski demikian, Julian tidak memerinci negara-negara yang telah menawarkan bantuannya kepada Indonesia.
“Sudah ada beberapa negara yang menawarkan kerja sama teknologi ekstraksi logam tanah jarang di Indonesia yang sekarang sedang uji karakterisasi bahan baku. Negara mana saja [yang menawarkan kerja sama] belum bisa saya sebut,” kata Julian.
Penulis online yang antusias mendalami topik kesehatan dan gaya hidup. Ia rutin mengikuti webinar, membaca jurnal kesehatan, dan menulis catatan pribadi tentang pola hidup seimbang. Hobi lain yang ia tekuni adalah membuat smoothie dan meditasi. Motto: "Informasi adalah alat untuk hidup lebih baik."











