Ramadan: Bulan Literasi yang Perlu Dihidupkan Kembali
Ramadan sering kali dikaitkan dengan ritual-ritual keagamaan seperti shalat tarawih, tadarus Al-Qur’an, dan berbuka puasa bersama. Namun, di balik aktivitas tersebut, terdapat potensi besar yang sering kali luput dari perhatian. Ramadan sejatinya adalah bulan yang paling kondusif untuk menghidupkan budaya literasi.
Perintah pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW adalah Iqra (bacalah!). Wahyu perdana ini turun di bulan Ramadan. Isyarat mendalam ini menunjukkan bahwa membaca, berpikir, dan mencari ilmu adalah inti dari spiritualitas Islam itu sendiri. Dengan demikian, Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan haus, tetapi juga menahan diri dari kemalasan intelektual.
Dalam ayat Al-Qur’an yang turun paling awal, yaitu Al-Alaq 1-5, terdapat dua poin penting. Selain Iqra, terdapat kata qalam yang berarti menulis. Perintah ini menjadi dasar bagi pengembangan budaya literasi dalam Islam. Bukan sekadar membaca Al-Qur’an, tetapi juga sebuah manifesto peradaban yang menempatkan aktivitas intelektual sebagai bagian dari kehidupan Muslim.
Iqra’ dan Makna Membaca yang Mendalam
Iqra’ (bacalah!) tidak hanya sekadar membaca teks, tetapi juga membaca secara kritis, memahami konteks, dan menyaring makna. Perintah ini turun di bulan Ramadan, menjadi deklarasi bahwa literasi adalah fondasi peradaban. Secara teologis, ada alasan kuat untuk menyebut Ramadan sebagai bulan literasi.
Al-Qur’an yang diturunkan pada bulan ini disebut sebagai Nuzulul Qur’an. Artinya, Ramadan adalah bulan di mana “Bacaan” (al-qur’an secara harfiah berarti bacaan atau yang dibaca) hadir ke dunia. Tidaklah berlebihan jika dikatakan bahwa Ramadan adalah bulan kelahiran budaya baca. Tradisi Islam pun kaya akan budaya literasi. Para ulama besar seperti Imam Al-Ghazali, Ibnu Sina, dan Al-Biruni adalah contoh nyata dari para pembaca dan penulis yang produktif.
Di Sulawesi, tradisi literasi sudah tertanam sejak lama. Misalnya, Tradisi Massure’ adalah sebuah kesenian yang mengiringi pembacaan manuskrip La Galigo. Tradisi lisan ini masih dilestarikan oleh passure’ (pembaca) tetua adat hingga saat ini dalam beberapa kegiatan kebudayaan. Aksara Lontara, yang merupakan sistem tulisan tradisional utama di Sulawesi Selatan, juga menjadi produk pengetahuan yang mengarah pada literasi.
Momen untuk Menghidupkan Budaya Literasi
Dalam konteks di atas, Ramadan bisa menjadi momentum untuk merawat dan menghidupkan kembali tradisi literasi Islam. Membaca Al-Qur’an, membaca buku, membaca realitas sosial, membaca tantangan zaman, dan membaca diri sendiri adalah hal-hal yang bisa dilakukan selama bulan ini.
Namun, data literasi Indonesia menunjukkan angka yang memprihatinkan. Studi PISA dan riset lain menempatkan kemampuan membaca pelajar Indonesia di bawah rata-rata negara-negara. Indonesia juga kerap menempati posisi rendah dalam indeks minat baca global. Meski faktor-faktor seperti akses buku dan infrastruktur pendidikan perlu dipertimbangkan, situasi ini tetap menjadi alarm yang tidak bisa diabaikan.
Indonesia adalah negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, sekitar 87 persen dari 270 juta penduduknya beragama Islam. Sebuah bangsa yang hidupnya diikat oleh ajaran Iqra, malah menghadapi krisis minat baca yang serius. Di sisi lain, pengguna internet Indonesia mencapai ratusan juta orang, dan rata-rata menghabiskan waktu berjam-jam per hari menatap layar ponsel. Namun, apakah aktivitas digital ini bisa disebut literasi?
Paradoks Literasi di Indonesia
Indonesia saat ini berada dalam kondisi paradoks literasi yang kompleks. Di satu sisi, masyarakat menjadi salah satu pengguna media sosial terbesar di dunia. Di sisi lain, kemampuan teknis mengoperasikan gawai tidak berbanding lurus dengan kemampuan mengolah informasi. Masyarakat yang literat lahir dari kebiasaan membaca. Dan Ramadan, dengan segala keistimewaan spiritualnya, bisa menjadi titik balik membangun kebiasaan itu.
Penguatan literasi dilakukan pada Ramadan karena bulan ini memiliki ekosistem sosial yang unik. Orang-orang berkumpul di masjid, pengajian, dan majelis ilmu. Rutinitas sahur dan buka puasa bersama menciptakan ruang-ruang diskusi yang hangat.
Menuntut Ilmu sebagai Kewajiban
Tantangan literasi Indonesia bukan semata-mata persoalan teknis tentang berapa banyak buku yang dibaca. Ia adalah persoalan kebudayaan dan spiritual; yang lebih dalam, dengan menerjemahkan nilai-nilai spiritual ke dalam praktik intelektual yang produktif.
Nabi Muhammad SAW pernah bersabda bahwa menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap Muslim. Kewajiban itu tidak terbatas pada bulan Ramadan, tetapi Ramadan bisa menjadi titik balik, momentum untuk membangun kebiasaan yang kemudian berlanjut sepanjang tahun.











