Bank Indonesia Memantau Dampak Perang Iran dan AS-Israel
Bank Indonesia (BI) saat ini sedang memperhatikan dampak dari konflik yang terjadi antara Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel. Konflik ini telah mengguncang dunia dan menjadi perhatian utama BI dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah serta mendukung pertumbuhan ekonomi di tengah ketidakpastian global.
Deputi Gubernur BI Aida S Budiman menyampaikan bahwa BI melihat pertumbuhan ekonomi global sedang bergerak dinamis namun penuh ketidakpastian. Secara fundamental, kondisi ekonomi dunia masih dalam tren perlambatan. Ia juga menyoroti bahwa sebelumnya BI sedang memantau bagaimana suku bunga Fed Fund Rate (FFR) akan turun atau kapan akan turun. Namun, situasi tersebut kini semakin kompleks dengan munculnya tensi geopolitik akibat konflik antara AS, Israel, dan Iran.
Tiga Channel yang Diperhatikan BI
Aida menjelaskan bahwa BI memiliki tiga channel utama yang menjadi fokus dalam memantau perkembangan indikator terkini:
-
Harga Komoditas
BI memperhatikan harga komoditas, terutama minyak mentah dunia. Kenaikan harga minyak diperkirakan akan memengaruhi biaya transportasi dan lainnya. Selain itu, BI juga mengamati harga emas dan pangan, karena keduanya juga bisa memberikan dampak signifikan terhadap stabilitas ekonomi. -
Pasar Keuangan
BI akan terus melakukan upaya stabilisasi nilai tukar rupiah dengan intervensi di pasar keuangan. Hal ini dilakukan untuk menghadapi risiko tinggi yang berasal dari ketidakpastian global. BI akan terus memantau nilai tukar secara langsung dan melakukan intervensi melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri maupun transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik. -
Volume Perdagangan
Volume perdagangan juga menjadi salah satu faktor penting yang dipantau BI. Perubahan dalam volume perdagangan dapat memengaruhi pertumbuhan ekonomi, inflasi, dan data ekonomi lainnya. BI tetap berkomitmen untuk menjaga stabilitas ekonomi, termasuk dalam hal inflasi dan nilai tukar.
Respons BI dalam Menghadapi Ketidakpastian Global
BI akan terus hadir di pasar melalui berbagai intervensi dan kebijakan yang dirancang untuk meningkatkan efektivitas transmisi kebijakan suku bunga. Dalam rapat Dewan Gubernur bulanan, BI akan memberikan respons kebijakan yang lebih utuh terkait situasi yang sedang terjadi.
CORE: Konflik AS-Iran Bisa Picu Defisit APBN
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet memperkirakan bahwa defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 bisa melebar hingga Rp 200 triliun akibat konflik antara AS dan Iran. Menurut Yusuf, dua kanal utama yang memengaruhi APBN adalah kenaikan harga minyak dan pelemahan nilai tukar rupiah.
Kenaikan harga minyak dapat meningkatkan pendapatan negara, terutama dari sektor migas dan PNBP. Namun, belanja negara jauh lebih besar karena tambahan subsidi dan kompensasi energi. Setiap kenaikan harga minyak sebesar 1 dolar AS per barel dapat meningkatkan belanja negara sekitar Rp 10,3 triliun, sementara pendapatan hanya naik sekitar Rp 3,5 triliun. Akibatnya, defisit bisa melebar sekitar Rp 6,8 triliun.
Selain itu, pelemahan rupiah juga memberikan tekanan tambahan terhadap APBN. Pelemahan rupiah meningkatkan belanja negara, terutama untuk subsidi energi dan pembayaran kewajiban dalam valuta asing. Setiap pelemahan rupiah sebesar Rp 100 per dolar AS dapat meningkatkan belanja negara sekitar Rp 6,1 triliun, sementara pendapatan hanya naik sekitar Rp 5,3 triliun. Dengan demikian, defisit tetap melebar sekitar Rp 0,8 triliun.
Dalam skenario yang lebih berat, jika rupiah melemah hingga Rp 1.500, maka tambahan tekanan terhadap defisit bisa mencapai sekitar Rp 12 triliun.
Rusmawan adalah seorang penulis berita online yang serbabisa dalam menguraikan berbagai peristiwa menjadi berita yang jelas dan ringan. Ia suka membaca opini, melakukan riset pendek, dan membuat rangkuman harian. Di waktu senggang, ia menikmati musik instrumental. Motto: “Informasi yang baik dimulai dari niat yang baik.”











