Sejarah dan Signifikansi Candi Singosari
Candi Singosari adalah salah satu peninggalan penting dari Kerajaan Singhasari yang dibangun sebagai tempat pendharmaan Raja Kertanegara, raja terakhir yang wafat pada tahun 1292. Candi ini mencerminkan kejayaan kerajaan yang pernah menguasai sebagian besar wilayah Nusantara. Meskipun kini hanya tersisa sebagai situs sejarah, candi ini tetap menjadi saksi bisu perjalanan politik dan spiritual kerajaan besar di Jawa Timur abad ke-13.
Lokasi dan Keunikan Candi
Candi Singosari terletak di Desa Candirenggo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, sekitar 12 kilometer dari pusat Kota Malang ke arah utara. Lokasinya berada di lembah antara Pegunungan Tengger dan Gunung Arjuna, dengan ketinggian sekitar 512 mdpl. Candi ini dibangun sebagai bentuk penghormatan kepada Raja Kertanegara, yang dikenal menganut ajaran Buddha Tantrayana namun tetap mengakomodasi unsur Siwa-Buddha.
Candi ini memiliki struktur yang terdiri dari empat bagian utama: batur (teras), kaki candi (burloka), badan candi (bualoka), dan puncak (sualoka). Pembagian ini mencerminkan kosmologi Hindu-Buddha tentang alam bawah, tengah, dan atas. Bagian atas candi bercorak Hindu Siwa, sedangkan bagian bawah menunjukkan pengaruh Buddha.
Asal Usul Kerajaan Singhasari
Nama asli kerajaan ini sebenarnya adalah Kerajaan Tumapel. Ibu kota pertamanya berada di Kutaraja sebelum kemudian dikenal luas dengan nama Singhasari. Kerajaan ini didirikan pada 1222 M oleh Ken Arok yang bergelar Sri Ranggah Rajasa Bhatara Sang Amurwabhumi. Menurut Kitab Pararaton dan Kakawin Nagarakretagama, Ken Arok berhasil mengalahkan Kerajaan Kadiri dalam pertempuran di Genter dan memproklamasikan berdirinya Tumapel.
Singosari sejatinya adalah nama ibu kota yang kemudian lebih populer dibandingkan nama Tumapel. Nama tersebut mulai dikenal luas ketika Raja Wisnuwardhana mengangkat putrinya, Kertanegara, sebagai yuwaraja dan mengganti nama pusat pemerintahan menjadi Singhasari. Puncak kejayaan kerajaan terjadi pada masa pemerintahan Raja Kertanegara, yang wilayah kekuasaannya mencakup Bali, Sunda, Kalimantan, Sumatra hingga kawasan Selat Malaka.
Namun, kejayaan itu berakhir setelah serangan Jayakatwang yang menewaskan Kertanegara dan mengakhiri riwayat Kerajaan Singhasari.
Candi sebagai Tempat Pendharmaan
Sebagaimana disebutkan dalam Kitab Nagarakretagama pupuh 37:7 dan 38:3, Candi Singosari disebut sebagai tempat pendharmaan Raja Kertanegara. Candi ini diduga dibangun untuk memuliakan arwah sang raja setelah wafat akibat serangan dari Gelang-gelang yang dipimpin Jayakatwang. Diperkirakan pembangunan dilakukan sekitar 1268–1292 M pada masa pemerintahan Kertanegara, meskipun ada pendapat yang menyebut pembangunan dilanjutkan hingga 1304 oleh pendukung dinasti Singhasari.
Bangunan candi memiliki luas sekitar 14 x 14 meter dengan tinggi mencapai 17 meter. Relief yang menghiasi dinding candi berjumlah delapan dengan motif tumbuhan dan ornamen khas Hindu-Buddha. Di sekitar kompleks juga ditemukan arca-arca bercorak Siwa, memperkuat dugaan bahwa candi ini memiliki fungsi religius penting pada masanya.
Penemuan dan Pemugaran
Candi Singosari ditemukan pada 1803 oleh Nicolaus Engelhard, seorang pejabat Belanda yang menjabat sebagai gubernur pantai timur laut Jawa. Saat ditemukan, kondisi candi sudah rusak dan hanya berupa tumpukan batu saja. Pemugaran dilakukan oleh Dinas Purbakala Hindia-Belanda pada 1934–1937. Proses pembangunannya menggunakan teknik menumpuk batu andesit hingga ketinggian tertentu, lalu diukir dari bagian atas ke bawah.
Meski menjadi ikon sejarah Malang, perawatan candi dinilai masih perlu perhatian lebih. Dana pemeliharaan sebagian berasal dari kunjungan wisatawan.
Nilai Sejarah dan Warisan Budaya
Hingga saat ini, Candi Singosari masih digunakan sebagai tempat peribadatan umat Hindu, terutama saat perayaan Hari Raya Nyepi. Hal ini menunjukkan bahwa fungsi spiritual candi tetap hidup di tengah masyarakat modern. Peninggalan Kerajaan Singhasari tidak hanya berupa candi, tetapi juga prasasti seperti Prasasti Mula Malurung serta candi lain seperti Candi Kidal dan Candi Jago.
Namun, Candi Singosari tetap menjadi simbol utama kejayaan kerajaan tersebut. Keberadaannya tidak hanya menjadi bukti arsitektur masa lampau, tetapi juga cerminan dinamika politik, sosial, dan keagamaan pada masa Kerajaan Singhasari. Perpaduan unsur Hindu dan Buddha menunjukkan adanya toleransi dan sinkretisme yang kuat pada masa itu.
Dengan nilai sejarah yang tinggi, Candi Singosari menjadi pengingat penting akan kejayaan peradaban Nusantara. Melestarikan situs ini bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga seluruh masyarakat agar warisan budaya tersebut tetap terjaga untuk generasi mendatang.
Rusmawan adalah seorang penulis berita online yang serbabisa dalam menguraikan berbagai peristiwa menjadi berita yang jelas dan ringan. Ia suka membaca opini, melakukan riset pendek, dan membuat rangkuman harian. Di waktu senggang, ia menikmati musik instrumental. Motto: “Informasi yang baik dimulai dari niat yang baik.”











